Prioritas dalam Beragama

Oleh: Rifqi Maula, Lc.*

Khutbah Pertama

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dihadapkan dalam persoalan yang mengharuskan kita untuk memilih keputusan terbaik yang digunakan untuk mengatasi persoalan tersebut, dalam keadaan itu nalar kita bergerak tanpa komando untuk menimbang antara berbagai opsi yang tersedia, akal membandingkan kemungkinan-kemungkinan yang dihasilkan dari berbagai pilihan itu, mengaitkannya dengan berbagai dimensi yang bersangkutan, menyesuaikannya dengan unsur waktu dan tempat, hingga kita sampai pada menetapkan suatu keputusan yang benar-benar kita yakini, meski kadang berbeda dari jalan pikiran umum namun kita teguh sebab kita percaya keputusan inilah yang unggul.

Tak jauh dari contoh di atas, dalam beragama pun kita seringkali dihadapakan pada posisi memilih berbagai opsi, sayangnya konsep prioritas yang kita miliki dalam permasalahan kehidupan non-agama tidak terakomodir secara baik dalam kehidupan beragama. Kita masih sering meninggalkan substansi, mempermasalahkan wasilah (cara.red), sehingga kehidupan beragama kita terasa kering, berat dan tak bermakna. Kita lebih mudah mengeluarkan biaya umrah dan haji sunah dibanding menginfakkannya, masih pula senang mendirikan masjid-masjid megah berlebel nama kita dibanding mengurus anak yatim, atau pula lebih gemar meributkan perdebatan kusir yang kuno dibanding mencari jalan keluar mengatasi masalah-masalah social.

Hadirin sidang jum'at yang selalu meminta petunjuk dan pertolongan Allah swt dalam setiap langkahnya.


Memang dalam menentukan prioritas dalam perjalanan beragama kita tidak bisa “seenaknya” menentukan pilihan sesuai keinginan kita, sekiranya ada beberapa poin yang bisa dijadikan skala ukuran:

1. Mengutamakan amalan yang berkesinambungan


Nabi Muhammad sallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

أحب العمال إلي الله أدومها وان قل

Dawam disini bermakna contiunitas amalan yang dikerjakan, walaupun sedikit jika dilakukan dengan terus menerus itu lebih disukai Allah subhanahu wa ta’ala dibandingkan beramal banyak namun musiman.

Jadi berzikir dengan hanya beristigfar 3 kali setiap setelah shalat fardhu itu nilainya lebih baik disbanding beratus-ratus dzikiran yang hanya dilakukan sesekali. Di ceritakan dari Aisyah suatu ketika Nabi masuk dan melihat seorang wanita beribadah dengan berlebihan, beliau berkata siapa ini?, Aisyah berkata “beliau ini seorang yang rajin beribadah shalatnya banyak dan sujudnya lama” Nabi berkata “ janganlah kamu mengerjakan amalan yang sebenarnya kamu ridak akan kuat, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kamu bosan”.

2. Mendahulukan amalan sosial


Yang dimaksudkan dengan amalan social adalah berbagai amaliah yang manfaatnya dapat dirasakan orang lain. Allah berfirman :


أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُونَ عِندَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Artinya :

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Menurut Dr Yusuf Qardhawi dalam ayat ini Allah menjelaskan keunggulan berjuang di jalan-Nya di banding beribadah haji. Berjihad di jalan Allah jangan kita bayangkan dengan berperang membawa pedang mengalahkan musuh-musuh. Berjihad fi sabilillah sebenarnya memiliki makna lebih luas yang berorientasi pada mendakwahkan islam dan nila-nilanya agar lebih bisa dinikmati, dirasakan, serta dihayati bukan hanya para muslimin bahkan seluruh manusia. Oleh karena itu sangatlah masuk akal jika keutamaan berjuang di jalan Nya lebih utama dari berhaji sebab manfaat yang dihasilkan lebih menyeluruh.

Contoh lain adalah para wakil rakyat, mereka pun masuk dalam kategori ini sebab ditangan mereka lah berbagai keputusan yang nantinya akan membawa rakyat ke taman kesejahteraan atau malah akan mendorong rakyat dalam jurang kepapaan. Tak heran Imam Thabrani meriwayatkan hadits yang mengatakan bahwa satu hari bagi para pemimpin (orang yang diberi amanat.baca) yang adil

Itu lebih utama dibandingkan beribadah –yang kering- selama 6 tahun.

3. Mempertimbangkan keberlangsungan manfaat

Artinya dalam beramal kita menjadikan manfaat dari amaliah kita bisa terasa lebih lama, bukankah memberi pancing lebih baik dari hanya member ikan, atau dalam istilah lain kita kenal dengan amalan jariyyah. Yang merupakan salah satu dari amalan yang pahalanya akan terus mengalir meski sang empu telah meninggal.

ارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Demikian (Semoga Allah memberkahi kita semua, dengan keagungan wahyu-Nya, dan mintalah ampunan pada-Nya, sebab Ia Dzat yang maha pengampun lagi penyayang)


Khutbah ke II

Hadirin sidang jum'at yang meluhurkan dirinya dengan memberikan manfaat kepada orang lain.

Skala prioritas ini bukanlah penjegal kita dalam beramal, ataupun pembatas ruang gerak dalam pendekatan diri kita terhadap sang Khaliq.

Bukan pula penistaan terhadap amalan kita.

Ia ada untuk mewarnai jejak amalan kita dengan balutan pelangi penghayatan hakiki islam dan memaknai ibadah kita dengan taburan bintang ridha dari yang maha menerima.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم الأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات يا قاضي الحاجات، اللهم لا تدع لنا ذنبا إلا غفرته ولا هما إلا فرجته ولا مريضا إلا شفيته ولا حاجة من حوائج الدنيا والآخرة إلا قضيتها يا رب العالمين،

Ya Allah ampunilah segala dosa kami, mudahkan segala urusan kami, sembuhkan sakit kami, dan kabulkan lah segala permintaan kami wahai pemilik semesta.

Ya Allah mulaikanlah islam dan muslimin, satukanlah barisan mereka, kumpulkan mereka dalam kebenaran, rubuhkan lah kekuasaan para dzalim, berikanlah keselamatan dan kedamaian bagi seluruh hambamu, Ya Allah jagalah Negara kami Indonesia, mulyakan lah pemerintahnya, kokohkan mereka dengan kebenaran, dan kokohkanlah kebenaran melalui tangan-tangan mereka, wahai pemilik semesta.

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana di Universitas Hassan II Casablanca

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar