Catatan Empat Tahun Silam ....


bid’ah!!!, ..... kafir .....
bid’ah, ..... kafir ......
kafir, ........bid’ah, ........
kafir, .......bid’ah....


Repot juga kalau punya temen yang suka mengeluarkan statement seperti yang barusan aku sebutkan tadi, tapi mau gimana lagi Allah maunya seperti itu. Dan pastilah dibalik itu semua tersimpan pelajaran dan hikmah yang sangat bermanfaat bagiku. Tak lebih tulisan ini hanyalah sekedar catatan yang kebetulan terabadikan dalam lembaran buku kecilku, semoga bermanfaat.

29 Desember 2010 
Malam itu tepatnya malam jum’at, tanggal 29 Desember 2010, seperti biasa ketika habis sholat isya aku membaca dzikir, tahlil, tawashul dan do'a diatas kasur kesayanganku dengan suasana adem ayem, tak ada suara-suara bising, suara mobil dipinggir jalan pun tak seperti hari-hari sebelumnya. Yang ada hanyalah senandung rintik-rintik hujan menemani kesendirianku diatas kasur tingkat, butiran air yang turun dari langit sedikit teredam oleh jendela kamar yang tertutup rapat. Malam-malam musim dingin berbeda dengan malam-malam musim panas. Jalanan diluar terlihat sunyi, padahal jarum jam baru berhenti pada angka 20.00. Ruang kamarku berada dilantai 4 dengan ukuran 3x4, posisinya tepat berada dimuka jalan raya. Sesekali aku bisa melongokkan pandangan ke jendela kaca melihat indahnya suasana malam kota Tanger. Tak lama kemudian dua temanku datang memecah keheningan dengan perdebatan mereka yang membisingkan telingaku. Awalnya aku tak terlalu menghiraukan mereka, meski aku tahu mereka sebenarnya sedang mempermasalahkan amaliyah yang sedang aku kerjakan.

“Tawasul bid’ah, ziaroh kafir, ..... bid’ah, ......kafir” kata kedua temanku dengan nada kencang.
Entah sudah berapa kali kalimat itu keluar dari mulutnya. Tak perlu dijelaskan bagaimana ekspresi mereka ketika berbicara. Aku yakin bagi kawan-kawan yang sudah lama di Maroko bisa membayangkan sendiri. Apa yang terlontar dari mulut mereka lama kelamaan membuat ketenanganku sedikit terusik. Hampir saja aku terbawa emosiku. Walau penyataan itu tidak ditujukan langsung padaku tapi aku tetap merasa tersinggung terlebih itu semua tradisi Idonesia yang sudah sangat menjamur dengan didasari dalil dari ulama yang nggak diragukan lagi. Ingin rasanya ku lempar mulut itu pake’ “sandal” atau “tungkakku” yang mulai gatel ini, tapi ku urungkan niatku karena tobi’atku sebagai warga Indonesia yang sungkanan dan sabar menolak hal itu.

Usai melaksanakan aktifitas rutinan itu aku hanya diam membisu, bukan tak bisa berbuat apa-apa tapi karena tak ingin berbuat apa-apa untuk meladeni mereka. Karena aku sadar betul bahwa setiap orang mempunyai kapasitas pemikiran dan pemahaman yang bebeda-beda dan itu sangat bisa difahami terlebih tempat asal mereka dari daerah pedalaman dan tempat belajar mereka berada dipesantren yang mana para ustadnya melarang keras ziaroh kubur apalagi tawasul. Semua itu katanya tidak sesuai dengan tuntunan Rosul. Jadi maklumlah kalau mereka jadi seradikal itu meski tidak semuanya mempunyai pemahaman seperti temanku tadi. Yang lebih konyol lagi ketika aku lagi asyik duduk didepan laptop sambil chatingan mereka bilang facebook itu haram dan menggunakan laptop itu bid'ah, pasalnya laptop adalah buatan orang kafir. Sungguh kerdilnya cara berfikir mereka.

Membangun kerangka berfikir yang baik memang tidaklah mudah, menggabungkan akal dengan dalil nash maupun hadits pun tak semudah memaksakan anak perawan untuk menikah. Terkadang seseorang tanpa sadar lebih mengedepankan egonya daripada akal warasnya. Mereka berkata ini itu dengan dalil ayat ini ayat itu, hadits ini hadits itu dengan penjelasan yang kebetulan aku faham sekaligus pengen menertawakanya, itu karena mereka berfatwa tanpa didasari alat untuk mengambil hukum dari sumber hukum tersebut. Yang penting sudah mafhum atau shohih “yakfii” kalo’ kata mereka. Bagaikan orang yang ingin ngambil buah mangga dan sudah memanjatnya, tapi tidak tau bahwa yang dia panjat itu pohon jengkol, atau pengen jengkol tapi yang dia panjat pohon mangga, atau kalau mau anda bisa memperpanjang dan mengkiaskannya sendiri.

Ini adalah potret kenyataan sebuah fakta bahwa semangat tanpa di dasari pengetahuan yang memadahi dapat mendorong seseorang untuk memutlakkan apa yang sudah dan sedang dia ketahui, boleh jadi juga akibat terlalu tinggi menghargai diri dan terlalu kagum dengan “pengetahuan barunya". Lalu menganggap yang di kemukakannya merupakan pendapatnya dan pendapantya adalah kebenaran sejati satu-satunya. Pendapat-pendapat lain yang berbeda pasti salah. Dan yang salah pasti jahannam.

Terlebih dewasa ini dalil yang semestinya berfungsi sebagai pengatur dan tolak ukur persepsi seseorang kini berbalik menjadi persepsilah yang mengatur dan menolak ukuri dalil tersebut. Mestinya orang mencari dalil sebelum beranggapan kini berbalik menjadi orang mencari dalil setelah beranggapan. Oleh karenanya aku lebih memilih diam ketimbang protes dengan pernyatan temanku itu. Karena aku tahu kalau orang seperti mereka itu sangat “ngengkelan” sekalipun sudah di ingatkan kesalahannya mereka akan terus mencari dalil yang kiranya bisa meng-iya-kan anggapan mereka, sekalipun dalil itu hanya nyrempet.

Kejadian serupa sering aku temukan ketika berdiskusi dengan kawan-kawan dari Indonesia hanya saja tidak sengengkelan seperti kedua temanku diatas. Tidak jarang aku temukan argumen yang mengedepankan persepsi yang mengatur dan menolak ukuri dalil kemudian baru dicarikan dalil yang bisa menguatkan statementnya meski sebenarnya jauh dari kata pas atau benar. Jika ada orang lain mengemukakan dalil yang lebih kuat mereka tetap saja ngengkel padahal landasan mereka datang dari persepsi dirinya. Dengan dalil andalannya yaitu "katanya" dan "kalau gak salah". Meski tidak ada larangan dan dosa selagi niatnya belajar namun alangkah baiknya jika setiap menghadapi atau menyelesaikan persoalan didasari dengan pengetahuan dan keilmuan yang matang. Bagiku pun hal itu tidak mengapa asal tidak mudah mengkafirkan orang manakala berbeda pandangan, dalam hal berdebat atau berdiskusi, semua bebas mengekspresikan apa yang ada didalam kepalanya. Semua bebas berpendapat asalkan ada dasarannya. Kepala sama berambut tetapi isinya berbeda.

Alhamdulillah walaupun dengan diam tadi sedikit akan hati tapi minimal aku sudah dapat pelajaran berharga yang dapat aku abadikan dalam tilusanku ini dan semoga temenku itu diberikan taufiq dan hidayah oleh Allah agar bisa berfatwa secara profesional atau lebih profesional kalau memang dia yang benar namun seandainya aku yang salah semoga Allah memberikan taufiq dan hidayahNya kepadaku Amiiin ........!!!!.

8 November 2013 
Seperti biasa, usai sholat jum'at jadualku adalah duduk manis didepan laptop metengtengi wall facebook sambil nyetatus. Bagiku facebook ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan yaitu antara kemaslahatan dan kemadhorotan semua tergantung siempunya ingin digunakan untuk apa. Disela-sela facebookan aku mencari kitab pdf usul fiqih karena kebetulan ada tugas dari ustadku. Hari jumat adalah hari specialku, waktu yang tepat untuk sekedar ngobrol bersama teman di tanah air atau tanya kabar dirumah. Pasalnya selain hari itu waktuku dihabiskan dibangku kuliah mulai pagi ssampai sore, malamnya belajar bersama dengan teman-teman sekamar jadi tidak ada jeda untuk membuka internet kecuali kalau terpaksa. Itupun biasanya untuk mencari materi tambahan dan mendownload kitab-kitab versi pdf karena ada tugas dari kampus.

Kawan-kawan sekelas dari Maroko paling suka mendatangi kamarku terlebih ketika hari libur. Kamar ukuran 3x4 itu dipenuhi manusia-manusia berjenggot panjang dan lebat. Diantara mereka ada dua orang yang dulu hingga sampai saat ini masih doyan bilang kafir dan bidah. Ketika aku selesai ngobrol dengan keluarga dirumah menggunakan facebook mereka berdua mendekatiku. Akupun tahu sebenarnya dari awal mereka mengamatiku terus.
"Tadi kamu telfhon pakai apa?" Tanya salah satu dari kedua temanku dengan nada pelan dan penasaran.
"Oo barusan aku thelfon pake akun facebook'' Jawabku datar.
''Emang faecbook bisa buat telfhon?"
"Bisa, bahkan kamu bisa telfhon kemana saja dengan cukup mengeluarkan 10 dirham untuk bayar internet selama sehari"
"Berarti aku bisa telfhon saudaraku diluar negeri dong?"
"Sangat bisa sekali jika saudaramu juga punya facebook"
"Oh..jadi syaratnya haru sama-sama punya facebook yah?"
“Yuppss betul sekali”
“Kalu begitu tolong dong buatin aku akun facebook nanti biar aku suruh saudaraku juga buat facebook jadi bisa ngobrol lama tanpa harus mengeluarkan uang banyak”
Sengaja aku langsung membuatkan facebook tanpa mengingatkan kalau dia pernah bilang facebook itu haram karena banyak foto-foto profil perempuan yang tidak mengenakan hijab dan terbuka auratnya. Setelah itu ia juga kaget ketika aku membaca kitab pdf di laptop, dikira laptop hanya digunakan untuk facebookan, ndengenrin musik, nonto film dan untuk meilihat foto-foto wanita cantik. Mereka semakin penasaran dan semakin besar pula rasa ingin tahunya. Setelah aku tunjukkan cara mendownload kitab-kitab gratis dan pngajian youtube bahasa arab seminggu kemudian mereka mendatangiku lagi. Kali ini bukan untuk membidah-bidahkan laptop atau mengharmkan facebook, justru kedatangannya ingin meminjam laptoku karena ingin membuka facebook, katanya sudah janjian dengan saudaranya yang tinggal di Tunis mau ngobrol lewat facebook.

Seminggu kemudian mereka memintaku menunjukan caranya bisa memilki teman banyak didunia maya, setelah tahu kegunaan dan manfaat laptop dan facebook bukan sekali dalam seminggu mendatangi kamarku, sekarang hampir setiap hari mereka membuka laptopku dan berselacar didunia maya, dulu mereka bilang facebookan itu haram, melihat foto pèrelpuan itu haram, sekarang malah ingin mencari jodoh lewat facebook bahkan tidak merasa sungkan menunjukanku foto cewe-cewe cantik. Wajar saja jika dulu dengan mudah membidahkan dan mengharamkan sesuatu yang sebetulnya mereka sendiri belum tahu manfaat dan kegunaannya. Kini mereka sadar dengan sendirinya tanpa harus ngotot menjelaskan. Hanya saja sayangnya sering disalahgunakan.

Terkadang kita sering terjebak dan terbawa emosi ketika berdebat atau berdiskusi dengan orang yang sebenarnya tidak tahu pokok permasalahannya. Tetapi langsung mengklaim dan menghukumi sesuatu tanpa disertai alasan dan dalil yang kuat, dari sini setidaknya aku mendapatkan banyak pelajaran dan hikmah yang bisa aku petik yaitu harus bisa membedakan antara orang yang mencari kebenaran dengan orang yang mencari pembenaran. Kita bisa belajar dari Imam Syfi'i. Imam Syafi’i menyatakan: “Saya pasti menang kalau berdebat dengan orang pandai, dan pasti kalah kalau berdebat dengan orang bodoh. Orang pandai akan menerima dengan mudah dalil yang saya sampaikan atau memberikan dalil yang memuaskan untuk saya pahami, maklumi dan terima. Sementara orang bodoh akan terus mendebat saya walau tidak punya dalil dan tidak mau menerima argumen saya walaupun dipenuhi dengan dalil.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Imam Syafi’i ketika berdebat selalu tersenyum dan berdoa: “Semoga teman debat saya ini memiliki argumen yang benar dan dalil yang kuat.” Orang alim seperti Imam Syaf’i adalah jauh dari kesan ingin menang sendiri dan bahkan menanamkan kesan senang jika menang bersama-sama (win-win solution). Kemenangan adalah ketika kebenaran tampil sebagai pilihan bersama.

Itulah sekelumit dari sepenggal catatan perjalananku dulu, tentunya berbeda dengan sekarang. Bagaimana dengan catatan perjalanan anda?


Penulis: Kusnadi El Ghezwa
Profil lengkapnya bisa dilihat disini: http://seribubenteng.blogspot.com/

0 Komentar