Kesaksian Sudut Ruang

Andra

Aneh. Atmosfer sekelilingku terasa aneh. Apa sebabnya? Bagaimana aku tahu. Entah keadaan hari ini yang memang seperti ini, atau hanya perasaanku saja? Bahkan tak ada seorang pun di sekelilingku agar kuminta pendapatnya. Seorang pun, kecuali seorang pria yang terduduk di ujung ruangan itu. Ah, tapi lihatlah tampangnya, sekilas mungkin ia terlihat baik-baik saja, namun kepalanya yang ditundukkan dengan tangan kiri sebagai penopang dagunya seolah sebagai antisipasi barangkali yang ditopang akan segera tertarik gravitasi sehingga jatuh dari tempatnya, sedangkan tangannya yang lain sedang menggenggam secarik kertas. Oh, ia tidak baik-baik saja. Aku tahu ia sedang memikirkan sesuatu yang amat sangat berat, atau masalah biasa yang ia pikirkan dengan amat sangat berat. Aku tidak tahu, yang jelas ia seperti sedang berpikir berat. Tetapi menurutku kali ini ia sangat beruntung, setidaknya bukan ia saja yang sedang merasakan kesenduan itu. Atmosfer kita sama.

Niat baikku –tentu saja niatku baik– untuk sekadar berkenalan dan basa-basi dengannya secara otomatis mundur perlahan, sangat perlahan, terlalu perlahan, namun tiba-tiba perlahan itu menjadi cepat, sangat cepat, terlalu cepat, membawa pikiranku ke suatu tempat tak asing, dan berhenti disana. Sebuah ingatan. Ingatan? Iya, kau tak mengetahuinya? Ingatan, yang biasa orang menyebutnya kenangan. Ia berasal dari sebuah masa. Masa yang sudah terlewati oleh sang empunya ingatan atau kenangan itu. Konon ingatan itu tidak dapat diulang kejadiannya, hanya dapat dikunjungi sesekali ketika sedang dipikirkan dan diingat dengan baik. Kejadian-kejadiannya, yang baik atau buruk pun, bisa saja diingat dengan baik. Dan sekarang, pada kenangan siapa aku berhenti? Tentu saja aku tak dapat mengunjungi kenangan lain selain milikku. Kenangan yang ini, selalu kuingat dengan baik.

20 Desember 2007

Setiap liburan menjelang ujian akhir semester tiba, aku lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca. Membaca tak perlu yang ilmiah. Aku buku apa saja yang ada di perpustakaan pusat kota. Aku memilih tempat itu karena kukira perpustakaan itu adalah yang terlengkap juga terdekat dengan rumahku. Aku tidak pernah tertarik dengan ajakan –yang lebih pantas disebut paksaan– rutin teman-temanku untuk pergi berlibur ke suatu tempat. Perpustakaan itu terasa lebih nyaman daripada tempat lainnya. Aku bisa mengelilingi dunia melalui buku-buku, lebih dari dunia, juga mengunjungi kejadian di sebuah masa. Aku tidak peduli kata teman-teman tentangku, duniaku lebih penting. Dunia tenang sang kutu buku, begitu kata teman-temanku.
Pagi itu, seperti biasa, tepat pukul sepuluh lewat limabelas menit aku tiba di perpustakaan. Setelah berbincang sebentar dengan sang pustakawan, dengan sigap aku menekuni lorong demi lorong rak berisi buku-buku sarat pengetahuan. Kupikir hari ini aku akan membaca buku-buku ringan saja setelah kemarin otakku berpikir keras mencerna beberapa referensi ujian, otakku ingin istirahat sejenak. Oh, novel, barangkali. Kususuri lebih cepat lorong-lorong yang sudah kuhafal –tentunya– dan langsung menuju bagian yang kuinginkan dan mengambil beberapa buku dengan acak. Aku bukan pemilih soal buku cerita, aku menyukai semua cerita, berakhir suka maupun duka, aku menyukainya. Karena memang begitulah kehidupan. Terlebih kehidupan manusia.

Aku tak pernah berpikir bahwa hari itu aku akan menjelma serupa tokoh utama dalam cerita-cerita. Cerita-cerita yang selama ini hanya bisa kubaca, kurasai, namun belum pernah kualami dalam kenyataannya. Kali ini aku menjadi peran utama dalam sebuah cerita. Sebuah cerita tentangku, cerita yang akan kuukir dalam-dalam agar tidak hilang terkikis ingatan karena sampai kapanpun takkan pernah dibukukan. Hari itu aku melihatmu yang sedang kebingungan di tengah banyaknya pilihan buku cerita. Saat itu kau sedang dalam balutan seperangkat seragam sekolahmu. Sepintas kau terlihat sama dengan gadis-gadis  lain yang pernah kutemui di perpustakaan ini. Tetapi entah bagaimana caranya, aku bisa tahu kau memiliki sesuatu yang lain dalam dirimu. Sesuatu yang lain, yang berbeda, dan yang jelas, sanggup membuatku menjatuhkan beberapa buku yang –sebelumnya– kupikir sudah kubawa dengan baik. Namun tak seperti cerita-cerita, tokoh perempuan tidak membantu sang peran utama mengambil buku-buku yang terjatuh. Bahkan setelah aku kembali berdiri, rupanya kau sudah pergi.

Kulangkahkan kakiku besar-besar, seperti terburu. Pandangan kuedar cepat –namun teliti– ke seluruh ruang perpustakaan, lorong ke lorong, sudut ke sudut, dengan keyakinan kuat bahwa keberadaanmu belum jauh dari sini, masih di tempat ini. Hingga akhirnya kutemukan dirimu terduduk di sebuah kursi di dekat jendela. Langkah besarku terhenti. Kuhampiri dirimu perlahan namun tetap kujaga agar tak tampak mencurigakan. Kulihat meja di depanmu penuh buku-buku berserakan. Tangan kananmu memegang sebuah pensil mekanik. Alat tulis lain berserakan. Tangan kirimu kauletakkan diatas buku yang sedang terbuka. Wajahmu tertekuk cemberut, dan tampak kebingungan. Posisiku semakin dekat denganmu, namun tak kumiliki keberanian sedikitpun menempati kursi kosong di sampingmu, seperti seolah kau yang sengaja membuatnya agar siapapun enggan duduk disana –atau hanya aku yang merasa begitu. Aku memilih sebuah meja yang bersebelahan dengan mejamu, dan duduk di kursi yang menghadap ke arahmu. Sedikit demi sedikit kuperhatikan dirimu dari sela-sela buku cerita yang terbuka di mukaku. Buku-buku yang kau pinjam dari perpustakaan kau letakkan terpisah dari buku-buku lain, yang nampak seperti buku pelajaran. Ekspresimu serius, beberapa kali kau balik halaman buku-buku pelajaranmu, lalu menulis sesuatu di buku tulis. Dari buku pertama, beralih ke yang kedua, ketiga, semuanya –dan entah ada berapa buku disana. Buku-buku perpustakaan tak kau sentuh sama sekali. Kau bahkan tak sedikitpun terlihat curiga atau merasa ada yang sedang memperhatikanmu. Aku mulai paham, buku cerita itu hanya kau ambil sebagai syarat agar tidak terkesan ‘numpang’ belajar. Meski aku yakin kau pun tahu bahwa perpustakaan tak mewajibkanmu mengambil buku yang tak kau butuhkan.

Kukira sudah terlalu lama aku memperhatikanmu. Memperhatikanmu dari kejauhan saja, bahkan kubiarkan saja ketika kau pergi. Hanya itu yang sanggup kulakukan. Aku tak mengerti bagaimana caranya agar aku mengetahui namamu. Namamu saja. Aku benar-benar tak mampu berbuat apapun. Bahkan untuk sekadar mengikutimu agar –setidaknya– aku mengetahui darimana arah datangmu pun aku tak bisa. Kakiku tiba-tiba saja menjadi kaku kala itu.

Hari itu aku menjadi pelaku utama salah satu cerita-cerita tentang seorang pria malang yang jatuh cinta kepada seorang gadis kecil, namun membiarkannya pergi begitu saja.
[٭٭٭]
Anna
Tahu apa aku soal lelaki. Lelaki yang kumaksud, tentu lelaki diluar Ayah dan keluarga lainnya. Dulu, yang kutahu tentang menghadapi lelaki hanya untuk bersikap acuh tak acuh pada mereka, entah dari siapa kudapat teori semacam ini. Bicara tentang lelaki lagi, aku mempunyai kisah di masa dahulu, kisah tentang lelaki pertama yang memenuhi pikiranku saat itu setelah Ayah.

21 Desember 2007
Kulihat jam tangan yang setia bertandang di pergelangan kananku pada setiap waktu itu. Hampir satu jam aku berdiri bersama para calon penumpang lain, namun yang kami tunggu tak kunjung datang. Harusnya sekarang aku sudah mengerjakan setidaknya enam soal jika aku membutuhkan lima menit saja untuk mengerjakan satu. Waktuku sudah berkurang tiga puluh menit dari lima jam –diluar tiga puluh menit waktu menunggu angkutan dan perjalanan– yang diberikan Ayah untukku hari ini. Jatah? Ya, bagaimanapun alasanku, juga seberapa Ayah pun tau bahwa aku jujur atas ucapanku, beliau tak akan menambah jatah jam keluar akhir pekanku. Tentu aku tahu bahwa itu tanda kekhawatirannya, meski diucapkan dengan sedikit nada membentak agar aku ketakutan.

Lima belas menit berlalu, yang kami tunggu itu akhirnya datang juga. Tapi, ah, rasanya aku ingin membayar setengah harga saja hari ini –meski akhirnya aku membayar penuh juga– karena jatah waktuku terkurangi olehnya. Perjalanan akan memakan waktu kurang lebih dua puluh lima menit karena hari sedikit macet. Itu artinya, waktuku berkurang 75 menit dan tersisa 225 menit dari jatah 300 menitku. Sebenarnya bukan soal waktu yang kucemaskan, melainkan bangku itu, aku takut seseorang menempatinya. Sudah beberapa kali aku berkunjung ke perpustakaan kota, dan hanya satu bangku yang membuatku nyaman dan konsentrasi berada padanya. Sebuah bangku yang letaknya di dekat jendela. Jendela itu berhadapan langsung dengan lapangan rumput di samping perpustakaan. Aku menyukainya karena ketika aku bosan, ada pemandangan lain yang dapat mengalihkan perhatianku. Kuharap belum ada yang menempatinya.

Perhitunganku tak banyak meleset, perjalanan memakan waktu 22 menit. Setelah turun dari angkutan, kuayun kakiku besar-besar, agar waktu yang terbuang tidak semakin banyak lagi. Aku memasuki lorong-lorong, mencari-cari bacaan yang sekiranya ringan untuk bocah seusiaku. Kuambil beberapa buku cerita yang kutemukan di salah satu lorong-lorong. Langkahku masih besar, menelusuri rak-rak tinggi menuju bangku favoritku. Tapi, eit, tunggu, oh, betapa tidak beruntungnya aku, sudah tinggal sepuluh meter lagi, tiba-tiba seseorang datang dari arah lain dan menempati bangku favoritku itu. Aku tetap melanjutkan ayunan kakiku, tidak lagi besar, perlahan melambat dan mengecil, sambil berpikir tentang apa yang harus kulakukan saat aku tiba disana. Aku gelisah, aku sudah lelah akibat menunggu angkutan datang. Lima meter. Wajah lelaki itu semakin jelas. Oh, hei, apa yang terjadi? Aku tidak pernah segugup ini bahkan ketika berhadapan dengan kepala sekolah yang terkenal garangnya. Saat ini, aku mengahadapi seorang lelaki yang belum kukenal. Langkahku normal sekarang. Aku tak ingin dicurigai. Aku memutuskan untuk menempati bangku yang berhadapan dengan bangku favoritku. Tak masalah, masih terlihat sedikit pemandangan lapangan dari sana.

Tiga puluh menit pertama. Aku harap ia tidak melihatku gerak-gerik anehku yang seketika tervonis ke-nervous-an stadium akhir. Telapak tangan kananku sedikit bergetar dan stagnan saja pada posisi sedari awal, menggenggam pensil mekanik dengan lengan yang menumpu pada kumpulan lembar buku hitung kosong. Tak satupun soal pada bukuku dapat kuselesaikan. Kumpulan lembar soal lima ratus halaman kuberdirikan hingga menutupi muka gugupku. Keringat dingin mengucur lancar dari ujung kepala hingga telapak kaki. Kakiku, kusibukkan dengan mengayunkannya kaku.

Sesekali aku mengintipnya dengan mendongakkan kepalaku hingga kedua mata mencapai puncak buku agar aku dapat melihatnya. Lelaki itu, seperti lelaki biasa. Siapa lelaki biasa itu? Jawabannya adalah aku tak tahu. Aku tak tahu bagaimana cara mengetahuinya. Yang kutahu, semenjak awal aku tak merasa sebal karena ia menempati bangku itu. Aku malah merasa sedikit canggung ketika mendekatinya. Antara terus maju atau tidak. Aku belum pernah merasakan yang seperti ini. Merasa gugup hingga gemetaran kerana seseorang. Apalagi gugup yang disebabkan oleh lelaki. Aku hanya mengalaminya empat kali dalam setahun, setiap ujian semester tiba. Itu saja. Menghadapi seseorang, aku tak pernah sampai merasa gemetaran.
Aku tahu waktuku masih tersisa banyak. Aku juga tahu waktuku takkan sia-sia meskipun berada di depanmu begini membuatku berpikir lebih lambat. Aku  tau, aku tau. Aku juga tahu tak semestinya aku melakukan sesuatu yang kuinginkan, duduk menetap disini hingga lelaki itu pergi dari bangku itu. Aku tak semestinya melakukan hal yang kuinginkan, aku harus melakukan hal yang kubutuhkan, menyelesaikan pekerjaanku yang harusnya dikumpulkan esok hari.

Aku segera mengemasi barang-barangku. Berusaha sebiasa mungkin sehingga badanku yang sebenarnya gemetaran ini tersembunyi. Aku juga menghindari gerakan cepat, kuusahakan gerakanku agar tidak dicurigai. Aku keluar dari kursi. Melangkah dengan kecepatan standar pejalan, sekali lagi, agar tidak dicurigai. Dalam hati aku ingin memperlambat kecepatanku agar dapat kulihat dirimu lebih lama lagi dari sudut terpojok mataku. Aku ingin, hanya ingin, namun aku harus melakukan apa yang kubutuhkan. Meninggalkannya begitu saja, sekali lagi, untuk sesuatu lain yang kubutuhkan.
[٭٭٭]
Andra
Pria itu masih disana dalam posisi yang sama. Sama ekspresinya, sama malangnya. Aku semakin menikmati ingatan masa lalu yang tiba-tiba saja mendekat.

Akhir Desember 2013
Pagi-pagi aku kembali ke perpustakaan itu. Biarpun masih pagi, tempat ini selalu berpengunjung, satu dua tak masalah. Kusempatkan perbincangan basa-basi ringan dengan pustakawan – beliau masih yang dulu– sebelum menikmati aroma segar buku-buku. Perlahan aku berjalan memasuki barisan rak-rak tinggi. Mengurut lorong-lorong, mengamati urutannya. Aku berbelok pada sebuah lorong dimana aku melihatmu untuk pertama kalinya. Pertama kali seseorang menjatuhkan bukuku tanpa menyentuhnya. Sambil berjalan aku mengamati urut-urutannya. 

Kuambil salah satu dari buku-buku yang kau ambil saat itu. Tentu saja aku mengingatnya saat buku itu tergeletak di atas mejamu. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengunjungi tempat ini seperti rutinitas pada liburan-liburan biasanya, juga untuk mengingat hari itu. Enam tahun terakhir aku sangat sibuk dengan urusan kuliah dan pekerjaan sehingga aku tak punya waktu untuk pulang. Enam tahun sudah berlalu, tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Terlebih kenangannya. Bahkan, bangku itu masih saja pada tempatnya di samping jendela. Aku berjalan medekati bangku itu sambil tersenyum teringat hari itu. Aku tak pernah lagi bertemu denganmu semenjak hari itu. Gadis yang menjatuhkan bukuku. Tapi, bahkan namamu saja aku tak tahu.
Aku melihat seseorang datang dari arah lain. Seorang wanita. Ia lalu berjalan menuju bangku yang kutuju juga, dan menempati kursi yang sama seperti saat terakhir kali aku melihatmu. Langkahku stabil dan kudatangi wanita itu lalu duduk di depannya. Aku di depanmu. Lagi. Sudah enam tahun berlalu, yang kurasa masih sama meski penampakanmu tak lagi sama. Penampakannya saja, kau tetap gadis itu.

Kau kini menjelma wanita dewasa. Kau tak lagi dengan buku-buku cerita yang dulu hanya kau jadikan penghias mejamu. Bukan pula dengan buku-buku pelajaranmu. Namun masih sama dengan dahulu, aku hanya bisa melihatmu. Melihatmu lamat-lamat dari balik buku yang tak kubaca. Masih. Masih tak kumiliki keberanian menyapamu, bertanya siapa namamu. Bukan malu kerana banyak orang disini. Bahkan ketika aku dalam posisi seperti ini, rasanya hanya kita berdua saja di tempat ini.
Sesekali kutundukkan wajahku agar kau tak curiga padaku. Sekarang aku melihatmu lagi. Memperhatikan jari-jarimu. Seseorang telah menyematkannya untukmu. Seseorang itu bukan aku tentunya.

            ‘Selamat untuk kalian…’

Anna
Semenjak hari itu, harusnya aku mengerti tentang bagaimana menghadapi seseorang. Terlebih yang namanya laki-laki.

Akhir Desember 2013
Rasanya seperti mengulang kejadian enam tahun silam saat seseorang merebut bangku favoritku. Aku tak memarahinya, aku tidak sebal padanya. Aku justru menyukainya. Entah sebab apa, perasaan itu datang begitu saja seketika aku melihat lelaki itu. Sejak saat itu selalu kusempatkan untuk berkunjung ke tempat ini setiap akhir pekan di hari yang sama seperti hari dimana itu semua terjadi. Tentu membawa harapan besar bahwa aku akan melihat lelaki itu lagi. Lelaki yang belum kutahu namanya. Untuk kali ini, setidaknya sebagai perkenalan sekaligus selamat tinggal.

Hari itu seperti mimpi. Kiranya itu mimpi aku ingin memperpanjang masanya sejenak saja. Segala pengharapan ini terbayar meski aku harus menunggu selama enam tahun sehingga terwujud. Hari itu aku datang lagi. Aku sudah berniat dalam hati bahwa aku takkan berhenti mengunjungi perpustakaan itu sampai suatu hari itu datang. Namun jika aku melihat lelaki itu disana atau di tempat lain sebelum harinya tiba, aku berjanji untuk menghentikan rutinitasku mengunjungi perpustakaan dan menunggu kedatangannya di bangku itu.

Hari itu aku tidak bermimpi. Seseorang datang lalu duduk di kursi itu, dihadapanku. Aku yang sedang menekuni bacaan pagiku waktu itu tiba-tiba gemetaran. Kudongakkan sedikit kepalaku hingga aku dapat melihat seseorang itu. Aku terhenyak melihat siapa yang dihadapanku itu. Seseorang yang waktu itu, ia sudah semakin dewasa. Ingin kuberanikan diri menyapanya agar aku setidaknya aku tahu namanya. Namun untuk menyangga buku bacaanku agar tidak jatuh saja aku gemetaran.

Hari itu memang aku tidak bermimpi. Aku tidak dapat menahannya. Tak lama setelah pria itu datang, ia sudah pergi lagi. Namun dalam kepergiannya tak disengaja ia meninggalkan sesuatu. Selembar kartu nama. Sekarang aku tahu siapa namanya. Andra.

[٭٭٭]
Andra

Juni 2014
Kubacai selembaran dihadapanku. Bukan kertas biasa, ini indah. Lembaran karton putih berhias motif abstrak berwarna abu-abu pada setiap pojoknya. Seperti seragam sekolahmu waktu itu. Karton itu terlipat menjadi tiga bagian. Pada bagian paling depan terukir inisial mempelai pria dan wanita, lalu dibawahnya terdapat nama dan alamat lengkapku. Kubuka lipatan tersebut sehingga terlihat nama lengkap kedua mempelai beserta walinya pada bagian dalam lipatan pertama. Di bagian dalam lipatan kedua tertulis jadwal singkat acara beserta tempat dan waktu berlangsungnya acara tersebut. Lalu pada bagian dalam lipatan terakhir, permohonan doa restu dan denah lokasi pada bagian belakangnya.

Kau lampirkan dua lembar bersamanya. Kubacai lagi dua lembaran itu. Mungkin sudah kesekian puluh kalinya. Aku harap aku menghafalnya. Kata demi kata hingga paragraf terukir rapi dengan tinta hitam diatas lembar putih tanpa garis. Rupanya kau sudah tak menggunakan pensilmu itu lagi. Beribu kali aku menelusuri kekatanya, tanganku masih gemetaran.

Dalam dua lembaran itu kau bilang, kau pernah bertemu denganku dua kali. Aku ingin bilang bahwa itu ada tiga, mungkin kau belum menyadari yang pertama. Kau bilang juga, kau gugup saat pertama kali kau melihatku, sehingga kau cepat pergi hari itu. Aku ingin bilang, pertama kali aku melihatmu aku pun merasa hal yang sama juga untuk yang pertama kalinya. Sekarang pun, aku masih merasakannya. Kau bercerita tentang bangku favoritmu yang kutempati, hingga rutinitasmu menungguku di tempat itu, tentang itu aku tak dapat berkata apa-apa. Kau bilang tentang janjimu tak menungguku lagi jika hari itu datang, atau jika kau sudah melihatku untuk yang kedua dan terakhir kalinya. Aku ingin bilang selamat untuk itu, juga atas  datangnya hari istimewamu sebentar lagi. Kau bilang juga, aku tak sengaja menjatuhkan kartu namaku waktu pertemuan terakhir itu sehingga aku mendapat kata-katamu ini, aku bukan menyengajanya. Kau bilang, kau bilang, kau bilang, dan aku ingin bilang:
 “Aku pun bahagia atas kebahagiaanmu.”

Sepekan kemudian..

Suasananya terasa nyaman. Semua wajah tampak merekahkan senyuman. Semua orang saling mengelompok dengan sesamanya yang mereka kenal sambil menikmati hidangan. Tentu semua orang bahagia atas mereka. Terutama yang kusebut dengan mereka itu sendiri. Kudengar sedikit pembicaraan mereka, hari ini bertepatan dengan ulangtahun salah seorang mempelai. Entahlah. Aku berjalan sendiri diatas lantai berlapis karpet merah, menuju mereka yang paling berbahagia tersebut. Kutapaki tiga anak tangga kayu kecil berlapis karpet yang sama. Aku sudah semakin dekat dengan mereka. Aku dapat melihatnya. Penampilannya memang sudah berubah, namun aku tahu dia tetap gadis di samping jendela yang kutemui bertahun silam. Langkahku sudah tak lagi kaku, namun masih saja gemetarnya. Sudah kukumpulkan keberanianku sebanyak-banyaknya. Kini aku sudah di depan mereka. Sambil tersenyum kuraih tangan pria di sampingnya untuk mengucapkan selamat. Lalu selanjutnya, aku meraih tangan mempelai wanita. Hanya ingin berucap:

Perkenalkan, nama saya Andra.
[٭٭٭]

Sekarang aku tahu apa yang membawa perasaan aneh pada atmosfer itu. Tentu, dan pria di ujung ruangan itu....


Biodata Penulis :


Nama                                     : Rumaisah M. A.
Tempat, tanggal lahir             : Surabaya, 22 Mei 1998
Nama Universitas                  : Universitas Ibn Tofail
Kota                                       : Kenitra
No. Telepon                          : +212 627 254 551
Email  






----------------------------------------------------------------------------------------------

0 Komentar