Kekayaan yang tertunda


    Jika kita berbicara mengenai kehidupan manusia di era zaman sekarang ini, sudah pasti yang terbersit di benak kita dunia yang sangat berkembang entah itu dalam teknologi, transportasi atau dalam pemikiran manusia itu sendiri, karena tanpa kita sadari  sudah 142 tahun telepon ada dalam genggaman manusia sejak pertama kali di temukan oleh Antonio Meucci,  seorang ilmuan yang berasal dari negri kanguru itu. Sama halnya dengan pesawat terbang, sudah di temukan oleh Wright bersaudara semmenjak tahun 1903,  dan kini kita berada di pembuka tahun 2018.  Kita semua tentu mengetahui bagaimana perkembangan pesawat terbang  melesat  pesat, hingga manusia pada zaman now ini dapat dengan mudah berpergian dari satu tempat ke tempat lain bahkan dari satu negara ke negara lain.

       Karena adanya perkembangan zaman yang begitu pesat maka tidak mengherankan jika orang-orang yang hidup pada zaman sekarang ini senang berlomba-lomba dalam pelbagai bidang,  entah itu dalam artian  positif seperti berlomba-lomba dalam ibadah (sebagai mana dicontohkan para sahabat rasul yg selalu senantiasa berlomba-lomba dalam ibadah)dan bisa juga berlomba-lomba dalam mengukir prestasi, atau dalam arti  negatif,  semisal berlomba-lomba dalam mengumpulkan harta tapi lupa akan ibadah kepada Rabbnya, berlomba-lomba dalam menghambur-hamburkan uang tapi lupa untuk bersedekah kepada fakir miskin, berlomba-lomba untuk menunjukan dia yang paling pintar tapi lupa untuk mengamalkan apa yang ia dapatkan. Tidak dapat kita pungkiri bahwa ini merupakan salah satu bentuk revolusi  pemikiran manusia  dari zaman ke zaman.

           Jika dahulu orang berlomba-lomba meraih kekayaan dengan bekerja sangat keras dan berdoa, maka di zaman sekarang ini banyak orang yang ingin meraih kekayaan hanya dengan berusaha keras dan melupakan hakikat manusianya, yaitu meminta kepada Rabb nya.

          Masih Banyak sekali  kita temui di zaman sekarang manusia yang tidak mempercayai kekuatan doa. Banyak dari kita yang beranggapan bahwa doa bukan  cara untuk meraih apa yang diinginkan.  Secara garis besar, banyak orang yang masih tidak percaya bahwa rabb nya bisa membantunys dalam segala aspek kehidupan.

       Meskipun secara kualitas, doa adalah setengah dari ibadah wajib.  Namun dari segi substansinya, doa merupakan inti dari setiap ibadah yang kita lakukan kepada sang pencipta. Seperti halnya sholat yang kita dirikan terdiri dari kumpulan doa, dan ibadah lainnya.

         Berdoa juga merupakan penghancuran nilai- nilai egoisme  kemanusiaan yang selalu identik dengan kesombongan, keangkuhan, dan merasa bahwa setiap keberhasilannya adalah jerih payah sendiri tanpa menganggap adanya campur tangan Allah sebagai zat pengatur. Itulah sebabnya Rasulullah mengatakan bahwa berdoa adalah ruh nya ibadah.
 Banyak sekali hamba yang bercita-cita untuk menjadi orang yang kaya. Namun kita perlu mengetahui penafsiran “ kaya “, dari segi apa kita harus “ kaya “ karena nyatanya pada generasi millenial ini, sangat banyak  tercipta alat – alat baru dengan teknologi canggih yang dapat menjadikan kita kaya harta tapi tidak kaya moral. Banyak harta namun  sedikit membantu .

         Tentu sangatlah indah dan juga pasti menjadi cita-cita dari setiap insan untuk menjadi orang yang kaya namun tidak hanya kaya dunia namun juga kaya akhirat,tentu sudah sangat ma’lum untuk menuju kekayaan yang haqiqi itu harus disertai dengan ikhtiar dan do’a.
Sesuai dengan firman Alah SWT
(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ)

Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (Al Baqarah:186)
Dan juga Allah berfirman dalam Surat-17 Al-Israa’ ayat-19:
وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُوراً
“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha (berikhtiar) ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya (ikhtiarnya) dibalasi dengan baik.”

      Namun seringkali manusia merasa sombong dengan hasil usahanya sendiri, di benaknya semua yang ia dapatkan di karnakan hasil jerih payahnya tanpa ada campur tangan dari Sang pencipta, inilah hal yang membuat cita-cita untuk kaya di dunia akhirat menjadi khayalan belaka di karenalan kesombongan manusia itu sendiri, karena  kekayaan yang sesungguhnya ialah mendapatkan ridho dari Allah SWT serta dapat mengamalkan apa-apa yang di perintahkanNya, berbagi apa-apa yang telah di berikanNya dan menjauhi apa-apa yang di larang-Nya.

0 Komentar