Masjid Al Andalous: Permata Yang Mulai Pudar


Masjid Al Andalous: Permata Yang Mulai Pudar

Oleh: M. Fahruddin Al Musthofa*


ليس بـــــــــإنســـــــــــــــــــــــان ولا عــــــــاقل من لا يعي التاريخ في صدره 

ومن روى الاخبار من قد مضى أضــــــــــــاف اعمـــــارا إلي عمـــــــــــــره 


Sedikit syair gubahan Ibnul Khotib[1] berisikan tentang pentingnya sejarah bagi manusia bersifat sindiran pedas tapi bukan menjatuhkan melainkan untuk memulai tulisan ala kadarnya ini. 

“Mentari pun mulai menampakkan diri. Menyambut hari yang cerah, menerobos di cela-cela bangunan besar yang nampak kokoh dengan gaya khas bercorak klasik. Terjadi diskusi hangat diantara keluarga Kairouan yang berasal dari Kabilah Kairouan di masa pemerintahan Yahya bin Muhammad Bin Idris. Memikirkan bagaimana kelangsungan hidup masyarakat dan berkembangnya Islam di kota Fez ini. Diantaranya Muhammad Al Fihri Al Qoiruwani mempunyai dua putri, yang pertama bernama Fatimah dan adik nya Maryam. Muhammad adalah orang yang tulus mendedikasikan hidupnya hanya demi melihat kejayaan Islam. Semangat itupun mengalir kepada jiwa kedua putrinya. Setelah ayahandanya wafat, Fatimah yang ingin meneruskan tongkat estafet perjuangan ayahnya berupaya membangun sebuah masjid yang sekarang terkenal dengan Masjid Al Qourowiyyin. Begitu juga Maryam membangun sebuah masjid yang masih kokoh berdiri bernama Masjid Al Andalous.“ 

Secuil Sejarah Masuknya Islam di Maghrib 

Setelah masa kenabian selasai, bergantilah estafet kepemimpinan kepada Khulafaurrasyidin. Lanjut kepada Sayyidina Hassan sampai dengan dibangunnya kerajaan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Muawiyah dan digantikan dengan putranya. Pada masa Yazid inilah melakukan ekspansi ke daerah Al Maghrib bersama Uqbah bin Nafi’ Al Fihri[2] pada tahun 62 H dan berhasil menaklukkan sebagian daerah meliputi Masah (nama daerah di Agadir) dan Al Bahru Al A’dhom dibagian selatan Magrib. Dikisahkan bahwa di laut ini Uqbah bin Nafi’ pernah memberi salam pada ahli yang kasat mata, beliau pun berkata “Sungguh kaum nabi Yunus memberi salam kepadaku, jikalau tidak ada laut ini maka aku tidak akan bertemu dengan mereka.” Setelah kejadian itu sebagian ahlul Magrib yang menyaksikannya memeluk agama Islam ditangan Sidi Uqbah, selepas kepergiannya sebagian dari yang masuk Islam kembali murtad. Dilanjutkan dengan Al Walid bin Abdul Malik bin Marwan bersama Musa bin Nashir[3] berhasil menguasai tanah Tonjah (Tanger), Sabtah (Ceuta), dan Libbar (kota di Andalus ), dipimpin panglima perang yang tak pernah takut, Thoriq bin Ziyad menyerbu Andalus hingga berhasil mendudukinya pada tahun 96 H. Banyak ahlul Magrib masuk Islam dan sebagian tetap pada agama lamanya. 

Islam memiliki daya tarik sendiri bagi Ahlul Maghrib dan menyebar keseluruh penjurunegeri . Datanglah seorang wali yang nasabnya masih terhubung dengan Nabi Muhammad SAW dari Sayyidah Fatimah bernama Al Maulay idris bin Abdullah Al Kamil bin Al Hasan Al Matsna bin Al Hasan As Sibti bin Ali Bin Abi Thalib . Ditemani dengan Maulay Rasyid yang kabur dari pembantaian yang dilakukan oleh Bani Abbasiyah kepada Ahli Bait, dinamakan dengan Waqi’ah Fakh[4] (perangkap pembantaian) supaya bisa leluasa dalam berkuasa, di tahun 169 H di Oulili, Jabal Zarhoun. Para penduduk asli tak lain dari suku Barbar menyambut bahagia dan memulyakan beliau sampai dengan dibai’atnya yang dikomando oleh Ishaq bin Muhammad bin Abdul Hamid Al Uwarbi[5] sebagai pemimpin dan panutan di negeri ini. 

Pengaruh Maulay Idris mulai tersebar hingga seluruh bumi Maghribi ini. Tak ayal bagi Ahlul Magrib berbondong-bondong memeluk Islam melalui tangan beliau danmelepas agama lama nenek moyang mereka tanpa ada paksaan. Bersama-sama berjuang menyebarkan Islam hingga tersebar berita ini sampai ke seluruh alam ketikaitu . Hingga sampai ke telinga penguasa Abbasiyah yang kala itu dipimpin oleh Harun Ar Rasyid dan diutuslah Sulaiman bin Jarir berjuluk As Shammakh untuk menghancurkan kekuatan, pengaruh dan keagungannya dengan menyamar sebagai orang beradab yang memuji-muji kemulyaan Ahlulbait. Sampai pada satu kesempatan , dicampurlah makanan sang raja yang agung dengan racun dan berhasil menghabisinya dengan beberapa kali suap saja.[6] Dipetilasan beliau terdapat prasasti yang terbuat dari marmer menerangkan “ketika maulay idris wafat, beliau tidak mempunyai anak kecuali masih dalam kandungan permaisurinya bernama Kanzah. Kekuasaan yang kosong di isi oleh Maulay Rasyid sang abdi setia, sampai tumbuhlah Maulay Idris As Tsani mengganti posisi ayahnya. Kecerdasan dan kealiman dari Idris kecil mewarisi dari sifat ayahandanya. Idris pun mulai beranjak dewasa dan mengambil hak nya sebagai pewaris tunggal dari tangan Maulay Rasyid . Hingga terbangunlah kota Fez ditangan beliau beserta kembali ke Rabb-nya dengan tenang di Kota yang ia bangun sendiri.“ 

Kabilah Andalus dan Kabilah Kairouan 

Para pendatang mulai berdatangan ke daerah Oaulili kebanyakan dari daerah Kairouan dan Andalus. Maulay Idris As Tsani pun memutar otak hingga berpikir untuk meninggalkan Oualili dan membangun kota yang lebih besar yang sekarang mashur dengan sebutan Madinah Fez. 

Pertama kali datang , daerah ini merupakan pegunungan dan hutan yang dibabat dengan cara dibakar, tapi sebelumnya melalui istikhoroh yang panjang oleh Maulay Idris II. Masjid yang pertama kali dibangun oleh nya adalah masjid Al Asyakh[7] di wilayah Gharruwah. Pembangunan pun mulai berkembang perlahan dengan dorongan penduduk yang semakin membludak. Tidak hanya masjid, tempat tinggal, toko dan pusat kegiatan warga mulai dibangun. Masjid kedua yang dibangun adalah As Syurafa’. 

Kabilah yang pertama, merupakan orang-orang yang kabur sebab konflik antara fuqoha’ yang dipelopori oleh Al Hakam bin Hisyam menyebabkan mereka mengungsi di Maghrib. Kabilah yang kedua adalah orang-orang yang pernah menetep bersama Maulay Idris II saat masih di Kairouan, dan sebagian berhijrah ke Magrib dan dinamakan Kabilah Kairouan. Berkat hijrahnya kedua kabilah ini semakin mempercepat pembangunan di kota Fes dan sekitarnya, tak hanya itu penyebaran agama islam pun semakin pesat dengan memperkuat pengenalan bahasa Arab untuk mengkaji syariat Islam lebih dalam. Bidang ekonomi dan kemiliteran pun terbawa arus kemajuan kilat ini. Sampai dengan wafatnya Maulay Idris II tahun 213 H/828 M pada usia yang relatif muda 33 tahun. Pemegang kekuasaan Dinasti Idrisiyah pun mengalir hingga sampai pada cucu Maulay Idris bernama Yahya bin Muhammad. 

Pembangunan Masjid Al Andalous 

Laju zaman yang kian menggebu selaras dengan kencang perkembangan di pusat kota menjadi lebih hidup . Para penduduk pun mulai merasakan bahwa mereka semakin banyak hingga mengharuskan untuk memperluas serta membangun bangunan untuk tempat tinggal, tempat berobat, masjid-masjid yang besar untuk menampung jamaah dan para pelajar ilmu di ruwaq masjid . Karena pada masa Yahya bin Muhammad kerajaan Islam di dunia menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat sholat saja, akan tetapi sebagai wadah belajar bagi para santri untuk mendalami Syariat Islam dan Bahasa Arab. Dahsyatnya, penduduk disini tidak mau membangun masjid dengan menggunakan harta panas hingga mereka menunggu sampai terkumpul harta yang mereka yakini murni halal. 

Begitu pula keluarga dari kabilah Kairouan yang ikut andil dalam memikirkan pembangunan masjid di kota Fez ini . Salah satunya keluarga Al Fihri yang diprakarsai oleh kakak-beradik . Fatimah Al Fihri yang membangun Masjid Al Qourawiyyin dan Maryam Al Fihri yang membangun Masjid Al Andalous. 

Maryam seorang wanita yang namanya terukir abadi bersama peninggalan besarnya yakni Masjid Al Andalous. Ali Al Jazna’I menyebutkan[8] “Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 245 H oleh Maryam Al Fihri. Membeli tanah dengan uang yang halal dari harta waris miliknya tanpa menyisakan sepeserpun. Adapun penamaan masjid ini dinisbatkan pada kabilah Andalous yang ikut andil banyak dalam pembangunan masjid ini. Imam Ali Al Jazna’i menukil pendapatnya Imam Al Bakri dalam kitab beliau berjudul Masalik berkata: “Masjid ini terdapat enam lantai besar dan di tengah nya terdapat sebuah bangunan kecil berbentuk mangkok yang mengalir air dari lembah Masmoudah.“ Ketika masjid ini rampung tidak serta merta berfungsi sebagai masjid pada umumnya, kecuali pada masa dinasti Az Zinati setelah seratus tahun dari pembangunan masjid ini pada tahun 345 H. Setelah Al Amir Ahmad bin Abi bakar Az Zanati[9] mempercantik masjid dengan menambah ornamen dan hiasan serta memindahkan khutbah dari masjid Al Asyakh ke masjid Al Andalous.[10]

Dari Masa ke Masa 

Khutbah pun telah berpindah, waktu bersuara pun mulai terbuka lebar. Dari sini terbuka ruang bagi para pembesar kerajaan untuk merampas mimbar masjid demi kepentingan kerajaan . Mencampur wawasan agama dengan undang-undang baru dari pemerintah yang merugikan masyarakat. Tak hanya itu kerajaan Islam dari negeri luar pun tertarik ingin merampas kebesaran masjid ini adalah Dinasti Fatimiyah dari Tunis ( 297 H ) serta Dinasti Umawi. Semua negara harus tunduk dibawa kedua kerajaan ini. Hingga terjadilah perang antara koalisi fatimiyah dan Umawi dengan dinasti Idrisiyyah yang dipimpin oleh Yahya bin Idris bin Umar bin Idris, pasukan lawan pun bisa dipukul mundur. Pada tahun 305 H Dinasti Ubaidiyyah datang akan menyerang jikalau Dinasti Idrisiyyah tidak mau menyerahkan mimbar masjid Al Andalous ini . Mereka pun pulang dengan tangan kosong dan kembali lagi pada tahun 309 H tapi berhasil ditangkap dan dijebloskan kepenjara hingga 20 tahun dibawah pimpinan Musa bin Abi Al Afiyah. Pada tahun 349 H dinasti Ubaidiyyah datang lagi dengan pasukan yang lebih besar. Kemudian membunuh sebagian anak, ulama bahkan penduduk Fes ketika itu dan berhasil menduduki Fes dengan dibaiatnya Abdurrahman An Nashir dan ditaklukkannya kabila Kairouan dan Kabilah Andalous ditangan Futuh bin Dunas Al Maghrawi pada tahun 376 H. 

1. Dinasti Murabbithin 

Raja dari dinasti murabbithin yang berhasil membunuh banyak orang bahkan ribuan, hanya untuk menguasai kota Fes ini. Disebutkan oleh Ibnu Zar’ah bahwasannya Yusuf bin Tasyfin inilah yang tega membunuh sekitar 3000 orang yang berada di dua masjid agung, Al Qarawiyyin dan Al Andalous. Di era purtranya bernama Ali , Masjid Al Andalous tidak tersentuh sedikit pun , kenapa ?, karena Ali bin Yusuf ingin melakukan pemugaran besar-besaran pada Masjid Al Qarawiyyin dengan ditambah marmer dan hiasan yang bagus demi menunjukkan kehebatan masa yang dipimpinnya. Salah satu penyebabnya adalah ingin menjadikan masjid Al Qarawiyin sebagai Masjid satu-satunya sebagai tempat ibadah dan ta’lim agama sehingga tidak terjadi lagi pertumpahan darah hanya ingin memperebutkan kedua masjid yang agung ini. 

Pada masa inilah diterapkanlah Madhab Maliki dalam setiap masalah keagamaan dan urusun kepemerintahan. 

2. Dinasti Muwahhidun 

Tak pernah lepas dari kontroversi yang terjadi di masjid ini. Setelah dinasti Muwahhidun berkuasa. Mahdi bin Tumart merombak seluruh kegiatan berbau agama sesuai kehendaknya. Mewajibkan diarjarkannya Aqidah Al Asy’ariyyah serta mensyaratkan kepada para khutoba’ untuk menggunakan Bahasa Bar-bar (Amazigh) untuk menjauhkan dari taqlid kepada madhab Maliki dan fanatik terhadapnya. 

Abdullah Ghanun seorang Muarrikh terkenal Maroko menukil perkataan Syeikh Abdul Wahid Al Marakkusi, ”Dalam era ini terputuslah ilmu furu’ (Fiqh), meraka menakuti para fuqoha’. Serta memerintah untuk membakar semua kitab furu’ madhab Maliki untuk kembali kepada Al Quran dan Hadist Nabi Muhammad , aku pun menyaksikan sendiri ketika kitab-kitab tersebut jatuh di api yang siap membakarnya ketika aku berada di Fez.“[11]

Tapi ada sisi baik dari pemerintahan ini bagi Masjid Al Andalous. Diajarkannya berbagai macam ilmu agama yang tidak bertumpu pada fiqh maliki saja. Serta dibangunnya pintu gerbang Al Mudarrajah yang masih kokoh hingga sekarang. 

3. Dinasti Mariniyyin 

Kemilau cahaya keilmuan yang terpancar dari setiap sudut Masjid Andalous ini menambah elok kemegahan darinya. Terbukti dengan dijadikannya ilmu sebagai asas dalam membangun negeri oleh para penguasa. Terlebih lagi dibawah pimpinan Abi Said Usman, Abil Hasan serta Abu Innan. Sultan Abul Hassan membangun madrasah Shohrij sebelah belakang masjid supaya memudahkan para penuntut ilmu mengambil faidah dari masjid Al Andalous ini. Tak lupa juga, dibangunnya Madrasah Sab’in yang menghasilkan Qurra’ handal dengan Qira’ah Sab’ah. 

Banyak sekali ulama dan khutoba’ yang ikut andil meramaikan masjid serta menghasilkan murid-murid handal dan menjadi ulama di kemudian hari. Diantaranya, Ibnul Habbak Al Maknasi (wafat 870 M), Al Fadhil Ilya bin Abdurrahman Al Anfasi (wafat 280 H) Abul Hasan Az Zaqqaq (wafat 912 H) dan masih banyak lagi. 

4. Dinasti As Sa’diyyin 

Pemberontakan mulai banyak terjadi oleh pihak asing dengan terjadinya peristiwa besar di lembah Al Makhozin untuk menjajah dan mendirikan negera dibawah kekuasaan Dinasti As Sa’diyyin. Tapi tak melunturkan semangat memperjuangkan ilmu agama terlebih lagi dalam kepemimpinan Abul Manshur Ad Dhahabi tahun 986 H. 

Pada masa masa krisis , Maulay Ismail mencoba mendirikan dinasti Alawiyah untuk membantu mengatasi penjajah yang berasal dari Spanyol dan Inggris .Ibnu Zaidan berkata tentang Maulay Ismail : “ Maulay Ismail telah merenovasi masjid Al Andalous pada tahun 1093 H dengan merubah tempat air berbentuk mangkok dengan tembikar.“[12]

Sampai pada detik ini Masjid Andalous tetap berdiri dengan kokoh. Menyimpan berjuta kenangan , sejarah yang tidak akan bisa terkenang kecuali kita sudih untuk bercumbu dengan kisah-kisah itu sendiri. 

Wallahu A’lam.


Referensi : 
1. An Nubugh Al Maghrib fi Adabil Arabi, Sayyid Abdullah Ghanun 
2. Ad Durorul Fakhiroh bi Ma’ashiril Mulukil Alawiyyin Az Zahiroh, Abi Zaidan 
3. Jana Zahratul A’sh fi bina’I madinati fas, Ali Al Jazna’i 
4. Al Istiqsho li akhbari duwalil Maghribil Aqsho 
5. Al Mu’jib fi talkhisi Akhbaril maghrib, Abdul Wahid Al Marakkusi 




[1] Bernama lengkap Muhammad bin Abdullah bin Said bin Abdullah bin Said bin Ali bin Ahmad At Tilimsani . Seorang ulama besar Madhab Maliki sekaligus Penyair handal dan juga ahli dalam bidang politik hingga menghantarkannya menjadi wazir pada masa Sultan Abi Al Hajjaj bin Yusuf yang berada di Granada , Spanyol . Beliau wafat pada Tahun 776 H / 1374 M . 

[2]Lahir pada masa Nabi Muhammad setelah hijrah tapi tidak pernah bertemu dengan Nabi . Seorang yang menyaksikan Fath Misr bersama dengan Amru bin Ash . Masuk ke Afrika bagian selatan pada tahun 42 H dengan perintah Muawiyah . Pada tahun 50 H berhasil membuka Afrika . Kemudian menemukan daerah yang membuat dia takjub hingga menetap disana dan membagun masjid . Dikenal dengan nama Masjid Uqbah bin Nafi’ ( masjid Agung Kairouan ). Gugur dalam perang saat menaklukkan daerah Sus ( Agadir ) ditangan Kasilah bin lamzam pada tahun 63 H 

[3]Panglima perang tentara dinasti Bani Umayyah Lahir pada 19 H wafat 97 H 

[4]Sebuah peristiwa yang dilakukan oleh pemimpin dinasti Abbasiyah untuk memberantas Ahlut Bait agar tidak ada yang bisa menggulingkan kekuasaan mereka 

[5]Salah satu pembesar suku Barbar yang tinggal di sekitar Jabal Zarhoun . Berasal dari kabilah Al Uwarbi Al Barnusi . Mempunyai seorang putri bernama Kanzah yang dipersunting oleh Maulay Idris Al Akbar . 

[6] Kitab Al Istiqsho fi Akhbaril Magribil Aqsho hal 214 juz 1 versi Maktabah Syamilah 

[7]Masjid yang dibangun pertama kali di kota Fez ini oleh Maulay Idris II . Dinamakan Al Asyakh karena pada saat masjid ini telah rampung, Maulay Idris II mengumpulkan para ulama untuk mengajarkan ilmu agama dan mendidik umat saat itu . Disebut juga sebagai masjid Al Anwar dinisbatkan dengan sebutan bani Idrisi yang sering disebut Al Anwar 

[8]Kitab Jana Zahrotul A’as fi Binai Madinati Fas hal 92 .Al Jazna’I ,Ali 

[9]Arsitek handal yang dipercaya oleh raja Abdurrahman An Nashir untuk membangun masjid –masjid di Magrib dengan corak ala Andalus dengan menambahkan Menara kotak , Lantai keramik dll 

[10]Menurut versi lain yang memindah Khutbah dari masjid Al Asyakh ke Masjid Al Andalous adalah Al Amir Hamid bin Ahmad Al Hamdani 

[11] Kitab karangan Sayyid Abdulllah Ghanun berjudul An Nubugh Al Maghrib fi Adabil Arabi hal 119, cetakan Dar Tsaqafah 

[12] Kitab Ad Durorul Fakhiroh bi Ma’ashiril Mulukil Alawiyyin Az Zahiroh hal 40

*Penulis adalah Mahasiswa program S1 jurusan Dirosat Islamiyyah di Universitas Sidi Mohammed Ben Abdellah - Saiss, Fez. Penulis dapat dihubungi melalui FB: Muhammad Fahruddin Al-Mustofa

0 Komentar