Teori Pemahaman Hadis; Membaca dan Menggali Kitab Kaifa Nata’a:mal Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyyah

A. Biografi Penulis dan Penisbatan Karya

Oleh: Basyir Arif*

Yusuf al-Qaradhawi (selanjutnya Al-Qaradhawi) adalah nama populer dari penulis kitab ini. Sedangkan nama lengkapnya adalah Yusuf bin ‘Abdullah bin Ali bin Yusuf. Al-Qaradhawi dilahirkan di sebuah desa terpencil pedalaman Mesir, Shafth al-Turab, tepatnya pada 9 September 1926.

Al-Qaradhawi termasuk salah seorang ulama yang dalam sejarah hidupnya telah meniti banyak karier, baik formal maupun non-formal. Namun produktivitas dalam menulis buku sejalan dengan karier dan aktifitasnya, melihat sekian banyaknya karya tulis yang menyentuh hampir berbagai aspek kajian keislaman.

Al-Qaradhawi pada prinsipnya sangat anti terhadap pendapat-pendapat yang kaku dan statis, terutama dalam menyikapi masalah-masalah yang tidak ada dalilnya yang pasti dalam agama, seperti pendapat dari kebanyakan para peneliti dan pembahas kontemporer dalam menghalalkan dan mengharamkan sesuatu.

Dengan begitu, orang yang membaca karyanya akan menemukan kesejukan dengan pendapat-pendapatnya yang adil dan moderat. Ali Hasan al-Nadwi, seorang ulama kontemporer asal India, menggambarkan Al-Qaradhawi sebagai sosok ulama yang menggabungkan antara pengetahuan klasik yang sesuai dengan semangat zaman (al-qadi:m al-sha:lih) dan pengetahuan modern yang bermanfaat (al-jadi:d al-na:fi’).

Kitab Kaifa Nata’a:mal Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyyah termasuk sedikit dari kitab yang membahas teori pemahaman hadis, sekalipun hanya sebagian isi dari kitab tersebut membahas teori pemahaman hadis. Diatara kitab yang membahas kajian tersebut adalahTa’wi:l Mukhtalaf al-Hadi:ts (Ibnu Qutaibah, w. 276 H), Shahih Muslim (Imam Muslim, w. 261 H), dan al-Anwa:’ wa al-Taqa:sim (Ibnu Hiban, w. 354 H).

Adapula kitab ushul fiqh yang menyinggung teori pemahaman hadis, karena teori-teori ushul fiqh sangat dekat dengan kajian hadis, seperti yang dikembangkan dalam ilmu matan hadis yang meliputi Mukhtalif al-Hadi:ts, Ghari:b al-Hadi:ts, dan Asba:ab al-Wuru:d. Diantaranya adalah al-Luma’ (Al-Syirazy, w. 476 H), Anwar al-Buru:q fi Anwa:’ al-Furu:q (Al-Qarrafi, w. 684 H), dan Jam’ al-Jawa:mi’ (Al-Subki, w. 756 H).

Selanjutnya ulama abad ke-20 yang membahas teori pemahaman hadis, seperti Ibnu ‘Asyur (w. 973 M), Syah Waliyullah al-Dahlawi (w. 1704 M), Rasyid Rida (w. 1935 M), dan Mahmud Syaltut (w. 1963 M). Ulama asal Indonesia yang membahas teori tersebut, seperti Syuhudi Ismail dalam buku Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual Telaah Ma’ani al-Hadits tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal, dan Lokal, dan Ali Mustafa Yaqub dalam kitab al-Thuruq al-Shahi:hah fi Fahm al-Sunnah al-Nabawiyyah yang terbit pada 8 Juni 2014, bertepatan dengan wisuda penulis di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences.

B. Konten Kitab dan Sistematika Penulisan Kitab

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa kitab ini membahas teori pemahaman hadis, sekalipun hanya sebagian isi dari kitab tersebut membahas teori pemahaman hadis. Sebuah karya yang padat berisi seperti karyanya Al-Qaradhawi lainnya yang berjudul al-Sunnah Mashda:ran li al-Ma’rifah wa al-Hadha:rah. Perbedaan dari kedua karya tersebut, disebutkan dalam kitab ini ada delapan teori dalam penerapan teori pemahaman hadis. Berbeda dengan kitab satunya yang lebih merumuskan gagasan pemilahan posisi Nabi Muhammad saw. yang disebut dengan istilah sunnah tasyri:’iyyah dan non-tasyri:’iyyah.

Sistematika penulisan kitab ini sebagaimana karya-karya lain pada umumnya yang membagi pembahasan dengan bab-bab dan sub-bab.

C. Pemahaman Hadis Lintas Sejarah

Bila dirunut akar sejarahnya, praktik pemahaman hadis sudah muncul sejak Nabi saw. menyampaikan sabdanya kepada sahabat. Demikianpula setelah sabdanya dikutip, diriwayatkan, lalu dipahami guna diambil nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Di sanalah proses pemahaman terjadi dan timbul cara-cara atau teori pemahaman yang semakin lama semakin sistematis dan kompleks. Sahabat diyakini sebagai generasi yang paling baik dalam pemahaman hadis Nabi saw.

Teori pemahaman hadis di era kekinian mengalami pergeseran yang lebih jauh dengan diadopsinya pendekatan-pendekatan ilmu sosial-humaniora seperti sosiologi, antropologi, hermeneutik, dan lainnya.

D. Teori Pemahaman Hadis Menurut Al-Qaradhawi

1. Memahami Hadis dengan Tuntunan Alquran

Menurut Al-Qaradhawi, untuk memahami hadis dengan benar, harus sesuai dengan petunjuk Alquran, Al-Qaradhawi juga mengemukakan adanya hubungan yang signifikan antara hadis dan Alquran, diantaranya: a. Hadis dan Alquran mengeluarkan hukum yang sesuai berdasarkan dalil yang sesuai. b. Hadis sebagai penjelas dan tafsir Alquran. c. Hadis menetapkan hukum yang belum ditetapkan Alquran.

Oleh karenanya tidak mungkin suatu hadis shahih kandunganya bertentangan dengan ayat-ayat Alquran yang muhkamat, yang berisi keterangan-keterangan yang jelas dan pasti, memungkinkan bertentangan disebabkan hadis tersebut daif atau pemahamanya yang tidak tepat

2. Mengumpulkan Hadis-Hadis yang Satu Tema dan Pembahasan pada Satu Tempat

Salah satu kaidah dasar untuk memahami hadis dengan pemahaman yang benar, yaitu mengumpulkan hadis-hadis shahih yang punya pembahasan sama dalam satu tempat agar hadis yang mutasya:bih (yang memiliki banyak penafsiran) bisa dikembalikan ke yangmuhkam (maknanya jelas), yang muthlaq (tidak terikat) dibawa ke yang muqayyad (terikat), dan yang ‘a:m (maknanya umum) ditafsirkan oleh yang kha:sh (maknanya khusus).

Dengan cara seperti ini kita dapat memahami hadis secara optimal, karena dalam teori tematis seperti ini kita dapat mengumpulkan hadis-hadis yang setema, baik yang semakna maupun yang kontradiktif agar dapat dikompromikan maknanya serta tidak cukup pula kita memahami suatu permasalahan (tema) hanya dengan memahami satu hadis saja tanpa menghiraukan hadis-hadis yang lain.

3. Memadukan Hadis-Hadis yang Kontradiktif

Dalam pandangan Al-Qaradhawi, pada dasarnya nash syar’i tidak mungkin saling bertentangan. Pertentangan yang terjadi adalah lahiriahnya bukan dalam kenyataan yang hakiki. Dalam hal ini ada dua cara yang dapat digunakan:

a. Al-Jam’u

Hadis dapat dihilangkan pertentanganya dengan cara mengkompromikan hadis-hadis tersebut, semisal saja tentang hadis yang melarang seseorang menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau kecil, sementara ada hadis-hadis lain yang membolehkan hal tersebut. Dengan mengkompromikan hadis-hadis yang tampak bertentangan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa hadis-hadis larangan dimaksudkan bila dilakukan di tempat terbuka, sedangkan hadis-hadis yang membolehkan dimaksudkan bila dilakukan di dalam suatu tempat yang ada pembatasnya.

b. Tarjih dan Al-Na:sikh wa Al-Mansu:kh

Menurut Al-Qaradhawi apabila hadis-hadis yang kontradiktif tersebut tidak bisa dikompromikan, maka dapat diambil dua cara:

Tarjih: memenangkan salah satu dari dua hadis atau lebih dengan berbagai cara pentarjihan yang telah ditentukan oleh para ulama hadis.

Al-Na:sikh wa al-Mansu:kh: mansukh (dihapus) disini menurut Al-Qaradhawi bukan berarti penghapusan dalam arti sebenarnya, tetapi sebagai rukhshah atau karena situasi dan kondisinya yang berbeda.

4. Mengetahui Asbaab al-Wurud

Pengertian Asba:b al-Wuru:d sendiri adalah sebab-sebab datangnya suatu hadis, mengetahuinya sangat membantu dalam memahami maksud hadis, diantaranya adalah dengan meneliti sebab-sebab tertentu disabdakannya suatu hadis, atau kaitannya dengan‘illat (alasan/sebab) tertentu yang ditegaskan langsung dari redaksi hadis maupun dari kesimpulan maknanya, atau yang dipahami langsung dari kondisi dan tujuan ketika hadis tersebut diucapkan oleh Nabi saw.

5. Membedakan antara Sarana yang Berubah-ubah dan Tujuan yang Tetap

Dalam memahami hadis harus selalu berpegang dan mementingkan makna subtansial, tujuan, dan sasaran hakiki teks hadis, karena sarana pada lahiriah (teks) hadis dapat berubah-ubah dari satu masa ke masa yang lain, tetapi kita harus tetap terpaku pada tujuan hakiki dari hadis tersebut, seperti hadis tentang siwak. Tujuan dari hadis tersebut adalah untuk menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut, sehingga sarana yang digunakan tidak harus berupa siwak tapi dapat juga memakai sarana masa kini sepertihalnya sikat gigi.



6. Membedakan antara Ungkapan Hakikat dan Majaz

Menurut Al-Qaradhawi, pemahaman berdasarkan majaz (kiasan) terkadang merupakan suatu keharusan, karena jika tidak, orang akan tergelincir kekeliruan, karena banyak hadis yang menggunakan majaz, sebab Nabi saw. adalah orang yang menguasai retorika ataubala:ghah, menggunakan majaz untuk mengungkapkan maksud hadisnya dengan cara yang sangat mengesankan.

7. Membedakan antara yang Gaib dan yang Nyata

Di dalam hadis tidak hanya berisi tentang realitas di dunia ini, tetapi banyak di antara beberapa kandungan hadis ada hal-hal yang berkaitan dengan alam gaib, terhadap hadis mengenai alam gaib ini, seorang muslim wajib menerimanya, tidak dibolehkan untuk menolaknya hanya karena menyimpang dengan kebiasaan atau tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan.

8. Memastikan Makna Kata-kata dalam Hadis

Menurut Al-Qaradhawi penting sekali untuk memastikan makna dan konotasi kata-kata yang digunakan dalam susunan kalimat hadis. Sebab, konotasi kata-kata tertentu adakalanya berubah dari suatu masa ke masa lainya, dan dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya. Seperti pada contoh hadis bahwa tashwi:r (pembuatan gambar atau pembentukan rupa) merupakan hal yang dilarang, dan mushawwir (pembuat gambar) diancam dengan siksa yang pedih, tetapi pada saat ini kata tashwi:r sudah digunakan untuk suatu kegiatan pengambilan gambar dengan kamera, maka kurang tepat bila kita masukkan istilah tersebut pada hadis tersebut , karena masa penggunaan kata dalam masa hadis itu disampaikan dan masa sekarang sudah berbeda.

E. Kesimpulan

Dalam memahami hadis maka diperlukan beberapa teori yang harus diketahui, sekalipun terdapat berbagai pendapat dalam memahami hadis, diantaranya perbedaan pendapat antara kelompok tekstualis dan kelompok kontekstualis.

Selain itu dalam memahami hadis kita juga dituntut mengetahui ilmu-ilmu yang membantu dalam memahami hadis. Ilmu-ilmu yang dimaksud yaitu seperti Asba:b al-Wuru:d,Tawa:ri:kh al-Mutu:n (Sejarah Matan Hadis), al-Lughah (Bahasa Arab), dan Hermeneutika (Penafsiran).


*Penulis saat ini terdaftar sebagai Mahasiswa Master di Universitas Hassan II, Ain Chock-Casablanca. Tulisan ini merupakan ikhtisar dari penelitian skripsi penulis dalam bahasa Arab yang berjudul Thuruq Fahm al-Hadi:ts al-Nabawy ‘Inda Yusuf al-Qaradhawi (Min Khila:li Kita:bihi “Kaifa Nata’a:mal Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyyah”).

0 Komentar