Pesona Sempurna, di bawah Menara Masjid Sunnah

Oleh:
Rijalul Haq*
Membangkitkan kembali semangat belajar terkadang sangat perlu, terlebih lagi ketika ujian semester sudah di ambang pintu. Kembali sibuk bergulat dengan dunia kamus dan bercumbu dengan muqarrar (modul kuliah). Meringkas dan menghafal rangkuman sebagian kitab karangan ulama-ulama muslim, untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan misterius saat ujian nanti. Seperti itulah sebagian besar aktifitas mahasiswa dirasat islamiyyah di negeri seribu benteng ini. Saya kira aktifitas ini tak jauh berbeda dengan teman-teman yang sedang menuntut ilmu di negeri seribu menara, mesir dan negara-negara tetangganya.

Beberapa hari lalu, tepatnya hari jum'at. Kami ingin me-refresh kembali semangat belajar yang mulai rapuh dan luntur. Karena itu, sore hari, kami berniat mengikuti pengajian kitab al-Muwattha karya Imam Malik, demi mendapatkan segayung siraman ruhani. Tapi sebelumnya, kami menunaikan shalat jum'at di masjid KBRI Rabat.

Setelah menunaikan shalat jum'at, saya dan beberapa teman menikmati makanan siang cita rasa indonesia yang setiap hari jum'at disediakan oleh ibu-ibu dharma wanita KBRI. Kami anggap itu secuil pengobat rindu kami pada tanah air.
Menjelang sore, kami bergerak menuju masjid As-Sunnah, masjid terbesar di ibukota Rabat. Keluar dari kantor Kedutaan, kami berjalan beberapa puluh meter menuju jalan raya, menikmati hembusan angin senja, dingin merasuk pori-pori kulit dan menusuk tulang. Jam menunjukkan pukul 04.30, pertanda kami masih memiliki waktu sejam kurang menuju ke sana. Biasanya pada musim dingin, masuk waktu maghrib sekitar pukul 5 seperempat. Sedangkan shubuh, jam enam lebih.

Menunggu sebentar di mahattah (stasiun bus), bus stareo 26 A tiba. Kami menaikinya dan membayar tiket seharga 4 dh per orang ke kernet. Karena penumpang banyak, kami terpaksa berdiri dan sedikit berdesak-desakan dengan penumpang lain. Maklum, ini waktunya pulang kerja. 
Sesampai di sana, jam masih menunjukkan pukul 5 sore kurang. Kami memilih berjalan-jalan sebentar, bernostalgia dengan suasana kota yang begitu damai dan tenang. Di tengah kota, ada sebuah taman berbentuk segi panjang. Saya menaksir luasnya mencapai 200 m x 50 m. Taman itu diapit oleh jalan raya. Berhadapan langsung dengan gedung parlemen kerajaan Maroko dan membelakangi Hotel Balima. Kami juga menikmati indahnya kicauan burung yang beterbangan rendah di atas air mancur, di salah satu sisi taman.

Ketika adzan magrib berkumandang di seantero kota rabat, nadanya begitu khas. berintonasi pendek dan cepat, serta saling bersahutan antar masjid, terasa asing di telinga jika baru pertama mendengarnya. Kami bergegas ke sana, khawatir jika terlambat, sangsinya akan mendapat tempat duduk yang jauh dari mimbar. Menyedihkan lagi, kalau hanya dapat duduk di belakang tembok-tembok raksasa masjid, terhalang sama sekali untuk melihat wajah sang syeikh yang mengisi pengajian.

Syeikhnya bernama Sa'id Kamali. Ulama hadis tersohor di negeri matahari terbenam ini. Konon dikenal dengan hafalan kutubussittah-nya (enam kitab hadis besar, termasuk di dalamnya sahih bukhari dan sahih muslim). Umur beliau masih muda, namun menguasai ribuan hadis dan ratusan bait syair. Penampilan yang tenang, santai, tapi berkarakter dan tegas, wajah yang tampan nan teduh, bercahaya, menyinari setiap sudut bola mata para jamaah, sehingga jama'ah betah dan ingin berlama-lama menyimak setiap rangkaian ilmu dan kata hikmah yang mengalir dari mulutnya. Sampai tak terasa, waktu berlalu begitu cepat, seakan cemburu pada kebersamaan sang syeikh dan para jama'ahnya.

Para jama'ah mayoritas orang maroko sendiri, namun ada beberapa mahasiswa asing dari negara-negara afrika, indonesia, malaysia, dan lainnya yang ikut hadir. Tiba di depan masjid beberapa menit setelah adzan, kami langsung masuk melalui pintu utama yang begitu besar, kira-kira tingginya 7 m dan lebarnya 3 m. Terbuat dari kayu berlapis besi, berwarna coklat tua.

Baru beberapa langkah kaki, rasanya nuansa bangunan cordoba yang ada di Andalusia seakan-akan hidup pada setiap sendi inferior bangunan masjid tersebut. Mulai dari paduan corak merah sajadah dengan warna cokelat tua kayu yang melekat di dinding dan platfon atap masjid, ukiran klasik khas arsitek islami terukir indah dalam pahatan kayu setiap jengkal dinding masjid, halaman terbuka di bagian serambi masjid, di dua sisi halaman terbuka dilengkapi dengan dua kolam tempat wudhu yang didesain seperti tempat pancuran air mancur. Setelah wudhu, kami mempercepat langkah menuju shaf bagian terdepan agar nantinya bisa lebih dekat dengan mimbar.

Tak berapa lama imam pun keluar untuk mengimami shalat. Di Maroko, Imam muncul pertanda waktu untuk iqamat dan menunaikan shalat. Imam biasanya keluar dari sebuah kamar yang dekat dengan posisi jama'ah. Di kamar tersebut, Imam melakukan shalat sunah qabliyah dan ba'diyah, baca al-quran, dan lainnya.
Setelah shalat, semuanya bergegas merapat dan mendekat ke mimbar utama. Para jama'ah menunggu sekitar 5-10 menit, kemudian baru muncul syeikh. Beliau duduk di atas mimbar yang berupa kursi sofa setinggi 1 meter dari lantai dasar masjid.

Di sudut kanan berjarak 3 meter dari mimbar sang syeikh, ada asisten syeikh. Tugasnya membaca hadis di dalam Al-Muwattha sesuai batas akhir jum'at sebelumnya, dimulai dari sanad (silsilah perawi) sampai matan (isi kandungan)-nya. Sang syeikh memulai syarh (penjelasan) ketika hadis mulai dibaca oleh asistennya. Semisal satu hadis dibaca, diawali dari sanad seperti perawi pertama langsung dari nabi, yaitu sahabat, maka sang syeikh menjelaskan biografi singkat siapa sahabat tersebut, kapan lahir dan meninggalnya, dst. Kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan perawi setelahnya yaitu dari tabi'in dan tabi'ut at-tabi'iin. Baru setelah itu sang syeikh menjelaskan hadis yang dibaca, baik penjelasan dengan ayat al-Quran, hadis lain dari nabi, atsar, sya'ir dan lainnya yang berkaitan dengan hadis tersebut. Biasanya, syeikh mengakhiri talaqqi bersamanya sebelum adzan isya dikumandangkan.

Kitab Al-Muwattha sendiri merupakan karya master piece Imam Malik, kitab hadis rujukan utama dalam mazhab Maliki. Ada yang mengatakan, kitab terotentik dan tervalid setelah Al-Quran sebelum adanya Asshahihain (Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim).



Penulis yang bernama lengkap Rijalul Haq asal Aceh ini, adalah mahasiswa yang sedang merampungkan jenjang s1nya di Univ, Muhammad V Rabat. 
Info lengkap tentang goresan2 nya do'I ini, bisa tengok dilaman blognya rijalulhaq95.blogspot.com

0 Komentar