Implementasi Islam Sahabat Rasul

Oleh: Choirun Nashihin, Lc.*
Hadirin, hadirat yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Bulan Rabiul Awal sudah berlalu, bulan yang identic dengan pembelajaran sirah rasulullah telah berganti, terbenam sebagaimana bulan yang lain. Namun pembelajaran sirah rasulullah tidak akan pernah redup meskipun hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan tahun berganti tahun. Rasulullah merupakan sosok yang ideal untuk dijadikan panutan bagi seorang muslim, yang telah melahirkan generasi emas di era peradaban manusia, yang dikenal dengan generasi para shahabat radiyallahu a'nhum. Dalam hadits disebutkan :

خيركم قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

Sebaik- baiknya abad adalah abad dimana saya hidup, kemudian yang selanjutnya, dan kemudian yang selanjutnya" (HR. Bukhori).



Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika kita mereview kembali, sekilas peta kehidupan yang dilalui oleh para sahabat rasulullah, sebagai contoh pribadi yang mesti diidolakan oleh setiap individu muslim. Karena secara fitrah, manusia lebih condong untuk terbiasa hidup sebagaimana kehidupan orang yang dicintainya. Rasulullah bersabda :

"المَرْءُ معَ مَنْ أَحَبّ، وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ"

"Seseorang bersama orang yang dicintai, dan kamu bersama orang yang kamu cintai" (dikeluarkan oleh Ahmad)

Namun, mengidolakan sebuah pribadi tidak harus berkehidupan sama persis sebagaimana sang idola menyelusuri laut kehidupan. Karena tanah yang mereka injak bukanlah tanah yang kita pijak, begitu pula langit yang mereka lihat bukanlah langit yang kita saksikan. Karena pada dasarnya, kebenaran esensi qudwah adalah qudwah dalam semangat dan metode produksi, dan bukan terletak pada jenis produk itu sendiri. Seorang filosofi muslim modern pernah berkata :

فالقدوة في الإبداع لا في المبدع، و في الإنتاج لا في المنتاج

Peneladanan ada pada kreasi, bukan pada hasil kreasi, dalam produksi dan bukan pada barang yang diproduksi.

Hadirin, hadirat yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Sahabat rasulullah merupakan produk ideal manusia yang dihasilkan dari proses pendidikan nabi muhammad. Sehingga tidak salah jika mereka berhak untuk menyandang gold generation dalam islam, bahkan sepanjang sejarah umat manusia. Hal tersebut bukan semata karena kedekatan masa hidup mereka dengan masa hidup rasulullah, namun juga terletak pada keteguhan dan keikhlasan mereka, untuk tetap berada dalam garis yang sudah ditentukan. Tentu, Dengan ruh keagamaan yang sama, akan tetapi dengan implementasi yang kadangkala berbeda.

Oleh sebab diatas, kita akan menemukan bermacam- macam keistimewaan yang berbeda dalam kepribadian para sahabat. Abu bakar dengan sifat zuhudnya, keadilan yang melekat pada diri Umar, Usman yang kaya nan dermawanan, Ali dan kebijaksanaanya, beserta para sahabat yang lain dengan keistimewaan yang berbeda pula.

Berikut adalah cerita sahabat Abas ra yang menunjukkan tinggi akhlaknya beliau pada baginda rasulullah saw. Diriwayatkan dari Abu Razzien, ia berkata : suatu ketika Abbas ra ditanya : Siapakah yang lebih besar antara kamu ataukah rasululah, ia menjawab : Beliau lebih besar daripada saya, dan saya telah lahir sebelumnya.

Khutbah II

Hadirin, hadirat yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Gold generation tidak tercipta karena kemulian para sahabat saja, akan tetapi juga dikarenakan eksitensi keimanan para sahabiyat atau perempuan muslimah waktu itu. karena pada dasarnya, kualitas umat juga tergantung pada kondisi perempuan dalam social culture umat tersebut. Jika kaum perempuan masih berada dalam trek lurus yang benar, maka tidak akan ada kekhwatiran pada keberlansungan suatu umat. Orang bijak pernah berkata : "1l3 umat adalah perempuan" "Perumpamaan perempuan dalam masyarakat seperti halnya hati dalam tubuh, jika ia dalam keadaan baik, maka masyarakat itu akan baik, dan jika ia rusak maka masyarakat itu akan rusak pula.

Dalam islam, terdapat beberapa nama shahabiyah yang bisa dijadikan teladan dalam mengangarungi kehidupan yang fana ini. Seperti halnya Siti Aisyah dengan kecerdasannya, Ummu Amr dengan jihadnya, Maimunah dengan ketakwaannya, dan Siti Fatimah dengan kepatuhannya terhadap suami.

Hadirin, hadirat yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Dari khutbah yang dipaparkan diatas, dapat kita ambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1- Bahwasanya para sahabat adalah bentuk implementasi muslim yang ideal setelah wafatnya rasulullah, ideal bukan berarti sempurna, atau tidak luput dari khilaf maupun kesalahan, melainkan ideal dengan artian pantas, berhak, ataupun layak untuk diteladani.

2- Bahwasanya para sahabat adalah pendahulu kita, meskipun bukan dari tanah yang sama. Mereka adalah saudara dalam ikatan iman dan islam, termaktub pada kalimat "muslim adalah saudara bagi muslim yang lain", sehingga adalah alasan yang tabu jika ada seorang muslim enggan mempelajari riwayat hidup para sahabat, dengan alasan perbedaan geografis ataupun kultur.

"وليس الأخوة في الدم والنسل، ولكن الأخوة في الإيمان والاعتقاد"

"Bukanlah saudara sebatas darah dan keturunan, melainkan saudara adalah dalam iman dan kepercayaan"

3- Bahwasanya emansipasi perempuan sangat dibutuhkan dalam membangun sebuah peradaban, dengan porsi dan tempat yang sesuai dengan kodrat lahiriah, fitrah ataupun kredibilitas di bidangnya, maka tidaklah heran jika sebagian para ulama menobatkan siti Aisyah sebagai periwayat hadits terbanyak kedua setelah sahabat Abu Hurairah ra.


*Penulis adalah lulusan Institut Imam Nafi' tahun 2013

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar