Lisanuddin Ibnul Khotib : Perjalanan Hidup Sang Wazir dan Kebiadaban Para Penguasa Politik



“ Huruf demi huruf mulai tercetak dibalutan kertas putih yang terkena sinar lampu tempel . Mempunyai gaya tulisan yang khas wilayah barat Islam yakni Khot Maghribi . Lembaran yang mulai bertumpuk dimeja kerja  tempat ia menghabiskan waktunya hanya untuk menulis tentang sesuatu yang bermanfaat serta mengurusi segala administrasi  negara yang diembankan dipundaknya .Tak ayal jika " Dzil Wazarotain " gelar yang melekat padanya .Tapi kebiadaban politik para penguasa menghendaki untuk menghabisnya dalam keadaan hina .  Siapakah dia ?"
            Permulaan abad ke 8 Hijriyah merupakan masa-masa yang dapat  dikatakan masa kejayaan dan masa kematangan bagi umat Islam yang berada di bumi Andalus . Terlihat dari segi bangunan yang menghiasi setiap kotanya dengan arsitektur indah khas Andalusia menambah kebesaran namanya . Perpustakaan  dibangun megah  untuk menyimpan dan melestarikan khazanah keilmuan Islam . Tak ayal jika Ghornathoh – lebih dikenal dengan sebutan Granada – menjadi pusat peadabadan pada masa itu. Sederet nama-nama cendekiawan muslim melambung tinggi dengan cepatnya . Seperti Ibnul Khotimah Al Anshori yang dijuluki Sang Penyair Almeria , Abi Abdillah Al Fakhor Al Albiri Sang ahli nahwu , Abu Abdillah bin Marzuq Sang faqih Magrib dan masih banyak lagi .
Satu nama yang turut menyaksikan serta mempunyai andil  besar dalam kemajuan pemikiran  Islam di bumi Andalus dan sebagai saksi bisu awal mula kehancuran dinasti Islam yang berkuasa akibat keserakahan dan  hasrat untuk berebut kekuasaan demi nafsu yang menguasai mereka .  Dialah sang agamawan yang taat juga seorang negarawan yang handal . Tak hanya itu , dikenal sebagai seorang filosof , dokter , sejarawan dan juga penyair yang namanya harum dikalangan kaum elit dan masyarakat awam . Dialah Lisanuddin Ibnul Khotib .
Perjalanan Panjang
Memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad Bin Abdillah Bin Said Bin Abdillah Bin Said Bin Ahmad As-Salmani Al Lusyi Al Ghornathi . Mendapat julukan  Lisanuddin secara turun temurun dari keluarganya yang berasal dari bangsa timur islam . Terlahir didunia yang fana ini  pada tanggal 25 Rajab tahun 713 H bertepatan dengan 13 November 1312 M disebuah daerah yang masyhur dengan sebutan Loja .
Besar dan tumbuh didalam naungan keluarga yang mempunyai kesadaran tinggi akan ilmu pengetauhan dan memegang teguh Islam sebagai pedoman dalam kehidupan . Begitu juga tentang wawasan kenegaraan yang ia terima berkat tinggal dilingkungan kerajaan .
Keluarganya merupakan pendatang yang berasal dari Arab Syam  dan mempunyai darah keturunan Yaman dari salah satu kabilah besar benama Qahthoniyah yang berhijrah menuju Kordoba sesaat setelah peristiwa Fath-Al Andalus dan memilih menetap disana . Tak lama setelah itu tepatnya pada tahun 202 H terjadi sebuah pemberontakan Al Robd yang dilakukan oleh masyarakat kordoba untuk menentang rezim Al Hakam bin Hisyam sang Amir Andalus dengan mempropaganda para fuqoha' untuk ikut memberontak . Hanya butuh waktu sekejap , pemberontakan pun mampu diredam oleh tentara sang Amir dan banyak korban berjatuhan sehingga membuat para pemberontak dan kalangan fuqoha' kabur menuju Tolitolah termasuk dalamnya Bani Salman . Hampir satu setengah abad mereka menetap (pertengahan abad 5 H )   , terdapat sebuah tekanan yang dilakukan oleh orang Nashrani untuk menguasai Tolitolah dan memaksanya  angkat kaki untuk hijrah menuju Loja . Dikota inilah lahir seorang bocah yang kelak menjadi seorang cendekiawan muslim dan negarawan yang handal .
 Mengenai hubungan yang menyebabkan dia bisa hidup dilingkungan kerajaan , berawal ketika kakeknya bernama Said yang terkenal akan keluasan ilmunya menikah dengan kerabat dekat sultan Muhammad bin Muhammad bin Yusuf An Nashiri (671 H-701 H) dari dinasti Nashiri . Said pun wafat pada tahun 683 H . Sementara ayahandanya , Abdullah lahir pada 672 H di Granada . Beliau merupakan salah satu dari pembesar ulama Granada yang sangat disegani baik dalam keilmuan agama dan perpolitikan kerajaan . Ia pun meninggalkan Granada menuju Loja guna memenuhi panggilan kerajaan yang disampaikan oleh Sultan Ismail Bin Faraj An- Nashiri (713 H-725 H) . Atas kepiawainnya dalam bekerja ia pun diamanahi untuk mengabdikan diri kepada Sultan Muhammad Bin Ismail Bin Faraj  (725 H-733 H) dan diutus kembali ke Granada guna mempermudah dalam tugas yang diembannya . Pada masa Sultan Abul Hajjaj Yusuf bin Faraj ( 733 H-755 H ) saudara kandung Sultan Muhammad , Abdullah dipercaya sebagai kepala urusan logistik serta tangan kanan dari Sang wazir Abil Hasan Al Jayyab . Itu merupakan puncak karirnya sebelum kemalangan yang datang saat perang Thorif – perang yang terjadi antara pasukan nasrani dari kota Qashtalah melawan tentara gabungan  2 dinasti Islam yakni dinasti Marini yang dipimpin oleh sultan Abul Hasan dan dinasti Nashiri dipimpin oleh  sultan Abul Hajjaj  . Islam pun mengalami kekalahan yang fatal sehingga mengakibatkan jatuhnya banyak korban serta peralihan wilayah kekuasaan  kepada kaum Nashrani disebagian kota besar . Bersama dengan putra sulungnya beliau pun gugur dimedan tempur pada tahun 741 H-1340 M .
   Antara Ilmu Syariat dan Politik
Masa kecil yang yang seharusnya diisi dengan berbagai permainan bersama teman-teman atau sekedar canda tawa bebas ia habiskan dengan pengembaraan ilmu keberbagai ulama yang tersebar di bumi Andalus .  Berbagai fan keilmuan ia pelajari dengan sabar dan mengharap ridho ilahi . Diantaranya kepada Sang Ahli Nahwu Abi Abdillah Al Fakhor Al Albiri ia belajar gramatikal arab . Dalam bidang fiqh dan ushul ia belajar kepada Abi Abdillah Bin Marzouq dan Qodhi Abil Barokat Al Balfiqi . Karena cintanya terhadap bahasa Arab ia pun mendalami syair-syair dan sastra Arab kepada Sang wazir Abil Hasan Ali Al Jayyab dan Al Hakim Al Lukhomi . Dan satu nama yang sangat mempengaruhi peta pemikiran Ibnul Khotib adalah Sang Filosof Yahya Bin Hudzail . Darinya ia pun belajar ilmu kedokteran , filsafat serta ilmu hikmah . Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Kholdun didalam masterpiecenya Al Iibar bahwa seluruh bidang keilmuan yang telah dipelajari dengan berkelana  , telah terkumpul dalam apa yang sudah diajarkan oleh mahaguru satu ini yang membuktikan akan samudra ilmunya . Untuk silsilah dan nama-nama guru yang telah mendidik dan mengajarnya akan mengenal Tuhan , telah ia kumpulkan dalam bab khusus berjudul  Al Masyikhoh dari kitabnya Al Ihatoh Fi Akhbari Ghornatoh .
Hidup didalam diruang lingkup kerajaan yang riuh akan hitam putih perpolitikan membuat Ibnul Khotib muda terbiasa menghadapi masalah yang terjadi didepan matanya, terutama dalam bidang ini . Sehingga memiliki keahlian khusus yang telah diajarkan ,  baik oleh ayahanda atau dari sang wazir Al Jayyab . Ketika ayahandanya wafat , ia pun mendapat panggilan kesultanan untuk mengisi jabatan ayahandanya pada waktu itu ia masih berusia relatif muda sekitar 28 tahun . Dibawah arahan sang guru ia pun mulai mempelajari urusan administrasi kerajaan , mulai dari menulis surat-surat resmi atau non-resmi kesultanan , birokrasi kerajaan sampai dengan aturan protokoler yang berlaku .
Ketika wabah tho’un menyerang ganas bumi andalus pada tahun 749 H , Sang wazir pun terjangkit penyakit mematikan ini dan meninggal pada tahun itu . Ibnul Khotib ditunjuk sebagai wazir baru untuk menangani segala urusan administrasi negara dan memegang kendali surat-menyurat kerajaan . Berkat usaha dan ketekunan yang ia lakukan dalam menjalankan tugasnya , membuat ia semakin dikenal dikalangan elit politik kerajaan Andalus dan Magrib begitupun masyarakat umum yang mengakui akan kelihaiannya dalam bidang tulis menulis . Tak ayal jika Al Muqri’ At Tilimsani memasukkan kumpulan catatan kecil , surat-surat kesultanan dan biografi lengkap Ibnul Khotib didalam kitab babon  berjudul Nafkhut Tayyeb sebanyak 2 jilid dari 10 jilid  berisi ensiklopedia sejarah keislaman miliknya.
Keindahan tata krama serta tata bahasa Ibnul Khotib membuat sultan Abil Hajjaj terkesima dan menaruh perhatian lebih kepadanya . Tepat pada tahun 755 H , sultan Abil Hajjaj pun meninggal dan tongkat kekuasaan beralih kepada anaknya yaitu Al Ghoni Billah . Pada masa sultan Al Ghoni ini , Ibnul Khotib ditunjuk sebagai tangan kanan wazir baru Abi Nuaim Ridwan untuk mengabdikan diri kepada kerajaan . Ia pun mendapat mandat khusus sebagai penasihat anak-anak sultan yang telah wafat . Keahliannya dalam berdiplomasi sangat disanjung oleh sultan dan mengutusnya sebagai utusan penting negara untuk dikirim ke Magrib menghadap sultan Abi Inan Al Marini . Keberhasilannya dalam tugas ini, tak lain sebab bait-bait syair yang ia bacakan pertama kali  dihadapan penguasa magrib ini . Berikut penggalan syairnya :
ﺨﻠﻴﻔـﺔ  ﺍﻟﻠـﻪ  ﺴﺎﻋـﺩ  ﺍﻟﻘـﺩﺭ  ﻋـﻼﻙ ﻤﺎ ﻻﺡ ﻓﻲ ﺍﻟﺩﺠﻰ ﻗﻤـﺭ
ﻭﺩﺍﻓﻌـﺕ ﻋﻨـﻙ ﻜـﻑ ﻗﺩﺭﺘـﻪ  ﻤﺎ ﻟﻴﺱ ﻴﺴﺘﻁﻴﻊ ﺩﻓﻌـﻪ  ﺍﻟﺒﺸـﺭ
ﻭﺠﻬـﻙ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺌﺒﺎﺕ ﺒـﺩﺭ ﺩﺠﻰ  ﻟﻨـﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺤـل ﻜﻔـﻙ ﺍﻟﻤﻁـﺭ
ﻭﺍﻟﻨـﺎﺱ ﻁـﺭﺍﹰ ﺒﺄﺭﺽ ﺃﻨﺩﻟـﺱ  ﻟﻭﻻﻙ ﻤﺎ ﺃﻭﻁﻨـﻭﺍ ﻭﻻ ﻋﻤـﺭﻭﺍ
ﻭﻏﺎﻴـﺔ  ﺍﻷﻤـﺭ  ﺃﻨـﻪ  ﻭﻁـﻥ  ﻓﻲ ﻏﻴـﺭ ﻋﻠﻴﺎﻙ ﻤﺎ ﻟـﻪ ﻭﻁـﺭ
Jamuan istimewa dilangsungkan guna menyambut tamu agung ini . Sang sultan merasa tersihir oleh syair-syair yang dibacakan oleh Ibnul Khotib sehingga ia pun berjanji akan memenuhi segala keinginan yang ia bawa hingga sampai didalam istana sang sultan . Bantuan pasukan perang dikirim dari Maghrib  untuk melawan raja Qoshtalah yang ingin merebut tahta kekuasaan Bani Nashir menjadi bukti janji sang sultan .
Keberhasilan Ibnul Khotib membuat sultan Al Ghoni Billah menaikkan jabatan sebagai wazir dan memercayakan segala urusan kesultanan kepadanya melebihi kepercayaan sultan Al Hajjaj kepadanya . Al Ghoni pun menjulukinya Dzil Wazarotain , seorang yang dapat mengumpulkan urusan kerajaan serta etos menulis untuk sebuah kemanfaatan umat . Atau seorang yang melayani kesultanan disiang hari dan menghabiskan waktu malam untuk menulis dan mengarang .
Keadaan kerajaan yang kian memanas disebabkan api pemberontakan yang kian membara diwilayah Granada pada tahun 760 H/1359 M . Para pemberontak yang dipimpin oleh Ismail saudara kandung dari Al Ghoni Billah mengkudeta paksa sang sultan untuk segera mundur dari tahtanya . Situasi pun semakin genting hingga terbunuhnya sang wazir Abi Nuaim Ridwan dan Al Ghoni Billah pun melarikan diri menuju daerah Wadi Asy  . Ibnul Khotib diputihkan dari jabatan dan kedudukannya . Ia mencoba untuk masuk kedalam kerajaan lagi , kemudian diterima dalam kementrian tapi tak bertahan lama hanya beberapa minggu saja . Berbagai tuduhan dan hinaan mengalir kepadanya hingga membawanya kedalam jeruji besi untuk kali pertama dalam hidupnya .
 Kabar pemberontakan ini segera menyebar luas hingga sampai ketelinga Sultan Abi Salim penguasa Magrib dan segera mengirim Syarif Abal Qosim untuk meminta diserahkannya sultan Al Ghoni Billah beserta wazirnya Ibnul Khotib untuk menjadi tamu istimewa dibawah perlindungannya . Ismail pun langsung merespon permintaan penguasa Maghrib ini , guna menjaga hubungan kerajaan yang telah dibangun harmonis dan takut akan dicabutnya bantuan yang telah dikirim Dinasti Marini kepada Bani Nashiri . Tepat pada tanggal 6 Muharam 761 H rombongan sultan dan Ibnul Khotib pun sampai di kota Fez dengan selamat dan disambut penuh kehangatan oleh masyarakat Fez dan keluarga kerajaan .
Pertemuan Ibnul Khotib dengan Ibnu Kholdun
Berbagai jamuan pun telah dihidangkan . Canda tawa kebahagian memenuhi setiap sudut aula tengah kerajaan yang dipenuhi orang-orang yang bergembira . Perasaan itu juga dirasakan oleh Ibnul Khotib serta rasa syukur bisa  keluar dari jeruji penjara untuk menghirup udara bebas bersama orang-orang yang mencintainya . Dia pun mengungkapkan perasaanya dengan membacakan syair yang membuat semua orang yang mendengar suara lantang itu menangis tersihir kedalaman maknanya . Inilah penggalan syairnya :
ﻗﺼﺩﻨﺎﻙ ﻴﺎ ﺨﻴﺭ ﺍﻟﻤﻠﻭﻙ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻭﻯ#  ﻟﺘﻨﺼﻔﻨـﺎ ﻤﻤﺎ ﺠﻨﻰ ﻋﺒـﺩﻙ ﺍﻟ دهر   
ﻜﻔﻔﻨـﺎ ﺒـﻙ ﺍﻷﻴـﺎﻡ  ﻤﻥ ﻏﻠﻭﺍﺌﻬـﺎ # ﻭﻗﺩ ﺭﺃﻴﻨـﺎ ﻤﻨﻬﺎ ﺍﻟﺘﻌﺴـﻑ ﻭﺍﻟﻜﺒـﺭ
 Diantara kerumunan orang yang berkumpul mendengarkan lantunan syair Ibnul Khotib , terdapat seorang cendekiawan muslim yang namanya harum dibelantika keilmuan . Seorang sejarawan , dokter , filosof , faqih dan hakim kenamaan yakni Ibnu Kholdun .
Disaat itulah waktu perkenalan 2 cendekiawan yang luar biasa ini secara langsung yang mana Ibnu Khaldun saat itu menjabat sebagai dewan penasehat kerajaan Marini . Obrolan demi obrolan semakin sering mereka lakukan , hingga terciptalah ikatan batin bagaikan seorang murid dan guru yang tak tahu siapa yang murid dan siapakah sang guru . Hingga ia pun berkata “ Apa yang terjadi diantara aku dan dia ( Ibnul Khotib ) melebihi dari sekedar seorang sahabat “ .
 Catatan Hitam Politik Kerajaan
Kehidupan Ibnul khotib mulai kembali membaik . Tidak ada ancaman atau tuduhan tentang dirinya berkat perlindungan yang telah diberikan  Sultan Abi Salim kepadanya . Ia pun memilih tinggal di kota Sale yang berdekatan dengan benteng Chellah yang berfungsi sebagai makam raja-raja Marini . Disinilah ia mulai memfokuskan diri untuk berkhidmat dalam ilmu pengetauhan secara konsisten . Dimulailah perjalanan mengelilingi Magrib guna mengajar sekaligus belajar kepada para ulama yang tersebar di bumi Maghrib . Termasuk singgahnya di Universitas Al Qarawiyyin guna meneguk samudra ilmu darinya . Setiap malam ia sibukkan dalam menulis serta mengarang kitab dalam berbagai disiplin ilmu . Tak terasa pengembaraannya di Magrib telah mencapai 3 tahun ( 760 H-763 H) hingga ia ditinggal sang istri tercinta dan dikuburkan ditaman yang tersambung dengan rumahnya serta menjadi wanita terpandang pada masanya .
Sementara itu disisi lain Sang sultan Al Ghoni Billah melakukan kesepakatan rahasia dengan raja Qoshtalah bernama Pedro II untuk merebut kembali tahta kerajaan yang telah direbut oleh Ismail .Dengan satu syarat untuk tidak mengusik daerah kekuasaannya (Qashtalah) . Disisi lain pemberontakan pun terjadi dipihak dinasti Marini yang dipimpin oleh wazirnya sendiri Umar Bin Abdullah yang mendapat bisikan bantuan dari Al Ghoni Billah guna menusuk dari dalam orang yang telah membantunya . Sehingga tepat pada tahun 763 H /1361-1362 M telah kembali kekuasaan yang pernah dicuri ketangan Al Ghoni Billah . 8 Ramadhan 763 H Ibnul Khotib dipanggil kembali guna menjadi menteri dibawah pimpinan sultan Al Ghoni . Keadaan kerajaan pun kembali stabil begitupun rakyat telah merasa pemimpin yang ditunggunya telah kembali .
Satu tahun setelah proses peralihan kekuasaan di negeri Granada . Datanglah Ibnu Kholdun menemui teman baiknya Ibnul Khotib . Kerajaan pun menyambutnya dengan sambutan meriah seperti sambutan yang pernah dilakukan Bani Marini kepada mereka . Pada tahun 765 H sang sultan pun mengutus Ibnu Khaldun sebagai utasan tinggi menuju Qashtalah . Setelah melaksanakan tugas dengan baik dan merasa urusannya dengan Ibnul Khotib telah selesai . Ia pun kembali lagi menuju Maghrib guna melanjutkan pengembaraannya .
 Karir yang semakin melambung ditambah kelihaiannya dalam menarik hati sang sultan , membuat orang-orang yang berada disekitarnya merasa tersaingi dan diinjak harga dirinya oleh Ibnul Khotib . Terutama mereka yang duduk dibawah jabatan sang wazir ini . beberapa diantara mereka yang memiliki kebencian serta rasa iri yang sangat tinggi kepadanya yaitu Al Wazir Ibnu Ramzak , Qodhi Abul Hasan An Nabhani dan Wazir Sulaiman Bin Daud . Mereka yang menghasud sultan untuk menyingkirkannya karena dia dianggap sebagai musuh dalam selimut yang akan memberontak kapan saja . Tapi itu tak membuat sang sultan percaya begitu saja . Mereka telah menyusun rencana untuk menyingkirkan Ibnul Khotib dari keramik indah istana . Kedengkian itupun dirasa oleh Ibnul Khotib dan secepatnya menghubungi penguasa Maghrib untuk meminta perlindungan secara sembunyi-sembunyi . Sultan Abi Faris pun berjanji untuk melindungnya ketika ia sampai di Maghrib nanti . Ketika Ibnul Khotib mulai melarikan diri dari istana kerajaan Bani Nashiri . Sang raja pun ingin bertemu untuk terakhir kalinya , segerombolan pasukan berkuda berangkat menuju Jabal Tariq dan bertemulah sang sultan dengan sang wazir untuk melakukan sebuah perpisahan . Tepat pada tahun 733 H , Ibnul Khotib pun tiba di Ceuta dan disambut dengan rombongan kerajaan yang didalamnya terdapat sang sultan Abi Faris sendiri . 
Ibnul Khotib pun telah menulis surat perpisahan yang menyatakan bahwa ia tidak akan pernah kembali lagi kekerajaan Granada dan dirinya telah memerdekakan dirinya atas segala urusan duniawi yang membuatnya lalai akan Rabb-nya . Begitupun ia mengirim sepucuk surat untuk sahabat karibnya Ibnu Kholdun yang nanti tersimpan rapi dalam masterpiecenya Al Iibar yang sarat akan ketinggian bahasa , indahnya metafora serta sarat akan kedalaman perasaan sang wazir . Masih ditahun yang sama , sultan Abi Faris mengirim utusannya untuk mengunjungi keluarga Ibnul Khotib ynag berada di Granada . Tapi ditahanlah utusan tersebut oleh Qodhi Abul Hasan An Nabhani dan mengutuk Ibnu Khotib didepan keluarganya  dengan sebutan zindiq , kafir serta perusak syariat dan  memfatwakan untuk membakar semua karangan Ibnul Khotib yang masih berada di rumah keluarganya .
Menjelang Wafatnya Ibnul Khotib
Kabar tentang wafatnya sultan Maghrib menyeruak keseluruh penjuru Magrib . Meninggalkan rasa sedih dihati masyakatnya akan pemimpin adil yang selalu peduli akan derita rakyatnya . Kehilangan pun dirasakan oleh Ibnul Khotib pribadi atas sosok wibawa serta tulus akan membantu siapa saja yang membutuhkan termasuk dirinya . Sosok yang melindunginya diantara musuh-musuhnya pergi meninggalkan putra semata wayangnya Said . Bersama Said inilah Ibnul Khotib menemui Wazir Abi Bakar Bin Ghozi untuk melakukan perjalanan dari Tilimsan menuju Fez . Setelah tiba dikota Fez mereka pun disambut dengan pemberontakan berdarah yang dilakukan oleh Ahmad putera mahkota sultan Abi Salim yang merasa lebih berhak atas tahta kerajaan dibanding Said putra sultan Abi Faris . Ahmad pun berhasil duduk dipuncak kekuasaan kerajaan pada tahun 766 H .
Awal masa kepemimpinan sultan Ahmad langsung mendapat tekanan dari penguasa Granada saat itu , sultan Al Ghoni Bil Amr, untuk menyerahkan Ibnul Khotib sebagai tahanan politik kerajaan Bani Nashiri . Perintah itupun langsung direspon dengan dimasukkannya Ibnul Khotib kedalam penjara . Setelah kabar itu sampai ditelinga pemimpin Granada , Sang sultan Al Ghoni Bil Amr dengan ditemani wazir Ibnu Romzak musuh bebuyutan Ibnul Khotib bergegas menuju Fez guna menghadiri sidang pengadilan bagi Ibnul Khotib atas berbagai tuduhan kepada dirinya . Disitulah ia mengalami penyiksaan untuk mengakui segala kesalahan dan kekafiran yang telah dilakukan .
Dengan perlawanan yang sengit dari Ibnul Khotib atas berbagai tuduhan yang didakwahkan . Para fuqoha’ yang menghamba kerajaan mengeluarkan fatwa untuk segera melenyapkannya . Membuat semakin geram kubu Al Ghoni Bil Amr dan memaksanya untuk dijebloskan kembali kedalam penjara yang pengap itu . Pada malam harinya rencana pembunuhan berdarah Ibnul Khotib yang diotaki oleh musuh besarnya wazir Sulaiman Bin Daud . Bersama beberapa komplotannya menyusup kedalam pencara lalu menyiksa Ibnu Khotib dalam dinginnya malam . Mencekiknya hingga meninggal menjadi cara topcer untuk menghabisinya .  Pada hari kedua setelah kematian jasadnya dikeluarkan dari penjara lalu dikuburkan disekitar Bab Mahruq , Fes . Sadisnya , pada hari ketiga jasad itu dikeluarkan dari tanah lalu dinyalakan bara api yang membara . Tanpa menunggu aba-aba dilemparkanlah jasad yang malang itu kedalam tumpukan kayu bakar yang menyala merah  . Kulit pucat bercampur tanah berubah menjadi hitam legam dengan kulit mengelupas . Darah segar mengalir disekitar tubuh menjadi saksi kebiadaban para penguasa dholim yang rakus akan tahta kekuasaan . Sentimen politik akan terus menjadi tombak beracun bagi siapa saja yang mencari keadilan .  Kemanusiaan pun sirna beserta abu yang beterbangan disekitar jasad yang sudah tak berbentuk itu . Tepat pada akhir bulan rabiul awal tahun 776 H  jasad itu pun dikuburkan dengan layak diatas bukit yang masih dalam area Bab Mahruq . Alam pun berduka menyaksikan kebiadaban manusia , katanya !

Karangan Ilmiah Ibnul Khotib :
1. Dalam Bidang Sejarah
 

1- الإحاطة في أخبار غرناطة

. 2- أعمال الأعلام فيمن بويع قبل الاحتلام من ملوك الإسلام، وما يجرّ ذلك من شجون الكلام.
 3- رقم الحلل في نظم الدول
. 4- طرفة العصر في دولة بني نصر
. 5-قطع الفلاة بأخبار الولاة
. 6- اللمحة البدرية في الدولة النصرية
. 7- نفاضة الجراب في علالة الاغتراب.
2. Dalam Bidang Geografi dan Perjalanan :

1- خطرة الطيف ورحلة الشتاء والصيف

. 2- معيار الاختبار في أحوال المعاهد والديار.
3- مفاضلة بين مالقة وسلا.
3. Dalam Bidang Ensiklopedi :

1- الإكليل الزاهر فيما فضل عند نظم التاج من الجواهر

. 2- التاج المحلّى في مساجلة القدح المعلّى (القدح المعلى لابن سعيد الأندلسي)
. 3- عائد الصلة
. 4- الكتيبة الكامنة، في من لقيناه بالأندلس من شعراء المائة الثامنة.
4. Dalam Bidang Sastra Arab dan Syair :

1- أبيات الأبيات. 2- تافه من جمّ ونقطة من يمّ. 3- تخليص الذهب في اختيار عيون الكتب.
4- جيش التوشيح. 5- خلع الرسن في أمر القاضي ابن الحسن. 6- الدرر الفاخرة واللّجج الزاخرة. 7- ريحانة الكتّاب ونجعة المنتاب. 8- السّحر والشّعر. 9- الصّيّب والجهام والماضي والكهام.
10- طلّ الغمام، المقتضب من الصّيّب والجهام. 11- فتات الخوان ولقط الصّوان. 12- كناسة الدّكّان بعد انتقال السّكّان. 13- المباخر الطيبية في المفاخر الخطيبية. 14- مثلى الطريقة في ذمّ الوثيقة. 15- مساجلة البيان. 16- النّفاية بعد الكفاية.
5. Dalam Bidang Tasawuf dan Ilmu Syariat :
 

1- استنزال اللّطف الموجود في سرّ الوجود.

 2- أنشدت على أهل الرّدّ: (حول الرّدّ على أصحاب الآراء المضلّة وأهل الزندقة).
 3- الحلل المرقومة في اللّمع المنظومة( أرجوزة من ألف بيت في أصول الفقه).
 4- حمل الجمهور على السّنن المشهور.
 5- رجز الأصول
. 6- الرّدّ على أهل الإباحة
. 7- الرّميمة (حول أصول الدين والدّفاع عن الشريعة)
. 8- روضة التعريف بالحبّ الشريف
. 9- الزّبدة الممخوضة
. 10- سدّ الذريعة، في تفضيل الشريعة: كتاب مفقود، يبحث في أصول الدين
. 11- كتاب المحبة
. 12- الغيرة على أهل الحيرة.
6. Dalam Bidang Politik :

1- الإشارة إلى أدب الوزارة

. 2- بستان الدول (يدور حول السياسة والحرب والقضاء وأهل الحرف والمهن، لم يكن يسمع بمثله قبل أن يؤلف).
 3- تخصيص الرياسة بتلخيص السياسة.
 4- رسالة السياسة.
 5- رسالة في السياسة (باللغة القشتالية، موجّهة إلى ملك قشتالة بدرو المعروف بالقاسي)
. 6- رسالة في أحوال خدمة الدولة ومصائرهم وتنبيههم على النظر في عواقب الرياسة بعيوب بصائرهم
. 7- كتاب الوزارة (يبحث في شؤون الوزارة).
 8- مقامة السياسة.
7. Dalam Bidang Musik dan Kedokteran :

1- أرجوزة في فن العلاج من صنعة الطب

. 2- الأرجوزة المعلومة (في علاج السموم)
. 3- البيطرة (في علاج الحيوانات)
. 4- البيزرة ( في أحوال الجوارح من الطيور)
. 5- الرجز في عمل التّرياق الفاروقي.
 6- رسالة تكوين الجنين
. 7- رسالة الطاعون.
 8- عمل من طبّ لمن حبّ
. 9- المسائل الطبيّة.
 10- المعتمدة في الأغذية المفردة (أرجوزة عن منافع الأغذية ومضارّها)
. 11- الوصول لحفظ الصّحّة في الفصول (في الحمية)
. 12- اليوسفي في صناعة الطب.
Referensi :
1. http://islamstory.com/ar
2.
http://www.habous.gov.ma/daouat-alhaq/item/2041
3. Kitab Al Ihathoh Fi Akhbari Ghornatoh
4. Kitab Al Isyaroh Fi Adabil Wazaroh
dll .
Fes, 9 September 2016
M. Fahruddin Al Mustofa




0 Komentar