MANTRA

Oleh:
Agus Ghulam Ahmad Mashum*

Rasanya sia-sia saja gelar dokter yang didapatkan Suryo setelah bergelut bertahun-tahun di bidangnya, praktek sana-sini, ujian bolak-balik sampai akhirnya cukup untuk dipanggil pak dokter. Gelar lengkapnya dr. Suryo Prabowo, Sp.PD. Bukan waktu yang singkat untuk mencapai gelar tersebut, Suryo mengenyam pendidikan S1 tidak kurang dari tujuh semester, setelah lulus, ia mengambil spesialis penyakit dalam, sembilan semester lamanya. Setelah banting tulang, peras keringat, korban uang, dengan harapan dapat menolong orang-orang sekitar dan membantu menyehatkan masyarakat, Suryo akhirnya membuka praktek di tempat asalnya.


Awalnya ia pikir dengan bermodalkan embel-embel gelar dokter dan spesialisasinya segala urusan akan kelar. Tapi sudah sebulan ini Suryo hanya sekedar dokter lepas alias pengangguran. Padahal papan nama di depan rumah telah dituliskan “buka 24 jam”, tapi itupun belum cukup menarik minat masyarakat setempat untuk berkunjung. Sebab musababnya adalah rumah dipojok gang itu, jaraknya sekitar satu kilometer dari tempat praktek Suryo. Sebulan yang lalu, seorang bapak tua pindah ke rumah itu, menurut desas-desus yang beredar, bapak tua itu merupakan mantan abdi Sri Sultan Hamengkubuwono, entah kabar dari mana, yang jelas masyarakat setempat sudah terlanjur mengimani. Memang gayanya cocok jika dibilang seperti itu, setiap hari pakaiannya tidak lepas dari setelan hitam-hitam lengkap dengan blankon yang nangkring anteng di ubun-ubunnya. Kumisnya tebal, hitam kelam, kalau tersenyum kedua ujung kumisnya ikut tertarik keatas macam celurit. Orang-orang biasa memanggilnya Ki Amang, Suryo sendiri tak mau memanggil dengan menyertakan nama depan Ki, langsung saja ia panggil Amang seenak gundulnya.


Suryo masih garuk-garuk kepala melihat dengan mata kepalanya sendiri perilaku masyarakat di tempatnya. Sebagai kalangan akademisi, Suryo selalu mengedepankan logika dan hal-hal yang realistis. Untuk itulah ia mengambil jalur dokter. Karena menurutnya obat itu nyata, dan khasiatnya juga dirasakan. Resep itu ada, dan racikannya teruji. Tapi tampaknya logika masyarakat masih sulit dimengerti untuk dokter sepertinya. Lihat saja, lapangan pekerjaannya direbut oleh seorang yang mengaku mantan abdi Kesultanan Yogyakarta itu, yang tak jelas asal-usulnya. Padahal Suryo sendiri asli kelahiran Klaten, bahkan dulu yang membantu kelahirannya adalah seorang dukun beranak di desa Gedaren, mbok Sri namanya. Memang setelah lulus SD Suryo diboyong ke Jakarta oleh orang tuanya yang pengusaha itu. Dan baru kembali ke Klaten setelah menyelesaikan spesialisasinya di Jogja.

“tapi kan semestinya orang-orang kampung lebih percaya ke aku. Wong aku ini asli Gedaren. Sampean yo ngerti to?” curhat Suryo ke Wawan, tukang ojek yang mangkal di depan rumahnya.



“iyo ngerti”

“lah ya itu, tapi kok orang sekampung bisa manut ke Amang edan itu, wong ndak jelas darimana asalnya, main buka praktek aneh-aneh”

“hush! Ki Amang, ndak sopan manggil yang lebih tua langsung nama itu. Ndak baik!”

“emang kamu tahu orang itu lebih tua dari aku? Tampangnya aja yang tua, siapa tahu kalo dia masih perjaka. Orang gak ada yang tahu!” mata Suryo hampir melotot menyelesaikan kalimatnya.



“wes sabar Sur, ndak baik marah-marah itu. Cepet tua. Lagian salah kamu juga toh, ngapain buka praktek dokter disini. Orang-orang sini dari dulu juga masih percaya mitos, takhayul, pamali, kuwalat. Kita yang lahir disini harusnya tau dong. Buka praktek tuh disana, di Jakarta, Surabaya, jauh-jauh pokoknya. Ngapain balik lagi ke Gedaren”



Suryo hanya diam, malas mendengarkan celoteh teman SDnya dulu itu, ia sibuk menghabiskan sisa pisang gorengnya yang masih hangat ditangan.

“hmm, emang kamu ndak bisa niru Ki Amang tah Sur? Ngobatin pasien pake komat-kamit, bawang merah-bawang putih, sembur air garam. Kalo perlu sekalian bakar kemenyan Sur, pake baju item-item, terus panjangin itu kumis”

“goblok! Kamu itu udah ikut-ikutan edan juga Wan! Aku iki dokter, bukan dukun!”



“aku kan cuma kasih saran. Barangkali nanti rame tempat praktekmu ini, bisa buat beli pisang goreng yang banyak nanti uangnya!”

“Assalamu’alaikum, mohon maaf mas numpang tanya” tiba-tiba ada yang memotong pembicaraan. Rupanya seorang ibu-ibu berselendang, menggendong anak laki-laki di belakangnya.

“Wa’alaikum salam, oh iya bu, mau tanya apa ya?” Wawan menjawab cepat, nalurinya sebagai tukang ojek berkata ibu itu membawa rejeki.

“ini anak saya udah tiga hari demam, badannya meriang, katanya di desa sini ada yang bisa ngobatin. Namanya Ki Amang? Mas tahu?”

“oh tahu bu. Monggo saya antar”

“terima kasih mas”

Pisang goreng tiba-tiba dingin seketika di lidah Suryo. Kemudian yang tadi rasanya manis terasa hambar di mulut. Suryo bahkan tak sempat menoleh ke arah Wawan dan ibu-ibu tadi yang perlahan menjauh dari depan rumahnya menuju Ki Amang. Harga dirinya sudah habis, harga dirinya sebagai dokter sirna sudah.



Hanya dalam waktu seminggu rumah Ki Amang semakin diramaikan pengunjung. Setelah tersebar kabar bahwa Ki Amang mampu mengobati orang dari luar desa, namanya kian pamor kemana-mana. Orang-orang mulai berdatangan dari berbagai penjuru. Minggu pertama masih mencakup desa Gedaren dan sekelilingnya, lama-lama kian hari orang-orang yang berdatangan mulai merambat lebih jauh. Ada yang datang dari Boyolali, Surakarta sampai Yogyakarta. Awalnya berita tentang keampuhan Ki Amang hanya menyebar lewat mulut ke mulut. Pertama kali nama Ki Amang dilirik warga, saat ia mengobati anak tetangganya. Ketika dibawa ke Ki Amang, ia menumbuk bawang merah yang telah dibakar sampai gosong bersama daun dlingo dan adas pulo waras. Setelahnya ia tambahkan minyak kelapa dan diolesi ke sekujur tubuh anak sembari merapal mantra-mantra. Ajaibnya, keesokan hari si anak mulai membaik. Semenjak itu warga Gedaren mulai berkiblat ke Ki Amang, sementara Suryo dengan sebaris gelarnya dicampakan begitu saja.



“Sur, mau sampai kapan kamu begini terus?” Wawan tampak kasihan dengan temannya itu, walaupun Suryo sudah menjadi dokter dan Wawan hanya sekedar tukang ojek. Tampaknya urusan rejeki ia lebih beruntung.

“bisa diem ndak?” Suryo menjawab ketus.

“apa kamu mau ikut aku ngojek aja? Lumayan buat…”

“buat aku tempeleng ndasmu!” Suryo tampak jengkel sekali, rokoknya yang masih setengah habis dimatikannya dengan paksa.

“ya maap. Maksudku itu, kamu masak mau idup gini terus Sur? Dokter kok ngutang, apa kata tetangga? Emang kamu ndak mau jadi dokter di rumah sakit aja ta? Lebih terjamin daripada disini”

“aku pindah kalo orang-orang udah kasih kesempatan buat aku ngobatin mereka”

“Sur, ini bukan hal yang bisa diobatin pake obat. Ini masalah kepercayaan masyarakat, obatnya keyakinan”

“ngomong opo toh? Udah, aku pengen balik ke rumah. Makasih kopinya”



Sementara itu, Ki Amang semakin laris pengunjung. Namanya sudah jadi ikon Gedaren. Sudah menjadi ciri khas, menempel satu sama lain, tak bisa dipisahkan. Pasiennya menyebar di tiap daerah, menjadi agen pemasaran di daerahnya masing-masing. “Ki Amang dari Gedaren menyembuhkan segala penyakit”, begitu kata orang-orang. Bahkan lambat laun ada yang menyebut dirinya sebagai pengikut Ki Amang, macam fans club. Kegiatannya mensosialisasikan pengobatan Ki Amang ke orang-orang, mulai dari kalangan anak-anak, ABG, sampai sesepuh. Di tiang-tiang listrik banyak ditempelken lembaran promosi pengobatan, kemudian mulai ada selingan iklan di radio lokal tentang pengobatan Ki Amang lengkap dengan alamat rumah dan nomor telepon yang bisa dihubungi sewaktu-waktu, tentu bukan nomor Ki Amang, itu nomor kantor sekretariatnya. Di akhir iklan, ada testimoni dari pasien yang pernah diobati Ki Amang, semuanya bernada positif dan mengajak orang-orang untuk berobat kesana. Bahkan mahasiswa jurusan antropologi dan sosiologi dari Yogya mulai mengadakan penelitian disana untuk meliput sepak terjang Ki Amang dan pengaruhnya bagi masyarakat setempat.



Suryo dan Wawan sekarang sering mengantar orang-orang dari luar daerah yang ingin bertemu Ki Amang. Suryo resmi menjadi tukang ojek, mengikuti kata hati Wawan. Bukan tak ingin mendaftar kerja di rumah sakit, Suryo hanya ingin merubah pandangan masyarakat yang terlanjur percaya hal-hal berbau mistis dan klenik, ia ingin membersihkan kepercayaan masyarakat yang sudah melenceng jauh dari pakem ilmiah. Dengan terus mengawasi gerak-gerik dan perkembangan Ki Amang, ia harap bisa menuntun masyarakat sedikit demi sedikit untuk pergi ke tempat prakteknya, untuk mengkonsumsi obat, untuk mendengarkan anjuran dokter. Bukan bergantung pada mantra-mantra dan racikan ala kadarnya. Tapi jauh punuk dari rembulan, merubah tradisi mungkin lebih lama dari perkiraan dokter sekalipun.



Sekarang tempat praktek Ki Amang sudah berkembang menjadi ladang rejeki bagi tetangga-tetangganya. Mereka yang punya halaman cukup luas membangun bisnis tempat parkir. Yang pandai memasak dan menyeduh kopi membangun warung makan di sekitar tempat Ki Amang. Beberapa terlihat menjual gorengan, mainan anak-anak, sampai menjadi tukang tambal ban. Yang berdatangan ke Ki Amang kini bukan hanya orang-orang penyakitan, tapi juga mereka yang belum dapat jodoh di umur senjanya, wanita-wanita biduan yang ingin tampak lebih cantik dan bahenol di mata laki-laki, orang-orang yang ingin mengambil istri orang lain, sampai kepala desa dan pejabat-pejabat lain yang ingin meraup untung banyak.



Sore itu Suryo mengantar seorang wartawan yang ingin meliput kegiatan Ki Amang untuk ditayangkan di acara tivi minggu depan. Itu hari terakhir Suryo mengantar orang-orang idiot di matanya. Besok ia akan berkemas, merapikan barang-barangnya, pergi ke Jakarta untuk menjadi dokter yang layak disana. Dokter yang terhormat, dokter yang bebas hutang.



“Wan, aku besok mau ke Jakarta. Ini utangmu aku lunasi sekarang” Sore itu wajah Suryo tak berhias senyum barang sebentar. Tampangnya lesu, papan nama didepan yang bertuliskan dr. Suryo Prabowo, Sp.PD. ditanggalkannya. Suryo mengunci pintu dari dalam, mengurung diri sendirian dengan stetoskop, jarum suntik dan termometer yang masih bagus, tak pernah dipakai.



“Assalamu’alaikum!” terdengar suara salam dan orang mengetuk pintu diluar, ketika dibuka betapa kagetnya Suryo mendapati bapak tua yang ribut malam-malam itu adalah orang yang paling tidak ingin ditemuinya, si biang kerok Ki Amang. Tanpa pikir panjang Suryo langsung menutup pintu.

“tunggu dok! Tolong dengerin saya sebentar!” Ki Amang mengganjal pintu dengan tangannya. Malam itu ia tak mengenakan seragam wajibnya, baju hitam-hitam dan blankon. Malah tampil mengenakan batik dan sarung. Suryo tampak enggan membiarkan Ki Amang masuk, namun setelah dipaksa beberapa lama, ia mengalah.

“mau bilang selamat jalan? Besok saya mau pergi ke Jakarta” Suryo berucap datar.

“dok, tolong jangan sinis dulu ke saya!”

“dok? Sejak kapan kowe manggil aku dok? Kesambet opo?”

“begini dok, tolong saya dok!” Ki Amang tiba-tiba tampak seperti pembantu yang tidak digaji tiga bulan. Tangan Suryo digenggamnya erat, matanya sayu menatap Suryo.



“lepasin! Kowe gak denger kata orang-orang? Ki Amang menyembuhkan segala penyakit! Ngapain minta tolong saya!”

“saya ndak kuat dok! Tolong saya dok! Orang-orang mulai datang ke rumah, tiap hari, tiap malam, mereka antri sepanjang jalan, nomor urut sampai ribuan, saya rasanya mau mati dok! Orang-orang mulai minta yang aneh-aneh, ini udah diluar kekuasaan saya dok! Saya ndak sanggup dok! Tolong dok!” suara Ki Amang terdengar serak, nafasnya setengah ngos-ngosan. Suryo hanya menatap datar sambil menggeleng-geleng.

“mereka gila dok! Tolong dok! Saya mau istirahat dok! Saya lelah!”

“kowe juga edan! Kalau sudah tahu begitu, cepat stop usahamu itu! Cukup sampai disini!”

“ndak bisa dok! Mau ditaruh mana muka saya dok? Tolong dokter gantikan saya sementara dok! Sebulan, atau seminggu, tolong dok. Saya cuma butuh istirahat dok!” Ki Amang setengah menyembah ke Suryo. Suryo tampak risih sekali.

“edan! Makan tuh harga diri! kowe pengen saya jadi dukun? Mending saya jadi tukang ojek! Kalau ndak ada lagi yang mau diomongin silahkan keluar!”

Diluar terdengar suara gaduh, orang-orang yang menjadi pasien Ki Amang riuh mencari sang penyembuh. Terlihat samar-samar dari jendela rumah Suryo api obor yang membara dipegang oleh beberapa orang. Suara kentongan bergema di seantero Gedaren. Orang-orang meneriakkan nama Ki Amang, seperti mencari maling kambing yang kabur.



“KI AMANG! MANA KI AMANG! KI AMANG”

“tolong Ki Amang!!! Anak saya sudah dua hari muntah-muntah!”

“Ki Amang, istri saya ingin punya anak perempuan!”

“Ki Amang, besok berapa nomor togel yang keluar?!”

“tolong perut saya membesar Ki Amang! Saya kena santet!”

“Ki Amang, kami dari stasiun televisi lokal ingin wawancara empat mata! Ki Amang ayo ikut ke Jakarta untuk jadi bintang tamu!”

“silahkan keluar, orang-orang butuh anda!” tegas Suryo mengakhiri. Ki Amang menyium kaki Suryo, meminta pertolongan. Suryo menyeret Ki Amang keluar pintu, kemudian mengunci erat dari dalam.



“DOKTER SURYO!” pekik Ki Amang sebelum diarak masa ke rumahnya. Malam itu Gedaren lebih ramai dari biasanya. Keesokan harinya berita Ki Amang bunuh diri telah menjadi perbincangan hangat di warung-warung makan. Orang-orang berduyun-duyun datang untuk melayat, tak ada kerabat, kebanyakan masyarakat Gedaren, beberapa dari luar kota sengaja datang untuk memastikan kabar kematian Ki Amang, dan lebih banyak lagi orang-orang yang sekedar penasaran dengan sosok Ki Amang.



“Sur, ndak jadi ke Jakarta?” Wawan mengebulkan asap dari mulutnya membentuk lingkaran.

“ngapain ke Jakarta, sekarang aku bisa ngobatin masyarakat toh. Yah pada akhirnya dokter juga dibutuhkan” Suryo membalas mengebulkan asap berbentuk lingkaran yang lebih besar dari Wawan.

Sore itu, Suryo mengeluarkan kembali barang-barangnya yang telah dikemasi. Papan nama bertuliskan dr. Suryo Prabowo, Sp.PD. kembali dipasang di depan rumah.



BUKA PRAKTEK 24 JAM

dr. Suryo Prabowo, Sp.PD.



Beberapa hari kemudian.



“Dokter, tolong anak saya sudah tiga hari ini demam tinggi, meriang, muntah-muntah, badannya juga lemas sekali”

“baik, saya periksa dulu ya bu”

“sudah. Ini obatnya diminum tiga kali sehari setelah makan, obat yang cair diminum sebelum tidur, untuk sementara tidak boleh makan yang pedas-pedas dulu ya. Semoga cepat sembuh”

“maaf dok, kami kesini ingin diobati dengan olesan bawang merah, daun dlingo, adas pulo waras, dan minyak kelapa seperti biasa, lebih mujarab” kata si ibu.

“sama mantra yang biasa dibaca Ki Amang dok! Bisa kan?” tutup sang anak.



TAMAT






Penulis dengan nama lengkap Agus Ghulam AM, kelahiran jakarta ini, sedang menempuh jenjang pendidikan strata S1 nya di Sidi Mohamed Ben Abdellah University, Saiss – Fes, Morocco. Untuk info lnjut, bisa langsung colek mas agus via Email agusghulam@yahoo.com, atau Tweetnya @goesghulam

0 Komentar