Gadis Itu Bernama Angelia Part 2

Oleh: Kusnadi el-Ghezwa*
Meski udara semakin dingin dan gumpalan awan hitam mulai menyatu diatas langit aku tetap terus berjalan hingga meenmukan bangku kecil yang terletak agak jauh dari pantai disisi jalan kecil. Dikanan kirinya terdapat pohon-pohon rindang yang hanya tinggal berjajar beberapa batang, sebelumnya tidak, namun rupanya penduduk setempat telah menebang sebagian batang pohon demi keselamatan para pengemudi dijalan kecil itu. Karena akhir-akhir ini pohon-pohon yang tua itu tumbang tiba-tiba.

Disamping jalan terlihat sepasang pemuda dan pemudi berjalan cepat menuju mobil pribadinya setelah lama bermesraan dipantai ini. Seorang kakek tua berjubah kumuh dengan sabarnya menghentikqn gerobak dagangannya ditepi pantai, kelihatannya ia baru mulai melakukan aktifitasnya sebagai pedagang tetap di dekat pantai. Agak jauh darinya terlihat pula seorang wanita cantik berbadan tinggi dengan rambut yang sedikit terurai terlihat sedikit cemas dengan memencet-mencet hp ditangannya dengan keras. 

Sementara aku kembali membuka buku catatan kecil di sakuku dan mengambil sebatang pena kesayangan yang selalu kubawa saat jiwa ini akan berkata, maka dengan cepat pena menuliskan isi jiwa itu, sebuah puisi, cerpen, kritikan ataupun kekagumanku pada yang telah aku lihat.Dengan memakai jaket aku lebih nyaman, tubuhku bisa terlindungi dari rasa angin sore yang semakin dingin.

Sebelum-sebelumnya, aku tidak pernah menuangkan imanjinasi atau pengalaman yang kudapat ke dalam sebuah tulisan. Kalaupun menulis biasanya aku simpan didalam diary, sehingga tidak seorangpun yang mengetahui karena khawatir ada yang mengejek tulisanku. Namun setelah mendengar penyampaian bapak DUBES RI Untuk Kerajaan Maroko H. Tosari Widjaja semuanya berubah seratus delapan puluh derajat. Beliau mengatakan bahwa untuk menjadi seorang yang terkenal itu ada dua syaratnya kalau tidak pandai dan pintar dalam berbicara maka harus bisa membuat karya tulisan yang bisa diterima dan dinikmati oleh masyarakat luas. 

Mulai saat itulah aku mulai memberanikan diri dengan segala kekuranganku untuk lebih giat menulis walaupun sejak sekolah dasar aku belum pernah mempunyai bakat menulis. Usai menulis biasanya aku share ke catatan facebookku atau kedalam bloggerku, agar bisa dibaca oleh orang lain dan mau memberikan kritikan atau masukan demi perbaikan kuwalitas tulisanku. Kritkan dan saranpun masuk bertubi-tubi kedalam email dan ada juga yang langsung menulisnya dibawah catatanku, dari situ aku semakin tau letak kekuranganku. Hingga ahirnya aku memberanikan diri untuk mengirm tulisan-tulisanku ke berbagai media online dan mengikutkannya ke dalam kompetisi yang ada di internet.

Walaupun, tak ada satupun kompetisi yang memberikan kesempatan padaku untuk menjadi pemenang. Aku tetap optimis. Semangat. Pantang menyerah. Aku tetap berkarya. Karena bagiku, yang terpenting adalah aku telah mencoba dan berusaha mengeluarkan seluruh kemampuanku secara maksimal. Karena aku berniat untuk mengarang buku atau novel, sehingga aku harus tetap berlatih mengasah kemampuanku ini.

Perjuangan itu kelihatannya tidak sia-sia, saat ini banyak sekali tulisan-tulisanku yang dimuat di media elektronik terkemuka baik di Indonesia maupun di Maroko. Aku merasa bangga sekali tatkala artikelku di muat di media Hespress milik Maroko yang mana media ini sangat terkenal dan berpengaruh sekali. Bahkan ada salah satu temen saya tyang mengatakan bahwa media hespress adalah media nomer wahid di Maroko.

Tak terasa senja telah mnghilang dari peraduannya dan tergantikan oleh awan hitam dan berubah menjadi malam, sementara kertas yang kupegang masih tetap kosong dan pena yang ada ditangan kananku pun belum aku ayunkan sama sekali. Entah kenapa hingga malam menjelang aku belum menemukan inspirasi yang mampu menggerakan penaku menulis kisah-kisah baru yang ada disekitarku.

'' Tutt tut,,,,tut tutt…." Tiba-tiba suara nada dering hp ku bergetar, kulihat nomernya kelihatannya baru karena tak ada namanya dan belum pernah masuk sebelumnya.

Akupun langsung mengangkatnya.

"Haloo.. ya ini siapa ??".. kataku.

"Ini saya Angelia.. apa kamu masih ingat aku??"

"Angelia yang mana??" jawabku..

" Yang dulu pernah bertemu di pantai Tangeir dua setengah tahun yang lalu..".

" Ooo.. Angelia ..ya aku ingat sekarang.. bagaimana kabarmu??"..tanyaku girang..

" I'm fine and you??"..

"I'm fine too"..

" Ok..sesuai dengan janjiku besok aku akan menemuimu ditempat pertamakali kita bertemu, ada berita gembira buat kamu tentang beasiswa yang kamu inginkan"..jelasnya..

"Really.??.."

" Yes of course..tapi jangan lupa sesuai dengan janjimu kau harus mentraktirku nanti hehehe…"

" Oke don’t worry.. aku pasti akan menepati janjiku"..

" Okey kalau begitu sampai ketemu besok yah..".

" Ya,, thank you so much Angelia and see you tomorrow"..

Begitulah percakapan singkatku dengan gadis Prancis yang bukan beragama islam namun sangat perhatian dan suka menolong dengan siapapun bahkan dengan orang islam sekalipun. Yang aku salut dan mungkin perlu ditiru oleh teman-temanku semuanya adalah sifatnya yang baik hati dan selalu menepati janji sementara aku sendiri yang katanya orang muslim namun sering mengingkari janji terhadap saudaranya sendiri baik disengaja maupun tidaka disengaja.

Untuk mengenang pertamakalinya aku bertemu dengannya aku langsung membuka kembali kartu namanya yang kuselipkan didalam dompetku, kucocokkan nomer telphon yang baru masuk dengan nomer yang tercantum dikartu namanya. Ternyata benar itu adalah nomernya, saya saja yang lupa belum menyimpannya kedalam hpku. Tanpa pikir panjang, segera ku ayunkan penaku untuk mengabadikan kebaikannya dan kabar gembira ini dengan mengemasnya menjadi sebuah cerpen yang kuberi judul Angelia..ya gadis itu bernama Angelia.. terimakasih Tuhan kau telah mengabulkan permintaanku, semoga aku bisa meneruskan kuliahku ke Prancis. Amien.



Kusnadi El-Ghezwa, mahasiswa universitas Ta'limul 'Atiq Imam Nafie-Tangeir.

0 Komentar