IBUKU KEDUA


Separuh umurku di tempa
Bernafaskan udara islami
Ku di bentuk pendidik mulia 
Bernaungkan nilai tertinggi...

Ku pahami indahnya jalan menuju surga
Bertanah bumi di kampung damai
Ku resapi manisnya ilmu berbahasa ganda
Dengan dalamnya kenangan beribu hari
Nan indah tak mudah di lupa...


Untaian doa tuk lindungan dan kemajuan 
Kan selalu terpanjatkan,tertancap niat di dada
Tuk membalas budi di hari tua
Terima kasih pondokku tercinta 
Pesantren ibuku kedua.....

    Yah...! itulah pesantren ,suatu lembaga pendidikan yang kita kenal,dengan bersistemkan asrama ,di mana kyai menjadi dalang dan sentral figurnya dan masjid bisa di katakan sebagai titik pusat drama kegiatan yang menjiwainya,suatu lembaga perjuangan asli produksi ranah nusantara indonesia.


    Ketika lembaga lembaga pendidikan luar mulai di pertanyakan alur tujuan sistem maupun visi dan misinya,di saat itulah kita dapat melihat titik cahaya harapan yang tertanam dalam pendidikan di sebuah pesantren,pengaruh dan peranannyapun hadir tuk masyarakat.laksana pijaran lampu yang selalu menyinari apapun di sekelilingnya,eksistensinyapun tak terbantahkan lagi dalam mencerdaskan para generasi bangsa.Mungkin, keikhlasan kyai dan gurulah yang menjadi benteng kokoh pesantren tuk terus menciptakan bibit dan kader kader pemimpin di masa kelak,segala dinamika dan totalitas kehidupan kyai dengan santri pun sama besarnya menitiskan tameng tameng kehidupan yang islami.bak angin yang berhembus di udara, pesantrenpun senantiasa menggerakan seluruh haluan kincir dan roda santri.

    Sejatinya ada tiga unsur dan nilai yang di dapatkan oleh para santri,yaitu pertama muamalah, kedua mu’asyaroh ketiga mukholatoh.(mu’ammalah) adalah pergaulan yang baik dan rukun antara santri atau santriwati dengan guru gurunya,mu’assayaroh merupakan interaksi yang intensif antara kyai dan santri dalam suatu naungan iklim pendidikan yang baik,dan mukholatoh di maksudkan bahwa seorang kyai dan guru sebagai sentral figur tidak hanya memerintah,tetapi juga melaksanakan seperti apa yang di laksanakan oleh para santri dan ketika hal ini di bungkus dengan keikhlasan,dan di tambah dengan bumbu keistiqomahan maka sempurnalah suasana pesantren yang sulit di tiru oleh lembaga pendidikan manapun,kokohlah benteng dan tameng yang menjadi simbol kekuatan pesantren dan lahir pulalah generasi insan al kamil yang di karuniai tak hanya akademik mumpuni tapi juga nurani dan jiwa spiritualitas yang ihsani.

    Dan sejarahpun berbicara,ketika nasib ratusan juta rakyat nusantara berada dalam belengu balutan kolonial penjajah,lahirlah gagasan dan semangat patriotisme kyai dan santrinya dan sekali lagi langkah demi langkah tuk memerdekakan negri ini adalah sejarah yang terajut oleh kain dan benang para kyai,ulama,dan santrinya .mereka sadar betul bahwa tuk mengusir penjajah dari negri ratusan juta jiwa penduduk kaum muslim adalah jihad yang bernilai tinggi dalam ajaran islam,karena hakikatnya pulalah sedari dulu sampai sekarang pesantren adalah anti penjajah.panca jiwa,value,misi maupun misi pondok pesantren adalah benteng benteng yang tidak bisa di intervensi dan di jajah oleh siapapun.

    Kehidupan pesantren berada dalam jajaran kehidupan yang sakral,sulit menemukan kehidupan yang sakral di luar pesantren.sakral di artikan suci yang selalu mengarah pada nilai kebenaran,sakralnya pesantren adalah karena ikhlas,ridho dan barokah.yang memberi yang mengajar ikhlas,yang menerima dan yang belajar juga kian ikhlas dan akhirnya timbulah sebuah barokah pondok pesantren.yah itulah pesantren... ibuku kedua!,dimensi cahaya yang selalu mebuka mataku bahwa keceriaanku di pesantren ampuh meringankan,bahwa keikhlasan sungguh memudahkan,bahwa kebersamaan kian meneguhkan,dan bahwa ketabahan hati akhirnya sulit tuk melunturkan ibadah dan kehidupan yang rabbani....al ma’hadu la yanamu abadan!



“Islamic boarding school not only produce the generation that can think,but also to produce a generation that is always dzikr”


Si doi yang bernama lengkap dadang dasuki paras sunda ini, adalah mahasiswa S1 yang sedang merampungkan belajarnya di Univ. Sidi Muhammad Abdellah fes



0 Komentar