PERKEMBANGAN AGAMA SHINTO DAN ISLAM DI JEPANG



BAB I: PENDAHULUAN
                Agama merupakan bagian dari manusia yang secara spiritual tidak dapat dipisahkan. Karena secara qodrati manusia mempunyai perasaan akan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Dari situ muncullah pelbagai kepercayaan. Ada yang percaya dengan kekuatan alam, dewa-dewa, wahyu dsb.

               Jepang negara yang dikenal dengan kemajuan teknologinya memiliki sebuah kepercayaan animisme yang dipercaya telah menjadi kepercayaan secara turun-temurun yaitu agama Shinto.

               Pembahasan tentang agama Shinto sendiri tergolong cukup unik karena Proses terbentuknya, bentuk-bentuk upacara keagamaannya maupun ajaran-ajarannya memperlihatkan perkembangan yang sangat ruwet. Banyak istilah-istilah dalam agama Shinto yang sukar dialih bahasakan dengan tepat ke dalam bahasa lainnya. Kata-kata Shinto sendiri sebenarnya berasal dari bahasa China yang berarti “jalan para dewa”, “pemujaan para dewa”, “pengajaran para dewa”, atau “agama para dewa”. Dan nama Shinto itu sendiri  dipergunakan pertama kalinya untuk menyebut agama asli bangsa Jepang itu ketika agama Buddha dan agama konfusius (Tiongkok)  memasuki Jepang pada abad keenam masehi.
Pertumbuhan dan perkembagan agama serta kebudayaan Jepang memang memperlihatkan kecenderungan yang asimilatif. Sejarah Jepang memperlihatkan bahwa negeri itu telah menerima berbagai macam pengaruh, baik kultural maupun spiritual dari luar. Semua pengaruh itu tidak menghilangkan tradisi asli,  pengaruh-pengaruh dari luar tersebut justru memperkaya kehidupan spiritual bangsa Jepang. Antara tradisi-tradisi asli dengan pengaruh-pengaruh dari luar senantiasa dipadukan menjadi suatu bentuk tradisi baru yang jenisnya hampir sama. Dan dalam proses perpaduan itu yang terjadi bukanlah pertentangan atau kekacauan nilai, melainkan suatu kelangsungan dan kelanjutan. Dalam bidang spiritual, pertemuan antara tradisi asli Jepang dengan pengaruh-pengaruh dari luar itu telah membawa kelahiran suatu agama baru yaitu agama Shinto, agama utama di Jepang.

Sedangkan Agama Islam adalah agama yang muncul di jazirah arab dengan perantara seorang rasul yaitu Muhammad SAW untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang dengan Al-quran sebagai pedoman hidup yang membimbing kehidupan manusia baik dalam aspek lahiriyyah ataupun bathiniyyah.

Islam juga pernah menguasai seperempat dunia pada masa dinasti ottoman hal ini memungkinkan adanya hubungan dinasti tersebut dengan penguasa di negeri sakura ini.
Islam mengajarkan untuk menyebarkan ajarannya karena Islam adalah jalan kedamaian bagi umat manusia, pertanyaannya bagaimanakah proses  masuknya Islam ke Jepang dan perkembangannya di sana dan bagaimana perkembangan agama Shinto sendiri di Jepang?
Rumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka makalah ini akan memfokuskan pembahasan pada
1. Apa yang dimaksud dengan agama Shinto?
2. Apa yang dimaksud dengan agama Islam?
3. Bagaimana Perkembangan agama Shinto dan Islam di Jepang?

BAB II : PEMBAHASAN

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, agama yang berarti "tradisi".
Secara garis besar Shinto adalah agama yang percaya terhadap dewa-dewi dan islam adalah agama yang percaya terhadap satu tuhan, pada masa dinasti Ottoman islam telah menguasai berbagai daerah di dunia dan menjadi negara adi kuasa pada waktu itu, maka terjadilah hubungan diplomatik secara langsung maupun tidak langsung.
Pengertian Agama Shinto

Shinto adalah agama animisme, kepercayaan animisme berdasarkan kamus ilmiyah populer adalah suatu faham bahwa alam ini atau semua benda memiliki roh tau jiwa. Kepercayaan ini telah lama tumbuh di jepang hal ini dapat kita lihat dalam panyebutan kata Dewa dalam bahasa Jepang adalah Kami. Makna Kami tersendiri digunakan untuk menunjukkan segala sesuatu yang lebih besar dari pada manusia.

Shinto sendiri banyak mendapat pengaruh dari agama lain. Hal ini bisa kita lihat dari nama Shinto sendiri. Shinto berasal dari Shin dan To. Arti kata Shin adalah roh dan To adalah jalan. Jadi Shinto mempunyai arti lafdziah jalannya roh, baik roh-roh orang yang telah meninggal maupun roh-roh langit dan bumi. Kata “To” berdekatan dengan kata “Tao” dalam taoisme yang berarti “jalannya Dewa” atau “jalannya bumi dan langit”. Sedang kata Shin atau Shen identik dengan kata Yin dalam taoisme yang berarti gelap, basah, negatif dan sebagainya lawan dari kata Yang. Dengan melihat hubungan nama Shinto ini, maka kemungkinan besar Shintoisme dipengaruhi faham keagamaan dari Tiongkok.

Dalam berkeyakinan sendiri penganut agama ini jelas memuja roh-roh atau spirit dan juga roh-roh orang yang telah meninggal dengan mempersembahkan sesajian.
Pengertian Agama Islam

Berbeda dengan agama Shinto, agama Islam adalah agama monoteisme yang percaya akan satu Tuhan dan termasuk golongan agama samawi, secara etimologi Islam sendiri berasal dari bahasa arab yang berupa kata kerja yaitu Aslama-Yuslimu yang berarti berserah diri, tunduk dan patuh.

Dari segi terminologi adalah agama samawi yang dibawa oleh seorang utusan Allah SWT yaitu Muhammad SAW sebagai penutup para utusan Allah SWT yang terdahulu dan memberikan petunjuk kepada seluruh umat manusia untuk menegakkan At-Tauhid yaitu mengesakan Allah SWT dan meniadakan sekutu baginya.

Kitab suci umat Islam adalah Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam menjalankan kehidupan umat Islam. Dalam agama Islam pula terdapat rukun Iman dan Rukun Islam.
Rukun Iman adalah percaya kepada Allah, percaya kepada malaikatnya, percaya pada kitab-kitab yang diturunkannya, percaya terhadap utusan-utusannya, percaya terhadap hari kiamat, dan percara terhadap takdir. Sedangakan Rukun Islam adalah syahadat, sholat, zakat, puasa, naik haji apabila mampu.

Perkembangan Agama Shinto di Jepang

Perkembangan agama Shinto sendiri tidak lepas dari perkembangan keyakinan dan kepercayaan penganut agama tersebut. Pada awal mulanya para penganut Shintoisme  memuja  roh-roh dan kekuatan  gejala-gejala alam.

Pada abad pertengahan abad ke enam belas masehi sebagian pendeta Budha dari China dan korea datang ke Jepang, dan selama berabad-abad antara agama Shinto dan agama Buddha telah terjadi percampuran yang sedemikian rupa (bahkan boleh dikatakan agama Shinto berada di bawah pengaruh kekuasaan agama Buddha) sehingga agama Shinto senantiasa disibukkan oleh usaha-usaha untuk mempertahankan kelangsungan “hidupnya” sendiri.

Pada perkembangan selanjutnya, dihadapkan pertemuan antara agama Budha dengan kepercayaan asli bangsa Jepang (Shinto) yang akhirnya mengakibatkan munculnya persaingan yang cukup hebat antara pendeta bangsa Jepang (Shinto) dengan para pendeta agama Buddha, maka untuk mempertahankan kelangsungan hidup agama Shinto para pendetanya menerima dan memasukkan unsur-unsur Buddha ke dalam sistem keagamaan mereka. Akibatnya agama Shinto justru hampir kehilangan sebagian besar sifat aslinya. Misalnya, aneka ragam upacara agama bahkan bentuk-bentuk bangunan tempat suci agama Shinto banyak dipengaruhi oleh agama Buddha. Patung-patang dewa yang semula tidak dikenal dalam agama Shinto mulai diadakan dan ciri kesederhanaan tempat-tempat suci agama Shinto lambat laun menjadi lenyap digantikan dengan gaya yang penuh hiasan warna-warni yang mencolok.

Pengaruh agama Buddha yang lain tampak pada hal-hal seperti anggapan bahwa dewa-dewa Shintoisme merupakan Awatara Buddha (penjelmaan dari Buddha dan Bodhisatwa), Dainichi Nyorai (cahaya besar) merupakan figur yang disamakan dengan Waicana (salah satu dari dewa-dewa penjuru angin dalam Budhisme Mahayana), hal ini berlangsung sampai abad ketujuh belas masehi.

Setelah abad ketujuh belas timbul  gerakan untuk menghidupkan kembali ajaran Shinto murni di bawah pelopor Kamamobuchi, Motoori, Hirata, Narinaga dan lain-lain dengan tujuan bangsa Jepang ingin membedakan “Badsudo” (jalannya Buddha) dengan “Kami” (roh-roh yang dianggap dewa oleh bangsa Jepang) untuk mempertahankan kelangsungan kepercayaannya.

Pada abad kesembilan belas tepatnya tahun 1868 agama Shinto diproklamirkan menjadi agama resmi negara, pada saat itu agama Shinto mempunyai 10 sekte dan 21 juta pemeluknya. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa paham Shintoisme merupakan ajaran yang mengandung politik religius bagi Jepang, sebab saat itu taat kepada ajaran Shinto berarti taat kepada kaisar dan berarti pula berbakti kepada negara dan politik negara.
Perkembangan Agama Islam Di Jepang.

Hubungan antara agama Islam dan Jepang masih dibilang sangant belia hal ini dikarenakan adanya kebijakan untuk mengasingkan diri sekitar selama 200 tahun dari pertengahan abad 17 sehingga tidak adanya kontak Jepang dengan Islam. Barulah pada zaman Meiji pada tahun 1875 atau 77, literatur-literatur mengenai Islam yang berasal dari Eropa atau China, mulai diterjemahkan dan masuk ke Jepang.

Kemudian, pada tahun 1890 terjadi sebuah peristiwa yang mempertemukan Jepang dan Islam. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa Kapal Ertogrul. Sebuah kapal Turki karam di perairan Jepang. Dari 600  penumpang hanya 69  yang selamat. Pemerintah maupun rakyat Jepang bersama-sama berusaha menolong para penumpang yang selamat dan mengadakan upacara penghormatan bagi arwah penumpang yang meninggal dunia. Mereka yang selamat, akhirnya dapat kembali ke negara mereka berkat sumbangan yang berhasil dikumpulkan dari seluruh rakyat Jepang. Peristiwa ini menjadi pencetus dikirimnya utusan pemerintah Turki ke Jepang pada tahun 1891. Hubungan yang sangat baik dengan Turki ini, juga membawa kemenangan bagi Jepang dalam peperangan dengan Rusia yang dimulai pada tahun 1904. Diceritakan, pada saat armada kapal kekaisaran Rusia melintasi laut Baltik, Turki memberitahukan hal tersebut kepada Jepang, dan karena itu, Jepang meraih kemenangannya. Setelah peristiwa tersebut,  sekitar tahun 1900-an, untuk pertama kalinya warga muslim Jepang pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji. Sejak saat itu, Islam mulai dikenal secara luas.

Pada masa Perang Dunia II terjadi “ledakan Islam”  dimulai oleh kelompok militer di Jepang melalui pendirian pusat-pusat studi untuk mengkaji Islam dan Dunia Muslim. Pilot-pilot tempur Jepang yang pergi ke negara-negara Asia Tenggara sebagai tentara semasa Perang Dunia II diajarkan untuk mengucapkan La ilaha illa Allah digunakan ketika pesawat-pesawat mereka ditembak jatuh di kawasan-kawasan ini supaya mereka tidak dibunuh. Sebuah pesawat Jepang telah dikatakan ditembak jatuh dan pilotnya diamankan oleh penduduk setempat. Apabila pilot itu mengucap kata-kata "ajaib" itu, mereka merasa terharu ketika penduduk-penduduk itu berubah sikap terhadapnya, dan memperlakukannya dengan baik. Telah dikatakan bahwa pada waktu itu, lebih dari 100 buah buku dan jurnal mengenai Islam telah diterbitkan di Jepang. Bagaimanapun, pusat-pusat pengkajian ini sama sekali tidak diketuai atau diurus oleh orang-orang Muslim dan tujuannya bukan untuk penyebaran Islam. Tujuan yang sebenarnya adalah untuk menambah wawasan militer dengan pengetahuan yang diperlukan mengenai Islam dan orang Muslim karena terdapat komunitas-komunitas Muslim yang besar di kawasan-kawasan yang diduduki oleh angkatan militer Jepang di negara  RRT dan negara-negara Asia Tenggara. Oleh karena itu, dengan berakhirnya perang pada tahun 1945, pusat-pusat pengkajian ini menghilang sama sekali.

PENUTUP

Penulis sudah berusaha maksimal baik dalam pengumpulan data, hati-hati dalam penarikan kesimpulan sekalipun masih banyak kekuragan dan kesalahan baik dalam penyusunan kata-kata maupun pengambilan sumber tulisan. Adapun hal-hal tersebut penulis memohon maaf  yang sebesar-besar nya.

0 Komentar