Gadis Itu Bernama Angelia Part 1

Kusnadi el-Ghezwa
Langit dengan arakan awan yang berjajar begitu luas, tersinari cahaya matahari yang tampaknya mulai bergulir ke balik bumi, sinarnya kuning, merah dan indah. Sore yang cerah namun tak secerah hatiku menuntun langkah kakiku menyusuri tepian pantai kota Tangier, berharap semoga menemukan sesuatu yang mampu memberiku inspirasi dan kedamaian dalam jiwaku.

Dari kejauhan, mataku menatap bangunan-bangunan yang berdiri megah dan kubah masjid yang berlatarkan laut Atlantik. Aku mencoba menyusuri kembali ingatanku akan wajah pantai ini yang telah lama tidak aku singgai hampir dua tahun lamanya.

Dua setengah tahun yang lalu, pantai ini menjadi saksi bisu pertemuanku dengan seorang gadis asal Prancis yang sedang menghabiskan waktu liburannya selama setengah bulan di kota ini. Ia berbadan langsing dan berambut pirang, pandangan matanya tajam serta raut wajahnya terlihat menyenangkan. Namun sayang, sekarang aku tidak tahu lagi seperti apa batang hidungnya. Bayangan wajahnyapun sudah rapuh dari ingatanku, yang masih kusimpan rapi darinya adalah kartu namanya yang berwarna putih dengan dihiasi ukiran bunga ditiap sudutnya.

Dulu ia hanya bilang bahwa suatu saat pasti akan kembali lagi mengunjungi kota yang menyimpan sejarah sebelum 5 masehi ini. Dan seandainya sudah berada dipantai ini ia berjanji akan menghubungiku untuk meneruskan perbincanganku yang pada waktu itu ia berjanji akan membantuku supaya mendapatkan beasiswa ke Prancis. Semoga saja Tuhan mempertemukanku kembali dengan gadis itu sehingga mimpiku untuk mneruskan kuliah ke Prancis bisa menjadi kenyataan.

Sesekali udara sore itu berhembus dengan kencang mengempaskan gundukan-gundukan pasir lembut yang berada dibibir pantai. Yang terlihat beda dari pantai ini tak ada lagi sampah-sampah yang ikut berterbangan dengan pasir, sepnjang pantai terlihat bersih dan kelihatannya pemerintah mulai perhatian dengan menaruh tempat sampah di samping pantai yang berdekatan dengan diskotik dan café.

Kelihatannya kota ini sedang menjadi kota yang mengalami perkembangan yang sangat cepat dan modernisasi. Proyek-proyek, termasuk diantaranya hotel-hotel berkelas bintang 5 berjejer dengan megahnya di sepanjang teluk kota Tangeir menghiasi pantai ini. Semua proyek yang serba baru ini, di antaranya kawasan bisnis modern yang disebut Tangeir City Center, Ibnu Bathuta Air Port, stadion sepak bola dan yang paling fenomenal adalah pelabuhan Internasional Tanger-Mediterrania sebagai lini utama sektor ekonomi yang paling menjanjikan dari kota Tangeir.

Kota ini dulunya di bangun oleh koloni Kartago pada abad ke-5 sebelum masehi dan mendapatkan kemajuannya setelah masuknya pasukan Islam ke kota tersebut. Dari Tangeir lah asal mula penyebaran islam sampai ke Eropa pada abad pertama hijriyah dengan Tarik Bin Ziyad sebagai panglima perangnya saat itu.

Di kota ini pula terdapat seorang pemuda yang merelakan hidupnya pada hembusan angin yang membawanya kemana pun ia singgah. Napak tilas perjalanannya menempatkannya sebagai penjelajah dunia terbesar yang dimiliki peradaban Islam dan dunia. Ia bernama Ibnu Battuta.

Anak muda dari Tangeir ini, di pagi hari yang dingin, pada tahun 1349 dengan menunggangi kuda kesayangannya kembali menuju gerbang kota Tangier di pantai Afrika Utara. Bagi Ibnu Battuta, ini adalah akhir dari perjalanan jauhnya. Ketika ia meninggalkan rumahnya di Tangier hingga tiga puluh tahun lamanya yang mana sebelumnya ia tidak pernah merencanakan sebuah perjalanan yang sedemikian jauh dan lamanya.

Dari perjalanan panjanagnya Ia telah berhasil mengunjungi Afrika Utara dan Barat, Eropa Selatan dan Timur, Timur Tengah, India, Asia Tengah, Cina hingga Indonesia di Asia Tenggara. Kisah pengembaraannya Ia tuangkan dalam buku yang di beri judul dengan, Rihla Ibn Battouta ( Perjalanan Ibn Battota ).

Yah..itu adalah sekilas tentang perjalannya yang telah diabadikan dalam buku-bukunya dan banyak diperbincangkan oleh para sejarawan dunia karena berhasil meraih gelar sang penjelajah dunia. Bukan bagian dari perjalananku, bapakku, kakekku, temanku ataupun guruku. Namun setidaknya aku bangga bisa terdampar di tanah kelahirnya, karena disnilah aku terus termotivasi dengan semangat perjuangannya menaklukan dunia untuk mengikuti jejaknya. Tentunya bukan jejak perjalanannya yang telah mengitari dunia tapi, bagaimana aku bisa menuliskan semua yang ada didunia ini dan diabadikannya dalam tumpukan buku yang berjilid-jilid dan dibaca oleh setiap orang. Seperti perjalanannya Ibnu Batutah yang telah dibukukan hingga tak pernah lapuk dan punah oleh derasnya hujan dan panasnya matahari.



Bersambung part II...

0 Komentar