Amalan 10 Hari Terakhir di Bulan Ramadhan


الخطبة الأولى

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ عَلَى نِعَمِهِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلـٰهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنَ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah !

Seakan-akan baru saja kita bertemu dengan awal bulan yang mulia ini, ternyata sekarang kita sudah mendekati pengujung bulan yang penuh kebaikan ini, atau lebih tepatnya kita akan memasuki sepuluh hari terahir di bulan yang penuh berkah dan maghfiroh, yakni bulan Ramadlan. Di bulan ini, marilah kita lebih meningkatkan lagi ketaqwaan kita kepada Allah dimana pun kita berada. Sebab taqwa adalah ruh kehidupan bagi orang-orang yang beriman. Hidup tanpa disertai dengan ketaqwaan akan membentuk jiwa seseorang menjadi beringas, tidak mengenal halal-haram, mudah meremehkan hukum Allah dan gampang tenggelam dalam kemaksiatan dan kemungkaran.

Ahli Jum’ah yang dimuliakan Allah !

Ada beebrapa ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan pada sepuluh hari yang terakhir di bulan yang mulia ini, diantaranya adalah i’tikaf. Sebab, demikianlah yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan dalam hadits,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صل الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ
“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. al-Bukhari)

I’tikaf adalah menetap secara terus-menerus di dalam masjid untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala. I’tikaf ini bisa dilakukan di setiap masjid yang ditegakkan di dalamnya shalat berjamaah dan lebih utama jika ditegakkan pula shalat Jum’at.

Sungguh menakjubkan keadaan orang yang beri’tikaf. Hari-harinya dipenuhi dengan menyendiri dari manusia untuk berhubungan dengan Yang Mahakuasa. Dia tinggalkan kesibukan dunianya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dia tidak keluar dari masjid selain untuk keperluan yang harus dilakukan, seperti bersuci, buang hajat, dan semisalnya seperti makan dan minum.

Ahli Jum’ah yang dimulyakan Allah !……..

Perlu diketahui pula, seseorang tidak boleh meninggalkan tugas yang telah menjadi kewajibannya hanya untuk menjalankan i’tikaf, misalnya seperti para pegawai. Sebab, menjalankan amanat adalah perkara yang wajib, maka tidak boleh dikalahkan dengan i’tikaf yang hukumnya sunnah. Meski demikian, dia bisa memperbanyak ibadah-ibadah lainnya yang sangat dianjurkan pada sepuluh terahir dibulan ini, seperti berzikir, berdoa, shalat, membaca al quran dan ibadah lainnya.

Oleh karena itu, semestinya setiap orang berusaha meningkatkan amal ibadahnya, karena ketaatan di bulan ini lebih tinggi nilainya daripada ketaatan di bulan lainnya lebih-lebih pada sepuluh hari yang terakhir. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana dalam hadits,

أَنَّ النَّبِيَّ صل الله عليه وسلم كَانَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh hari yang terakhir tidak seperti pada hari-hari yang lainnya.” (HR. Muslim)

Di antara sebab ditingkatkannya ibadah pada sepuluh hari yang terakhir adalah karena saat itu ada malam yang disebut lailatul qadar. Malam yang penuh dengan kebaikan bagi orang-orang yang mengisinya dengan ketaatan. Malam yang seluruh malaikat secara bertahap turun dari tempatnya di langit menuju bumi ini. Malam yang amalan seseorang di malam tersebut setara dengan amalan yang dilakukan lebih dari seribu bulan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,


إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ (4)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan.” (al-Qadr: 1-4)

Sungguh beruntung orang-orang yang bisa memanfaatkan kesempatan yang mulia ini dengan berbagai amal saleh. Ia bisa meraih keuntungan yang berlipat-lipat.

Sungguh, kerugian yang besar bagi orang-orang yang tetap di atas kemaksiatan-kemaksiatannya selama bulan Ramadhan. Sebab, kemaksiatan di bulan Ramadhan yang mulia tidak sama dengan kemaksiatan yang dilakukan di luar Ramadhan, meskipun kemaksiatan tidak boleh dilakukan kapan pun dan di bulan apa pun. Hanya saja, kemaksiatan di bulan ini menunjukkan ketidakpedulian seseorang terhadap dirinya dan jeleknya akhlak orang yang melakukannya.

Dalam hal ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengingatkan dalam sabdanya.

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Sangatlah merugi orang yang berjumpa dengan bulan Ramadhan, namun berpisah sebelum diampuni dosa-dosanya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, beliau mengatakan, “Hadits hasan gharib.”)

Ahli Jum’ah yang dimulyakan Allah !

Marilah kita tutup bulan Ramadhan ini dengan akhir yang baik. Sebab, sebagaimana amalan itu akan dibalas sesuai dengan niatnya, amalan juga tergantung bagaimana penutupannya. Maka dari itu, marilah kita terus melakukan amalan ibadah yang selalu kita amalkan sejak awal hingga akhir Ramadhan.

Bahkan, setelah berakhirnya bulan ini pun tidak berarti kita berhenti beramal saleh. Istiqamahlah dalam menjalankan puasa dan membaca al-Qur’an, apalagi shalat lima waktu secara berjamaah. Akhirnya, mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberikan taufik-Nya kepada kita semua dan menerima seluruh amal ibadah kita.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْءَانِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.


الخطبة الثانية

الْحَمْدُ ِللهِ الْبَرِّ الرَّؤُوْفِ الْجَوَّادِ الَّذِى جَلَّتْ نِعَمَهُ عَنْ اْلإِحْصَاءِ بِاْلأَعْدَادِ الْمَانِّ بِاللُّطْفِ وَاْلإِرْشَادِ الْهَادِى إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَادِ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلـٰهَ إِلاَّ اللهُ الْوَاحِدُ الْغَفَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُخْتَارُ وَأُصَلِّى وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدِنِالْمُنَوَّرِ وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَطْهَارِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَاكُمْ عَنْهُ وَحَذَرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ يَوْمَ الْمَحْشَرِ. اللّٰهُمَّ ارْضَ عَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالْقَرَابَةِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُصُوْصًا لِسَيِّدِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِىٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ أَمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ اجْعَلْ فِى قُلُوْبِهُمُ اْلإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَأَوْزِعُهُمْ أَنْ يُوْفُوْا عَلَى عَهْدِكَ الَّذِى عَاهَدْتَ إِلَيْهِمْ، وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنْ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar