Keutamaan Bulan Rajab

Oleh: Kusnadi el-Ghezwa
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah !

Setelah kemarin kita lalui bulan Jumadil Akhir dengan ketaatan yang semakin bertambah, marilah dibulan Rajab ini, kita lebih meningkatkan rasa ketaqwaan kita kepada Allah dimanapun kita berada. Sebab taqwa adalah bagian dari mensucikan diri dalam usaha bertaqarrub kepada Allah guna meraih kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat. Hendaknya kesempatan yang sangat baik di bulan Rajab ini, jangan kita sia-siakan begitu saja, karena pada bulan ini Allah akan mencurahkan rahmatNya kepada orang-orang yang bertaubat, dan mencatat segala amal kebaikan mereka sebagai amal shalih serta melipat gandakan pahala bagi orang-orang yang mau beramal pada bulan itu. Bulan ini benar-benar dilingkupi oleh nuansa kedamaian.

Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah !

Inilah bulan yang Nabi SAW khusus bersabda mengenainya : “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku”.

Abu Abdillah Al-Hafizh dengan bersumber dari Aisyah ra, dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan Allah. Bulan itu disebut juga dengan bulan Al-Ashamm. Dulu orang-orang Jahiliyah jika sudah mulai memasuki bulan Rajab, maka mereka mengistirahatkan secara total pedang mereka, sehingga masyarakat akan sedikit merasa aman dan jalan-jalan yang biasa dilalui akan terhindar dari gangguan yang mengancam. Mereka tidak akan merasa takut antara yang satu dengan yang lain sampai bulan itu benar-benar berlalu”.

Dari riwayat tersebut di atas dapat diketahui mengenai keutamaan bulan Rajab yang telah dilakukan orang-orang sejak zaman jahiliyah. Mereka sengaja meninggalkan aktivitas maupun pekerjaan sehari-hari mereka demi menyambut bulan Rajab itu sendiri. Bahkan ketika mereka mengadakan peperangan, mereka akan menghentikan sejenak peperangan tersebut sampai bulan Rajab berlalu. Mereka memperlakukan bulan Rajab secara khusus dan menghormati bulan tersebut dengan nuansa yang penuh dengan kedamaian.

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia !

Mengapa bulan sesudah berlalunya bulan Jumadil Akhir ini, dinamakan bulan Rajab?. Ternyata dalam sebuah riwayat dikatakan, bahwa sesungguhnya ‘Rajab’ itu pada awalnya adalah nama sebuah sungai yang airnya lebih putih dari pada susu, lebih manis daripada madu dan lebih dingin dari pada es. Air sungai ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berpuasa pada bulan ini.

Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Abu Al-Husain bin Bisyran yang bersumber dari Anas bin Malik, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah sungai yang diberi nama Rajab. Air sungai itu lebih putih dari pada air susu dan lebih manis dari pada madu. Barangsiapa pernah berpuasa sehari saja pada bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dari air sungai tersebut”.

Menurut riwayat dari Muhammad bin Abdullah Al Hafizh yang bersumber dari Anas, ia menerima keterangan dari Rasulullah SAW bahwa beliau telah bersabda : “Di dalam bulan Rajab itu ada sebuah malam yang menyebabkan pelaku ibadah pada (malam) itu dicatat dengan kebaikan selama 100 tahun. Malam itu adalah tiga hari sebelum bulan Rajab berlalu (yakni tanggal 27 Rajab). Barangsiapa mengerjakan shalat pada malam itu sebanyak dua belas raka’at, maka Allah akan mengabulkan do’anya. Namun hendaknya dia membaca Fatihatul Kitab dan sebuah surat Al-Qur’an disetiap raka’atnya. Selain itu dia hendaknya mengerjakan duduk tasyahud pada setiap dua raka’at untuk kemudian melakukan salam. Kemudian setelah itu hendaknya dia membaca Subhanallah walhamdulillaah Wa Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar sebanyak 100 kali, membaca istighfar kepada Allah sebanyak 100 kali, membaca shalawat kepada Nabi SAW sebanyak 100 kali, kemudian berdo’a apa saja untuk kepentingan dirinya yang bersifat dunia maupun akhirat. Sedangkan pada pagi harinya dia mengerjakan puasa, niscaya Allah akan mengabulkan do’anya kecuali jika dia memanjatkan do’a tersebut untuk hal yang maksiat”.

Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah !

Jika kita mengupas hingga tuntas mengenai keutamaan Bulan Rajab ini, maka tak akan ada habisnya. Namun di antara sekian banyak keutamaan yang ada di tengah-tengah bulan Rajab ini, ada satu peristiwa spektakuler yang kemudian menjadi tonggak utama kelurusan akhlak umat Islam. Yakni Shalat. Karena shalat adalah pencegah perbuatan yang keji dan munkar. Dan seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa perintah untuk mendirikan shalat pertama kali diterima oleh Rasulullah SAW adalah di bulan Rajab. Yakni pada peristiwa Isra’ Mi’raj, yang terjadi pada hari ke-27 bulan Rajab.

Peristiwa Isra’ Mi’raj itu sendiri mengandung rahasia serta hikmah yang lebih spektakuler lagi. Banyak peristiwa yang dialami Rasulullah SAW, selama perjalanan mi’rajnya ke sidratul muntaha, di antaranya adalah beliau melihat jin ifrit, dimana kemudian Jibril yang mendampingi mi’raj beliau menngatakan bahwa dialah musuh terbesar manusia, terutama umatmu, wahai Muhammad. Barangsiapa yang mampu menghindar darinya, maka mereka akan selamat dunia dan akhirat. Kemudian beliau juga menyaksikan orang-orang yang sedang bercocok tanam. Lalu Jibril menerangkan bahwa itulah gambaran orang yang berjihad di jalan Allah, dimana pahala kebajikannya dilipat-gandakan hingga 700 kali. Lalu beliaupun mencium bau yang amat harum. Lalu Jibril menerangkan bahwa inilah bau Masyitah, seorang yang sangat teguh mempertahankan keimanannya kepada Allah, meskipun ia dan keluarganya direbus dalam belanga Fir’aun, namun keimanannya kepada Allah tak bergeser sejengkalpun. Ia mati syahid, dan arwahnya berbau harum dan akan tercium oleh semua penduduk surga nantinya. Beliau juga menyaksikan kejadian aneh, yakni orang-orang yang dibelah kepalanya, setelah kepala itu hancur, ia kembali utuh lagi seperti biasanya, lalu pecah lagi. Begitu seterusnya. Maka Jibril menerangkan bahwa itu adalah gambaran siksaan orang yang malas mengerjakan shalat fardlu, hinngga akhirnya mereka shalat di akhir waktu. Ada juga segerombolan yang sangat menakutkan yang dilihat Rasulullah. Orang-orang yang depan dan belakangnya ditambal, mereka melolong-lolong bagaikan srigala kelaparan. Lalu mereka mendapatkan makanan dari buah zaqum yang baunya sangat busuk, keadaan mereka terus menerus terpanggang api jahanam. Kata Jibril : “Itulah orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat dari hartanya!”.

Rasulullah juga melihat segolongan orang yang sangat bodoh. Karena terlihat di hadapan mereka terdapat dua jenis daging, yang segar dan yang busuk, namun mereka memilih daging yang busuk dan dimakannya dengan lahap. Jibril berkata : “Wahai Muhammad ! inilah gambaran dari umatmu yang serakah, yang hanya mau menerima amanah, tapi tidak mampu melaksanakannya. Bibir-bibir yang dipotong dengan gunting yang disaksikan Rasulullah dalam perjalanan Mi’rajnya adalah gambaran orang-orang yang suka memberi nasehat, tapi dia sendiri tidak mampu menjalankannya. Ada pula suatu kaum yang tak henti-hentinya mencakari sendiri tubuh dan wajahnya, dan Jibril berkata : “Itulah gambaran umatmu yang suka menggunjing. Ia bagaikan makan daging saudaranya sendiri !”.

Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah !

Tidak hanya itu, karena Rasulullah dalam perjalanan Mi’rajnya juga mengalami berbagai macam godaan, dimana godaan-godaan tersebut dikemudian hari menjadi ibrah yang sangat berguna untuk umat beliau. Godaan-godaan tersebut di antaranya adalah :

1. Suara panggilan yang berasal dari sisi kirinya, maka Rasulullah tidak merespon sedikitpun. Jibril menerangkan; “Wahai Muhammad! yang memanggilmu tadi adalah orang Nashrany. Jika kamu menengok panggilan tadi, maka di antara umatmu nantinya banyak yang murtad menjadi Nashrany !”.

2. Ada seorang wanita yang memanggil-manggil. Rasulullah pun tidak menggubris sama sekali. Tanya Rasulullah; “Siapakah wanita yang memanggilku wahai Jibril?”. Jawab Jibril : “Wanita tadi adalah gambaran dari bentuk dunia. Jika tadi kamu merespon panggilannya, maka nantinya umatmu pun akan lebih mementingkan dunia daripada akhirat”.

3. Ada seorang laki-laki tua memanggil; “Wahai Muhammad kemarilah!”. Tiba-tiba Jibril mengingatkan; “Muhammad, percepatlah jalanmu!”. Tanya beliau; “Jibril, siapakah lelaki tua yang memanggilku tadi?”.Jawab Jibril : “Dia adalah musuh Allah, musuhmu dan juga musuh umatmu, setan laknatullah. Ia memanggilmu agar kamu dan umatmu lebih condong kepada dirinya!”.

4. Ada juga seorang nenek-nenek tua yang mencoba menghentikan jalan beliau dan Jibril dengan berkata : “Wahai Muhammad ! berhentilah sebentar, aku akan bertanya kepadamu!”. “Siapakah dia wahai Jibril?”. Jawab Jibril; “Itu adalah gambaran umur dunia yang tinggal sedikit!”.

Jama’ah Jum’ah Yang Berbahagia !

Itulah di antara peristiwa paling spektakuler di bulan Rajab, yang bisa dirasakan secara langsung oleh kita hingga sekarang. Yang menjadi tonggak utama bulan Rajab ini.

Oleh karena itu mulailah beramal dengan lembaran baru. Sebab keburukan-keburukan telah diganti dengan kebaikan. “Barang siapa menambah jumlah hari puasanya pada bulan Rajab, maka Allah juga akan menambah anugerahnya kepada orang tersebut.

Demikianlah uraian khutbah kami yang singkat ini, mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmahnya, sehingga kita bisa meningkatkan amal ibadah kita khususnya di bulan Rajab ini, demi untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat nanti. Amiin Ya Rabbal Alamiin.

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar