Long Distance Relationship

March, 2015.
         Hari ini, di depan lautan yang membentang luas, didepan ombak sore yang bersemangat menyambut malam, di depan bebatuan indah yang diselimuti angin senja, aku bersaksi bahwa aku sedang dan sudah merindukannya.

         Dia yang kurindu adalah dia yang menghiasi hariku dahulu.

          Hari ini, kuajak ingatanku menelusuri kembali masa itu, masa saat ada dia yang kurindu..

 May, 2013

         Pagi ini, aku bangun lebih awal, mandi lebih awal, dan mulai bersolek lebih awal. Tak biasanya aku begini, bayangkan jam 4 subuh sudah kurelakan tubuhku diterpa air pagi. Namun, semangatku pagi ini bukan tanpa alasan, akan ada acara besar yang disaksikan oleh ratusan orang hari ini, acara yang akan memberi sejarah baru dalam hidupku, acara yang sudah ber tahun tahun aku tunggu, acara kelulusan SMA ku. Akhirnya setelah melewati proses panjang, hari ini aku lulus.

      “Kebayanya sudah ibu taruh diatas kasur ya” teriak ibu dari arah dapur.
       Hari ini ibu sibuk sekali, pagi pagi sekali tumben sudah  memasak. Katanya sebelum berangkat perut tetap harus diisi.

       HP-ku berdering, ada pesan dari Melati.
       'Ra, mau berangkat jam berapa? Kita ketemu di sekolah aja ya’

      Melati itu sahabatku sejak SMP. Banyak yang bilang kita adalah 2 serangkai, kemana mana berdua. Melati itu istimewa untukku. Dia cewek pemberani, kalau ada yang macam macam dengan kami, dia selalu  menjadi yang pertama melawan.
‘oke’

      Jam 10.00 pagi acara sudah dimulai, teman- teman sudah berada di bangku wisudanya masing masing, tinggal menunggu pembacaan surat kelulusan dan satu persatu akan dipanggil ke atas panggung untuk pemberian piagam.
     Jam 12.00 siang acara selesai. Iya, selesai termasuk pertemuan terakhirku dengan teman- temanku. Bukan, mereka adalah keluargaku. Tiga tahun bersama bukan waktu singkat untuk kami saling berbagi dan mengenal. Isak tangis sudah pasti mengiringi, mengingat setelah ‘acara perpisahan’ ini kami akan mulai mencari jati diri masing masing. Mengejar impian yang sudah kami bicarakan dengan semangat sebelum acara kelulusan hari ini.
      “Ra, kamu jadi kapan berangkatnya?”
       Siang itu Melati menghampiriku dengan sesenggukan. Aku tau dia sedih atas keputusanku yang ingin melanjutkan kuliah di luar negeri. Padahal, dari kelas 10 kami sudah sepakat untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi yang sama. Namun apa boleh dikata, takdir berkata lain. Maafkan aku ya Melati.
      “Masih belum tau ti, tapi ada kemungkinan bulan Oktober ti. Udahlah jangan sedih terus, nanti aku ikutan sedih” kataku sambil berusaha menenangkan dan memeluknya.
     “Kamu hati hati ya Ra, jangan lupain aku. Kalau sudah mau berangkat kabarin ya” Melati mencoba menghapus air matanya.
      “Pasti ti.”
       Setelah itu Melati pulang bersama orangtuanya, dan satu persatu  temanku yang lain juga sudah kembali ke rumah mereka masing masing. Meninggalkan sekolah yang sudah memberikan kami banyak sekali kenangan.

7 oktober 2013

      “Ra, kopermu sudah dimasukkan kedalam mobil belum?” teriakan ibu membuyarkan lamunanku pagi itu. Dapat aku dengar suara gaduh ibuku dari dalam kamar mbak asri di belakang, dia sibuk menyiapkan banyak hal untuk keberangkatanku pagi ini. Iya, aku akan pergi hari ini. Meninggalkan ibu, ayah, teman- teman, termasuk bakso, pangsit, siomay dan martabak manis kesukaanku.

      “Sudah bu” jawabku sedikit berteriak dari ruang tamu.
      “Kalau sudah cepat itu panggilin ayah dikamar, kita sudah harus berangkat”
      Ibu melangkah pergi ke arah mobil, sibuk membawa ranselku dan bekal untuk perjalanan ke bandara di kedua tangannya.

      Aku bergegas ke kamar memanggil ayah. Namun langkahku terhenti saat ingin membuka pintu. Samar- samar dapat aku dengar ayah sedang berdo’a dengan khusyu:. Kubuka pintu pelan- pelan untuk memastikan dan mengintip ayah. Benar, ayah sedang di atas sajadahnya, terlihat mengangkat tangannya ke atas dan…menangis.  Ini kali pertama aku melihat ayah menangis. Sebelumnya aku tak pernah melihat ayah menangis, bahkan saat ditimpa hari- hari sulit pun ayah tak pernah menangis. Tak terasa air mataku ikut menetes. Tiba tiba ada rasa tak tega meninggalkan ayah dan ibu sendirian. Jika kamu tak tau, aku anak bungsu dari dua bersaudara, kakakku kuliah di belanda, sudah semester terakhir. Dan kini giliranku untuk pergi juga. Mungkin itu sebabnya ayah menangis.
      Kulirik jam ditangan, mataku membelalak kaget dan spontan berteriak “ ayah kita telat”.

      Di bandara, semua sudah siap berkumpul. Ada keluarga besarku yang juga turut hadir, termasuk teman- temanku yang tak kusangka ternyata sudah menunggu di bandara sejak tadi.
      Satu persatu memberikanku pelukan dan doa. Termasuk ibuku yang sudah menangis sejak di perjalanan tadi.

     "Pokoknya Ara jaga diri baik- baik ya" ayah yang akhirnya duluan buka suara, mengingat ibu yang terus menangis dan sulit untuk bicara.

     "Iya yah, pokoknya ayah sama ibu juga baik- baik ya. Doakan Ara terus”

       Begitulah, kemudian aku pergi, meninggalkan orang- orang yang amat sangat aku cintai.
       Namun sebenarnya, bukan cerita tentang kelulusan dan perpisahanku di bandara yang ingin aku ceritakan padamu. Ceritanya belum dimulai. Ceritanya baru akan di mulai setelah aku lepas landas di bandara Heathrow, Inggris.

     Setelah menempuh sekurangnya 15 jam perjalanan Jakarta-london, aku dan beberapa calon mahasiswa yang lain di sambut hangat oleh para kakak senior di bandara Heathrow kala itu.

       Tentu, kala itu bukan hanya aku yang berangkat ke London, ada beberapa calon pelajar lainnya yang bertujuan sama denganku. Beberapa diantara nya adalah Alya. Gadis  yang kuajak berkenalan di pesawat tadi. Dia cantik, ramah, dan ternyata dia anak yang lumayan asik. Yaa tidak terlalu kakulah untuk bertemu orang baru seperti aku. Sayangnya kami tidak tinggal di 1 kota yang sama.

       Ceritaku dimulai saat acara acoustic night malam itu. Hanya informasi, acoustic night adalah salah satu acara musik yang bertempatkan di KBRI London. Sebanyak 235 mahasiswa dari berbagai universitas di London dan mahasiswa dari kota- kota lain juga ikut hadir pada acara ini.

      Acara ini bertujuan untuk mempererat sillaturahmi antar pelajar  baru dan  lama. Nantinya kami akan saling berkenalan dan bertukar cerita tentang banyak hal. Seperti kuliah misalnya.

     Malam itu, kondisi badanku tidak begitu sehat. Dari kemarin memang aku sebenarnya sedang tidak enak badan. Mendadak aku jadi tidak terlalu menikmati acara.

“ All, antar aku cari senior yuk?”  kataku sambil menepuk pelan pundak alya, yang kala itu sedang asik menikmati alunan musik yang di tampilkan oleh salah satu mahasiswa .

“Lah mau ngapain?”
“Mau minta kamar”
“Kamar apa?”
“Aku gak enak badan, mau istirahat aja”

“Bentar ya” Alya celingak celinguk seperti sedang mencari seseorang. Aku tak mengerti apa yang ingin ia lakukan.

“Naah itu, ayok” tiba tiba Alya menunjuk ke segerombolan anak laki laki yang sedang asik berbincang dan sesekali tertawa. Beberapa diantaranya ada yang kukenal wajahnya. Para senior yang waktu itu menjemput kami di bandara.
   Aku dan Alya akhirnya bergegas mendekati para senior itu.

“Maaf ka, mau tanya disini ada kamar gak?” aku coba berbicara sesopan mungkin.

“Kamar apa?” salah satu mahasiswa menjawab

“Ya kamar apa aja ka, buat istirahat”

“Lagi acara kaya gini kok malah pengen tidur, jarang- jarang loh acaranya” nada bicaranya terdengar seperti meledek.

“Iya kak” aku hanya tersenyum masam.

“Ada sih kamar.. tapi tau gak tempatnya?” jawabannya mengundang tawa teman- teman nya yang kala itu melihat kami dengan serius. Bodohnya aku malah menggeleng bingung.

“Ya gak tau lah dia, udah anter aja sono siapa tau cocok” teman yang satunya ikut meledek.

      "Sumpah, apa sih maksud mereka" seruku dalam hati.

     “Ya udah sini saya antar”

     Aku dan Alya hanya membuntuti laki laki itu. Sepanjang jalan kami hanya saling diam, tak ada pertanyaan basa basi yang biasanya dilakukan dari orang orang yang baru kenal.
      Setelah sampai di salah satu kamar, dia mengetuk pintu dengan pelan. Setelah beberapa menit kami menunggu, akhirnya keluar seorang wanita paruh baya sambil mengucek matanya. Sepertinya dia baru bangun tidur.

      “Mbak ini anak anak mau pada numpang tidur sebentar. Gapapa kan? Nitip”

   “ Oh iya gapapa dit, saya pikir ada apaan” si mbak tersenyum ke arah kami.

    Setelah itu dia cium tangan si mbak untuk pamit. Yang kulihat, sebenarnya dia lelaki sopan. Tapi gak tau kenapa beda kalo lagi sama temen- temennya.

  “Terima kasih ka” kata Alya ketika lelaki itu hendak pergi.

    “Disini dulu ya, abis kamar tamunya di kunci, kuncinya bukan sama saya. Gapapa kan di kamar mbak dapur dulu?”

    Aku hanya terdiam disamping Alya, sudah malas berbicara. Paling hanya sesekali tersenyum. Tubuhku sudah tak bisa diajak berkompromi.

     “Iya kak gak papa” Alya menjawab sambil tersenyum. Samar aku lihat dia melirikku dan tersenyum kecil padaku.

      “Yang satu lagi gak bilang makasih” suaranya sedikit berbisik ke arah alya. Aku tau dia sedang menyindirku.

      “Oh iya kak, makasih” kataku pasrah.

      “Nama saya adit” katanya sambil berlalu pergi. Aku dan Alya hanya terdiam sebelum akhirnya kami masuk dan beristirahat.
...
    Adit adalah salah satu mahasiswa london dengan jurusan arsitektur di university college London atau dikenal dengan UCL. Sedangkan aku tinggal di kota Manchester. Kami tinggal di kota yang berbeda. Butuh waktu 4 jam untuk menempuh perjalanan Manchester-london menggunakan train.

     Sejak acara acoustic night malam itu, ada seseorang yang tidak kukenal mengirimkan pesan padaku. Dan setelah aku Tanya ternyata itu Adit. Entah dapat dari siapa dia nomorku.
      Menurutku, Adit berbeda dari lelaki kebanyakan yang seperti baru berhasil mendapatkan nomor wanita yang dia incar dengan mengirim banyak spam ‘lagi apa?’ di setiap waktu atau ‘udah makan belum?’ di setiap jam makan.

    Jujur saja, aku sering menjumpai laki laki dengan tipe yang seperti ini. Its so fucking annoying.

     Tapi Adit tidak, Dia hanya menghubungiku sesekali. Itu pun hanya kalau dia sedang ingin berkunjung ke Manchester, selebihnya tidak. Oh iya, dan pesan ‘apa kabar’ di setiap pagi. Lalu ketika kujawab ‘baik’ dia tak membalas lagi pesan ku. Aku pernah bertanya padanya tentang alasan mengapa dia tak pernah menjawab balasanku. Dan jawabannya hanya “seenggaknya saya tenang kamu baik baik aja”.
    Kamu tahu? ini benar- benar terjadi hampir setiap pagi. Hanya sapaan ‘apa kabar’ dan jawaban ‘baik’. Lalu sudah.

December,2014

   HP-ku berdering, ada pesan masuk dari Adit.
‘apa kabar?’
    Aku tersenyum menatap layar HP. Seperti biasa, aku hanya membalas singkat pesannya.
‘baik’.
    Entah sejak kapan aku mulai dekat dengannya. Kami mulai sering mengirim pesan lewat WhatsApp, atau hanya saling tukar cerita lewat panggilan telepon di setiap malam. Pada dasarnya, dia orang yang asik. Sebenarnya dia bukan tipikal orang yang banyak bicara, atau mungkin bisa dibilang dia cuek. Tapi entah, kalau sedang bicara dengannya di telepon dia selalu jadi yang pertama membawa suasana jika sedang sama- sama diam kehabisan topik. Aku banyak bertukar pikiran dan pendapat dengannya. Dia juga pendengar yang baik. Sesekali jika aku sedang bad mood atau ada masalah apapun, dia selalu jadi orang pertama yang aku telpon. Entah kenapa menurutku dia selalu punya solusi.

    Jujur saja, aku mulai merasa nyaman dengannya. Dia orang yang tenang, santai, tak banyak bicara, sopan, ambisius, dan yang terpenting penyabar. Aku benar benar mengagumi caranya menghargai orang. Entah harus kasih contoh apa ke kalian agar kalian tahu bahwa Adit benar- benar sosok lelaki paling sabar yang pernah aku kenal. Dia bahkan jadi satu- satunya lelaki yang paling bisa menangani sifat kekanak -kanakan ku.

     Dia sering mengatakan kalau dia ingin sekali menjadi arsitek terkenal. Bisa keliling dunia untuk melihat banyak bangunan unik di setiap negaranya. Katanya, dia ingin mendatangi setiap inspirasi.

    Aku hanya senyum - senyum sendiri kalau dia sedang berbicara tentang keinginan dan cita - cita nya. Kamu pasti bisa Adit.

     Siang itu, sehabis pulang kuliah, Adit menghubungiku. Dia bilang nanti sore dia akan  datang ke Manchester untuk menemuiku. Ada seseuatu yang ingin ia bicarakan denganku.
Mendadak hatiku jadi tidak karuan. Khayalan ku melambung ke mana mana.

   Jangan- jangan Adit mau mengungkap kan perasaannya padaku. Tapi kalau memang iya, untuk apa jauh jauh kemari, lewat HP juga aku sudah bahagia. Tanpa sadar, aku jadi senyum- senyum sendiri.

    Sore itu, aku jemput Adit di stasiun. Ternyata Adit belum sampai. Aku menunggu di salah satu toko makanan di dalam stasiun. Dan ya tuhan.. Lagi lagi hati ku semakin tidak karuan. Aku jadi deg degan sendiri. Apa yang harus aku lakukan jika Adit benar benar akan mengungkapkan perasaannya.

      “Kenapa senyum- senyum sendiri?” tiba- tiba ada suara berbisik di telingaku. Spontan aku menoleh ke sumber suara dan mendapati Adit sedang tersenyum lebar ke arahku.

     “Loh Adit! Kapan sampai? Kok aku gak lihat?"

      “Saya udah disini dari tadi, ngeliatin kamu senyum- senyum sendiri. Mikirin apaan sih?” dia meledek sambil tersenyum ke arahku. Sampai sekarang aku masih suka dengan senyum Adit. Manis.

   Aku hanya diam dan menunduk malu. Duh Adit kenapa sih ngeselinnya gak ilang- ilang.

    Sore itu, Adit ajak aku ke salah satu tempat makan didekat stasiun. Ini adalah tempat makan favorit kami. Setiap Adit datang ke Manchester, kami selalu makan dan menghabiskan waktu disini. Makanannya benar- benar enak, pemandangannya juga lumayan. Dan yang terpenting harganya terjangkau. Cocoklah untuk kantong pelajar.

     “Saya akan pulang Ra”

     Aku kaget mendengar kata-kata  mengejutkan yang keluar dari mulut Adit. Bahkan ketika kami baru duduk dan memesan makanan.

     “Ke Indo?”
      Dia hanya menjawab dengan anggukan kepala.
     “Kapan baliknya?”
     “Nggak tau juga sih”
    “Kok dadakan? Ada apa?”
    “Hehe enggak apa apa, mau pulang aja”
    “Kenapa?” aku mulai serius.
   “Kangen aja sama orang tua”
   “Loh aku juga kangen, tapi gak pulang tuh.”
    “Iya, kamu emang hebat” katanya sambil mengacak rambutku. Dia tersenyum. Sedangkan aku hanya mendengus kesal.

    Hari itu, aku kecewa. Ternyata hanya kalimat ‘saya ingin pulang’ nya yang ingin dia bicarakan pada ku. Tak ada basa basi lainnya, menanyakan kabar saja tidak. Tahu gitu, ngapain dia capek- capek ke sini, lewat pesan juga bisa.

    Aku tak habis pikir, sejak kapan Adit begini, biasanya dia tak akan mebiarkan ego mengalahkan tekad nya. Dia yang selalu bilang kalau pulang untuk orang yang belum bisa jadi apa apa itu penakut namanya. Dia juga yang selalu menasehatiku saat aku benar- benar rindu dengan orang rumah dan ingin pulang saja.

“Jangan pulang, sayang uangnya. Orangtua kamu seharusnya bisa ngeluarin uang itu untuk keperluan yang lain. Tapi malah habis untuk biaya kepulangan kamu doang”

     Tapi dia sendiri begitu. Bilang tiba- tiba mau pulang tanpa alasan yang jelas, mungkin iya jika ada keperluan mendadak, tapi ini tidak.

     Seharian aku hanya mengeluh kesal pada Adit didalam hati. Iya, 40% kesal, selebihnya rasa takut. Takut rindu.

January,2015

     Sudah sebulan sejak kepulangan adit ke Indonesia. Tak ada kabar darinya sama sekali. Bahkan jika itu hanya berisi ‘apa kabar’. Bukannya tak mau, tapi aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali, tapi tak ada jawaban. Dia tidak sama sekali mebalas pesanku atau mengangkat telpon ku.

     Entah bagaimana perasaan bisa bermetamorfosis begitu cepat hanya karena rasa nyaman. Jujur saja, aku mulai merindukannya sejak tak ada lagi panggilan teleponnya di malam hari, atau ocehannya tentang bangunan dan rencana keliling dunianya. Atau bahkan sekedar pesan ‘apa kabar’ dari nya di pagi hari.

     Sumpah, rasanya kala itu aku benar benar ingin bicara dengan Adit. Ada banyak yang ingin aku ceritakan padanya. Tentang nilai ujianku yang membaik, tentang aku yang akhirnya berhasil membuat martabak manis kesukaanku, atau tentang restoran favorit kami yang mengeluarkan menu baru, juga tentang aku yang sangat merindukannya.

    Beberapa hari belakangan, aku jadi tak semangat melakukan apapun. Kuliah juga hanya melamun mendengarkan dosen berbicara. Makan saja jadi tak begitu nafsu. Ini hak kalian jika ingin mengatakan aku overacting. Tapi kenyataannya, memang itu yang aku rasakan pada saat itu.

    Lama- lama aku bosan dengan semuanya, aku mulai marah dan kecewa. Ngapain juga aku memikirkan dia yang tidak memikirkanku. Dia saja belum tentu punya perasaan yang sama denganku, mungkin saja kan selama ini dia hanya menganggapku adik kecil yang harus dilindungi dan diberi arahan. Atau mungkin saja dia hanya menganggapku sebagai teman biasa. Kalau dia suka aku, dia pasti bilang. Bukan tiba- tiba menghilang tanpa kabar.

    Waktu itu kucoba membuang bayangannya jauh jauh, aku bukan wanita bodoh yang dibutakan oleh perasaan. Aku tak bisa seterusnya bergantung padanya. Baik jika ini mau mu Dit.

February, 2015.

   HP- ku berdering, ada pesan masuk. Aneh tengah malam gini ada yang mengirim pesan. Kuraih ponselku di atas meja untuk melihat pesan siapa yang masuk.

   ‘Ra,saya kangen’.

Mata ku membelalak kaget, sumpah demi tuhan itu pesan dari Adit! Aku bahagia setengah mati. Tanpa pikir panjang langsung saja kujejali dia dengan beribu pertanyaan. Aku kesal, aku marah, aku kecewa, dan aku bahagia.

     Perasaanku campur aduk, tak sabar menunggu jawaban dari Adit. Padahal waktu sudah menunjukkan jam 1 pagi, namun rasa kantukku dikalahkan oleh rasa bahagia yang akhirnya mendapat pesan rindu dari Adit.

   Aku penasaran apa yang akan Adit jelaskan tentang dirinya yang tak pernah memberi kabar.

    Berjam- jam Kutunggu pesannya namun tak ada jawaban. Bahkan pesan ku saja tak dibaca. Duh Adit kemana sih? Kok lama banget.

    Semalam akhirnya aku ketiduran karena menunggu pesan yang tak kunjung dibalas Adit. Hal pertama yang aku lakukan saat bangun tidur adalah mengecek HP. Siapa tahu ada pesan dari Adit. Namun yang kudapati hari itu hanya kecewa. Adit tak membalas pesanku.

    Dan lagi- lagi aku marah, aku kecewa. Maksud dia apa sih? Ingin mempermainkan ku? Dasar brengsek. Aku berjanji pada diriku sendiri, jika nanti Adit menghubungiku, aku tak mau lagi menjawabnya. Biar dia tahu bagaimana rasanya dilupakan.

    Tadi siang di kampus, aku akhirnya memberanikan diri menghubungi Bara. Bara itu salah satu teman baiknya Adit. Aku penasaran dengankeadaan Adit yang sebenarnya. Termasuk kenapa dia tiba- tiba memutuskan kontak denganku.

    “Adit sakit Ra” suara Bara mulai parau.
    “maksudnya?”

Please Bara, don’t say bad news.

   “Iya dia sakit Ra, makanya gak pernah hubungi kamu”
   “Bad news ya Bar..?” aku sudah mulai lemas.
   Tak ada jawaban dari bara.
   “Sakit apa?”
   “Jantung, keadaanya kritis Ra. Ibunya yang kasih tahu aku kalau dia mulai kritis kemarin siang”
   Aku sudah tidak bisa lagi berbicara, yang kulakukan hanya mendengarkan cerita bara.
   “Sebelum dia pulang ke indo, dia jadi lebih sering lemes Ra. Kalau kecapean banget bisa pingsan tiba- tiba”
   “Kata ibunya, Adit emang punya penyakit jantung dari SMP..”
   “Makanya dia pulang, gak mau  berobat disini, maunya di Indo”
  Bara menarik nafas panjang.
  “Oh iya semalam adit hubungin kamu ya?”
  Aku hanya mengangguk, meski Bara tak melihat.

   “Dia juga titip salam tuh buat kamu. Katanya maaf gak ada kabar. Dia sibuk katanya”..

    “Haha dasar Adit, aku tau sih dia sakit, cuman dia gitu sih. Suka gak mau cerita. Sok sok an bilang sibuk, padahal lagi kritis” samar kudengar suara tawa Bara yang dibuat buat.
   Aku hanya mendengarkan Bara.

Kamu tahu kan bagaimana perasaanku kala itu? Tak perlulah kujelaskan. Aku yakin kamu tahu persis, tak ada orang yang baik- baik saja saat mendengar orang yang di sayang menderita.

    Kukira selama ini aku pendengar yang baik untuknya, ternyata tidak. Bagaimana bisa aku tak tahu dia sakit. Bagaimana bisa aku tak melihat raut wajahnya yang pucat saat bertemu denganku di tempat makan stasiun kala itu.

   “Tapi insya allah ada kemungkinan sembuh kok Ra, tenang aja” Bara mencoba menenangkanku.

   Kamu kenapa sih Dit gak pernah cerita, kalau sakit ya bilang aja. Seenggaknya aku jadi gak salah faham tentang sikap kamu yang tiba tiba berubah.

     Hari itu aku hanya mengeluh dalam hati, ingin rasanya bertemu dengan Adit dan berbicara semua yang ada pada hatiku. Terlepas dari itu, aku ingin menemaninya dihari- hari sulitnya. Tiba- tiba muncul perasaan bersalah dalam hatiku. Seharusnnya aku ada disaat saat kritismu Dit.

Tak perlulah kuceritakan lebih panjang tentang keadaan hatiku kala itu. Aku yakin kalian tahu.

March, 2015.

   Sore ini, ingatanku kembali ke tempat semula. Tempat dimana hanya ada aku, angin senja yang tiada henti menerpa wajahku, suara desiran ombak yang seakan ingin didengar, dan suara hatiku yang merindukannya.

     Sebulan dari percakapan telponku dengan bara sore itu, aku kembali mendapat kabar tentang Adit darinya. Dia bilang, Adit udah sembuh. Dia tak lagi merasakan sakit, sudah kembali ke rumah yang sesungguhnya. Rumah yang lebih tenang. Adit sudah pergi.

    Dia pergi bahkan sebelum keliling dunia. Dia pergi bahkan sebelum jadi arsitek hebat. Dia pergi bahkan sebelum pamit denganku. Kamu tau apa yang aku rasakan kala itu? Hancur.

    Aku sempat menyalahkan tuhan, membenci dunia, dan menyesali pertemuanku dengan Adit. Apa semua pertemuan dihadirkan untuk menjumpai perpisahan? Waktu itu, aku hanya ingin marah pada semesta.

    Maaf, aku tak ada disaat saat terakhirmu membuka mata. Seharusnya waktu itu aku tak menunggu kamu mengungkapkan perasaan. Seharusnya aku bilang saja. Entah apapun jawabanmu nanti. Aku menyesal.

    Waktu itu, aku membenci  semuanya.

     Sore ini, aku mengerti kenapa Tuhan mengambil kamu dari aku. Dia sayang aku Dit. Dia ingin aku belajar ikhlas, dia ingin aku belajar tentang cara mencintai yang sebenarnya. Dia ingin aku belajar menghargai setiap pertemuan. Tapi ternyata, Tuhan lebih sayang kamu,  Dit.

   Terima kasih Dit telah mengajariku banyak hal, mengajari aku menjadi orang yang kuat. Kamu benar, aku hebat. Tapi dimataku, tetap kamu yang paling hebat.
   So, I love you because the entire universe conspired to help me find you. And always  you.









































0 Komentar