Sejenak Bersama Habiburrahman El Shirazy (Pengarang Novel Ketika Cinta Bertasbih)


Oleh: Sukmahadi*

Habiburrahman El Shirazy atau yang sering disapa dengan Kang Abik, seorang ustadz yang tawadhu (rendah hati) tutur katanya lemah lembut yang enak didengar oleh semua orang, saya tak menyangka bahwa prestasi yang beliau capai yang dimulai dari menulis novel islami, hingga menajadi artis  dan pemain film serta artis sinetron “Meraih Ridho Ilahi”, mungkin jika sosok manusia yang tak mengenal agama islam ada kemungkinan akan menjadi sombong dengan prestasi semua ini, namun beliau sangat jauh dari sifat sombong.

Semua ilmu mengandung filsafat, bahkan ilmu nahwu, ushul fiqhi semuanya mengandung filsafat ujar Kang Abik, bahkan dalam dunia tulis menulis. Berbiacara hal filsafat  akupun teringat sebuah fislsafat padi “Semakin Beirisi Maka Padi Akan Semakin Menunduk” mungkin itulah yang pantas buwat Kang Abik. Ujar dalam benakku.

Novel Ketika Bertasbih merupakan novel islami yang sangat menginspirasi para pelajar, mahasiswa, serta masyarakat Indonesia di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, kisah sosok Azam yang rela berkorban, berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya di Cairo serta mengirim biaya untuk adik-adiknya di Indonesia, saat menyinggung kembali film Ketika Cinta Bertasbih maka sayapun kembali menanyakan sosok azam kepada Kang Abik atau Habiburahman El Shirarzy, beliaupun menuturkan bahwa sosok Azam dalam novel KCB sebagai penjual tempe adalah sosok yang sederhana dan biasa-biasa saja di Cairo namun akan menjadi luar biasa bagi masyarakat Indonesia.

Sesuatu yang biasa-biasa saja yang kita temukan dalam kehidupan ini, akan menjadi luar biasa jika ditulis dengan bahasa yang indah, beliaupun mengibaratkan bahwa di Maroko ini khususnya kota Fes, sangat menarik jika ditulis dengan bahasa yang indah dan menarik, seperti rumah-rumah yang unik dan gang-gang unik yang terdapat di kota Fes ini, kalianpun bisa membuat cerpen-cepen yang menarik jika kalian mau, hal penting sekarang adalah kumpulkan informasi sebanyak mungkin yang kalian alami di Maroko, itu akan menjadi cerita yang luar biasa di Indonesia walaupun itu biasa-biasa saja di antara kalian.

Sayapun semakin penasaran dengan karya-karya beliau seperti Takbir Cinta Zahrana, Ayat-Ayat Cinta, cerpen Nyanyian Cinta dan lain lain, sayapun langsung menanyakan apakah kisah-kisah yang ustadz tulis pada novel-novel tersebut merupakan kisah nyata..?

Beliapun menjawab bahwa yang terdapat dalam novel tersebut sebagian bersumber dari kisah nyata yang dibahasakan dengan tutur kata dan kalimat yang indah. Kang Abik mulai menekuni dunia tulis menulis saat duduk di bangku madrasah Aliyah, dimulai dari menulis cerpen, drama, dan puisi.

Hingga akhirnya saat kuliah di Mesir beliapun tetap menekuni dunia tulis menulis  bahkan menerjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam bahasa  Indonesia. Kadang dalam tulis menulis rasa malas menghampiri sehingga tulisan pun tak ada yang jadi, beliapun mengatakan bahwa salah satu tips menulis agar selalu semangat yaitu harus mengetahui mamfaat menulis, sebagai contoh kalau kita mengetahui maafaat obat maka kita akan selalu meminum obat di saat sakit.

Dalam tulis menulis itu, takkan bisa terwujud seketika,  harus melalui proses untuk menghasilkan tulisan yang bagus dan memuaskan, ibaratnya seseorang yang belajar teori mengendarai mobil tidak langsung bisa mengendarai mobil dengan lincah tanpa berlatih dengan tekun, dalam dunia tulis menulispun demikian, latihanlah yang sangat diperlukan, dengan demikian hasilnya akan memuaskan, begitulah penuturan Ust. Habiburahman El Shirazy kepada kami.

Tak terasa perputaran waktupun terus berjalan sambil ngobrol santai ahirnya perbincanganpun berjalan sekitar 40 menit, sayapun beserta 2 kawanku berpamitan, berhubung beliau ingin istirahat. Walau sangat singkat namun kali ini banyak pelajaran yang bisa diambil disamping bisa bertemu dan menerima ilmu secara langsung dari beliau.

(*) Mahasiswa Universitas. Sidi Mohammed Bin Abdellah, Fes, Maroko

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar