Cukuplah Kematian Sebagai Nasehat



الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ. أَشْهَدُ لآ إِلـٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّـٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. 

أَمَّابَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَيَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَّلاَ يَسْتَقْدِمُونَ [الأعراف : 34] 

Ma’asyiral Muslimin rakhimakumullah !

Tiada prilaku yang paling indah, yang tercermin dari pribadi seorang muslim, selain tingkah laku yang diwarnai dengan ketakwaan. Maka dari itu, mulai sekarang marilah kita tingkatkan ketakwaan kita, yakni takwa yang sebenar-benarnya, hingga dari dalam diri kita akan nampak ketakawaan lahir dan ketakwaan batin.

Dan ketakwaan seperti itu hanya bisa dilakukan dengan menjalankan perintah-perintahNya dengan ikhlas, didasari oleh keimanan dan keyakinan akan keridhaan dan pahalaNya. Juga meninggalkan larangan-larangaNya, karena sebenarnya larangan-laranganNya itu mengandung beberapa akibat yang buruk jika kita tetap melanggarnya. Jika saja kita menyadari, sesungguhnya laranganNya tersebut adalah sebagai tanda dari kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ 
“Tiap-tiap jiwa akan merasakan kematian dan sesungguhnya pada hari kiamatlah akan disempurnakan pahalamu, barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung dan kehidupan dunia hanyalah kehidupan yang memperdayakan.” (QS. Ali-Imran: 185)

Sidang Jumat yang dimuliakan Allah.

Ayat di atas adalah merupakan ayat yang agung, yang apabila dibaca mata menjadi berkaca-kaca. Apabila didengar oleh hati maka ia menjadi gemetar. Dan apabila didengar oleh seseorang yang lalai maka, akan membuat ia ingat bahwa dirinya pasti akan menemui kematian.

Memang perjalanan menuju akhirat merupakan suatu perjalanan yang panjang. Suatu perjalanan yang banyak aral dan cobaan, yang dalam menempuhnya kita memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Yaitu suatu perjalanan yang menentukan apakah kita termasuk penduduk surga atau neraka. Perjalanan itu adalah kematian yang akan menjemput kita, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan kita dengan alam akhirat. Oleh karena itu cukuplah kematian sebagai nasehat, cukuplah kematian menjadi-kan hati bersedih, cukuplah kematian menjadikan air mata berlinang sebelum semuanya terlambat.

Ahli Jum’ah yang dimuliakan Allah !

Sebelum terlambat marilah kita renungi bersama kehidupan yang fana ini. Kemudian, jika kita telah banyak berbuat kebajikan, maka marilah kita tingkatkan, mumpung kita masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini. Bagi yang banyak melakukan kemaksiatan, sadar dan hentikanlah kemaksiatan itu sekarang juga, karena ajal akan datang kepada kita tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, tidak pandang tua atau masih muda, jika Allah telah menentukan maka ajal itu akan menjemput kita.

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman.

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ [الأعراف: 34 ]  
“Maka tatkala ajal mereka telah tiba, tidak dapat diundur dan dimajukan sedikitpun”. (QS. Al-A’raf : 34)

Ahli Jum’ah yang berbahagia !

Ayat di atas sangat pantas menjadi bahan tafakkur bagi kita semua. Yakni tentang ajal yang tidak bisa ditunda-tunda datangnya. Jika telah datang ketetapan ajal, tiada satupun kekuatan yang bisa menundanya, apalagi menghentikannya, tidak pandang tua atau masih muda, jika Allah tela. Dengan demikian, mengapa kita masih santai, berleha-leha tidak ada persiapan sedikitpun untuk menyambutnya?. Janganlah kita mengira bahwa kita akan berumur panjang. Karena umur merupakan misteri Illahy yang pengetahuannya hanya ada padaNya. Tak seorangpun yang mampu meraba panjang pendeknya umur seseorang. Oleh sebab itulah kita harus siap mulai sekarang, jangan sampai terjadi, ketika dijemput ajal, diri kita masih berlumuran dosa.

Dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita memulai untuk banyak mengerjakan amal kebajikan, sehingga diakhir hayat nanti, saat ajal datang menjemput, kita akan menjadi orang yang beruntung yang akan diberikan pahala yang besar yang telah dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang mu’min yaitu surga.

Sebaliknya, orang-orang yang banyak melakukan dosa dan tidak segera bertaubat, kemudian secara tiba-tiba ajal menjemputnya, maka penyesalan yang tak berujunglah yang senantiasa menghantuinya. Dan balasan yang setimpal dengan kemaksiatan dan dosa yang pernah dilakukannya dahulu ketika hidup di dunia.

Allah membalas setiap amal perbuatan seseorang, jika amal perbuatannya baik, maka akan dibalas dengan kebaikan pula meskipun perbuatan baik itu hanya sekecil dzarrah, bahkan Allah akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda jika Dia menghendaki.

Dan Allahpun akan membalas amal perbuatan seseorang yang jelek dengan balasan yang jelek pula, meskipun kejelekannya itu hanya sekecil dzarrah.

Demikianlah keadilan Allah bagi hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Zalzalah ayat 7 dan 8, yang artinya;
“Barangsiapa yang beramal kebajikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat Dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)Nya”.

Ahli Jum’ah yang dirahmati Allah !

Dengan demikian, apapun yang kita perbuat, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi, semua harus dipertanggung jawabkannya di hadapan Allah SWT, bisa saja apa yang kita perbuat, baik menurut pandangan mata manusia, tetapi sebaliknya, buruk bagi Allah disebabkan niatnya, yaitu niat karena ingin mendapatkan pujian dari manusia atau dengan niat untuk mencari keuntungan dunia, bukan demi mencari keridhaanNya dan pahala akhirat.

Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hadits yang artinya :
“Kesukaan dipuji dari manusia itu adalah membutakan hati dan menulikan telinga”

Yaitu tidak mau mendengarkan kebenaran dan menolak saran dan ajakan yang baik. Maka konsekwensinya adalah dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya itu di hadapan Allah besok pada hari akhirat. Oleh sebab itu, kita harus pandai memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan Allah ini untuk mengumpulkan banyak amal shaleh.

Imam Ahmad, Imam Tirmidzi dan Hakim meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya : 
“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya, dan sejelek-jelek manusia adalah yang panjang umurnya dan paling jelek amal perbuatannya”

Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah !

Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi manusia yang baik, maka kita harus lah pandai-pandai untuk memanfaatkan umur ini, karena umur ini juga merupakan amanat Allah yang diberikan kepada kita yang harus kita pertanggung jawabkan nanti di akhirat.

Jika umur itu kita gunakan untuk mengumpulkan amal kebaikan, maka kita akan diberi anugerah oleh Allah SWT berupa surga yang penuh dengan kenikmatan dan kita kekal di dalamnya.

Sebaliknya jika kita gunakan umur kita hanya untuk menumpuk-numpuk kejelekan dan maksiat kepada Allah, apalagi kita kufur kepadaNya, maka sudah tentu kita akan diberi hukuman karena kita tidak dapat memegang amanat dengan baik. Oleh sebab itu, marilah kita kembali mengkoreksi diri kita masing-masing, sudah siapkah kita dengan amal perbuatan yang telah kita kerjakan untuk menghadapi maut?

Janganlah kita membohongi hati nurani kita sendiri, jika suatu saat dihadapkan kepada suatu pertanyaan tentang kesiapan mental kita untuk menghadapi maut, saya yakin semua orang akan menjawab belum siap. Karena pada dasarnya, melalui hati nurani, kita tidaklah mampu membohongi hati nurani kita sendiri, bahwa memang kita belum mampu berbuat banyak dalam hal kebaikan. Lepas dari itu, kita juga tidak mengetahui apakah kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan, sudah pasti diterima oleh Allah?. Sementara dosa-dosa yang kita lakukan terus saja menggunung. Dan sudah ikhlaskah kita dalam mengerjakan suatu perbuatan baik?

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْءَانِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ تَسْلِمًا. أما بعد 

Ahli Jum’ah yang dicintai Allah…….

Marilah kita mencoba merenungi sisa-sisa umur kita, muhasabah pada diri kita masing-masing. Tentang masa muda kita, untuk apa kita pergunakan. Apakah untuk melaksanakan taat kepada Allah ataukah hanya bermain-main saja ? Tentang harta kita, dari mana kita peroleh, halalkah ia atau haram ? Dan untuk apa kita belanjakan, apakah untuk bersedekah ataukah hanya untuk berfoya-foya? Dan terus kita muhasabah terhadap diri kita dari hari-hari yang telah kita lalui.

Perlu kita ingat, umur kita semakin berkurang. Kematian pasti akan menjemput kita. Dosa terus bertambah. Lakukanlah taubat sebelum ajal menjemput kita. Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi. Mudah-mudahan Allah berkenan untuk mengampuni kita semuanya. Amin Yaa Rabbal Alamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.ٌ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخَوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا

بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُواْ رَبَّنَا إِنَّكّ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نًافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. 

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar