Seperti Sedang Berfikir




Seperti Sedang Berfikir

Oleh: M. Ahkam Oktobrilyan*

Terik benar sinar mentari siang itu, hingga mengucur keringat di keningnya yang sesak akan pahatan keriput. Sudah lama dirinya menghirup udara dunia, sehari-hari punguti benda rongsokan dari TPS tentunya, atau tong sampah pinggir jalan. Ditariknya gerobak menepi ke teduhan pohon mangga, lalu direbahkan teman kerjanya itu di dekatnya. Hanya duduk berteduh memandangi hiruk-pikuk jalan, berkipaskan topinya yang kumal, nikmati semilir angin bercampur polusi. 

Dari sinilah bermula, disangganya dagunya, dan pikirannya melayang membumbung tinggi. Menjelma seorang pengamat apalah, yang sejatinya tak mengerti sedikitpun tentang apa yang ia lamunkan. Dibayangkannya masa penjajahan itu, dedengkot-dedengkot imperialis yang paham akan kekayaan negeri bak surga yang tersembunyi itu sangat membutuhkan “bantuan”. Mulailah rayuan manis serta uluran bantuan mereka todongkan dengan dalih untuk mengeluarkan bangsa ini dari keterbelakangan, menuju era modern, era yang global. 

Namun penguasa pertama negeri itu menolak bujuk rayu dan bantuan para saudagar kaya. Ia telah bertekad menginginkan negerinya kuat atas jerih payah sendiri, membangun fondasi ekonominya sendiri, meskipun tidak sedikit waktu dan pengorbanan yang di butuhkan. Menerima tanggapan tadi, tetap tak habis akal para saudagar itu tuk mencapai hasratnya, disusunlah suatu skenario adu domba guna memporak porandakan kepemimpinan sang penguasa pertama. Hingga berselang purnama, tersulutlah sebuah gerakan yang sebagaimana telah disusun untuk merobohkan pondasi kepemimpinan kala itu.

Satu persatu panglima negara hilang secara misterius, bak tersapu badai mereka lenyap dan mengakibatkan melemahnya pemerintahan. Keadaan semakin kritis, hingga menyebabkan sang penguasa yang disegani itu menderita sakit keras, dan tanpa perawatan yang cukup malah terasingkan, tak ayal kondisi kesehatannya semakin memburuk. Situasi seperti ini di manfaatkan untuk menunjuk seorang pemimpin negara yang baru. Ia bercita-cita untuk membawa negeri ini ke dunia yang baru, sebuah negeri yang mendunia. 

Para saudagar yang mendukung penguasa baru itupun menjanjikan perkembangan ekonomi dan industri yang pesat, tentunya jika modal yang mereka tawarkan akan diterima. Tak lama perjanjian itu di setujui, mengingat sang penguasa baru sejatinya telah berencana untuk membawa negerinya ke zaman yang lebih maju, dengan perekonomian yang maju pula. Namun tidak dapat dipungkiri, segala bentuk bantuan yang masuk itu bukanlah cuma cuma, ada hutang yang bertambah di setiap bulir bantuan yang masuk. Walhasil, sang penguasa yang inginnya membawa negeri ini kepada kemajuan, terjebak dalam jaring hutang luar negeri. 

Tahun demi tahun, investor dari negeri barat menimbun sahamnya di negeri apalah apalah itu, mendirikan perusahaan perusahaan besar, mempekerjakan buruh dengan jumlah yang besar pula. Daerah dengan potensi sumber daya alamnya mulai tereksploitasi oleh teknologi yang didatangkan dari negeri negeri penemu industri. Lalu sedikit demi sedikit, para petinggi Negara mulai terbiasa mempersilahkan tamu-tamu pebisnis masuk dan bercocok tanam sesukanya, hingga menguasai pondasi perekonomian. Menyebabkan negara yang hendak berkembang itu, justru harus mendaki gunung hutang yang dibangunnya sendiri.

Bagi masyarakat yang berada dalam kesulitan mencari lapangan pekerjaan, pada jenjang ini, terbantu dengan keberadaan perusahaan tadi, karena tersedianya lapangan pekerjaan yang besar. Telah bertahun tahun lamanya pabrik pabrik tersebut berdiri, namun jumlah pengangguran tetap pada tingkatan berlebih, ada kemungkinan karena kapasitas karyawan di pabrik tersebut sudah dibatasi secara sengaja. Kapasitas yang tidak pernah mencukupi akan membuat upah buruh tetap kecil, membuat mereka yang menuntut kenaikan upah, seketika akan diberhentikan dan diganti oleh para penganggur yang telah berbaris sejak lama.

Keringat para buruh pabrik menghasilkan produk kebutuhan sehari hari, dari sanitari, hingga pakaian, produk tersebut telah mensuplai merek-merek ternama yang dijual kembali dengan harga tinggi. Bagi yang kaya, harga harga tadi bukanlah masalah, namun rakyat kecil sama sekali tak dapat merasakan “kain hasil rajutannya sendiri”. Masuknya globalisasi kedalam lingkup masyarakat kemudian memicu ketertarikan yang besar terhadap merek merek terkenal, tanpa mengetahui uang yang ia belanjakan hanya memperkaya para pengusaha asing. Mata mereka telah disilaukan oleh merek terkenal, tak perduli berapa tinggi harganya akan dirogoh kantongnya demi sebuah kebanggaan yang tak berujung, lain halnya jika suatu ketika dihadapinya seorang pedagang kecil, seakan tak sudi baginya memberikan keuntungan meski sedikit, malah ditawarnya habis-habisan. 

Bila terjadi perselisihan antara pihak perusahaan dengan warga setempat, entah itu soal lahan, atau soal pencemaran lingkungan, pihak berwajib justru memihak kepada perusahaan. Semakin lama, keadilan hanya diperoleh mereka yang menguntungkan, yang dapat memberikan keuntungan. Seakan jadi hal lumrah, sudah menjadi kewajaran, mereka yang mengabdikan diri kepada rakyat, malah dimabuk harta, lupa amanatnya yang utama, tak lagi membangun bangsa, justru bekerjasama dengan saudagar kaya, menjajah kembali perekonomian negara. 

Itu hanya sekelumit cerita tentang kapitalisme, digandrungi oleh umat yang memang sedari lahir telah memiliki hasrat kepada harta, tahta dan mahkota. Di Negara yang maju sekalipun angka kemiskinan semakin bertambah, juga di sebabkan oleh kaum kapitalis hedonis, yang leluasa menimbun keuntungan, mengeksploitasi alam, mencekoki yang kaya, menggerogoti yang miskin. Jurang pemisah semakin besar antara mereka yang berkantong tebal dan mereka yang mengumpulkan kantong plastik. Gaya hidup yang acuh, gila akan dunia, terlalu tinggi tempat tinggal yang ia bangun, membuat mereka tak dapat lagi melihat tubuh yang tergolek kelaparan di bawah sana. 

Gdebukk!!! Hmm…? Khayalannya terberai sirna dibuyarkan oleh suara itu, dilihatnya sebuah mangga jatuh tak jauh di sampingnya. Tak disadarinya cukup lama ia melamun, sampai terasa pegal tangannya akibat berlama lama menyagga dagu. Beranjaklah pak tua ini dari duduknya, menghampiri mangga yang jatuh, dipungutnya, terlihat bekas gigitan kalong yang mengoyak sebagian mangga itu. Dengan langkahnya yang berat, pergilah pak tua sambil menarik gerobaknya, kembali ke jalanan, lanjutkan kehidupannya yang keras. 

*Penulis adalah seorang mahasiswa S1 jurusan Dirosat Islamiyyah di Universitas Sidi Mohammed ben Abdellah (Kuliah Syari'ah) - Fes. Penulis dapat dihubungi via FB: Brian Ahkam

0 Komentar