Antara Manusia dan Kera

Oleh: Sarah lathoiful Isyaroh*


Asal mula pembentukan manusia adalah hal yang sudah menjamur berdengung di kuping kita, kendati sebagai makhluk yang dikaruniai kemampuan berfikir selalu ingin mengetahui secara gamblang sekaligus bertanya-tanya dari apa kita berawal?.



Anak Sekolah Dasar dengan enteng menjawab asal manusia “tanah”. Berlanjut ketingkaat SMP yang sudah mengenal ilmu biologi dan IPA juga sains, menjawab “air” . Tetapi tidak aneh pula para ahli sejarah menyatakan bahwa manusia zaman purba ialah mereka yang berasal dari kera (teori evolusi). Hal ini diperkuat dengan adanya penemuan-penemuan ilmiah berupa fosil seperti jenis Pitheccanthropus dan Meghanthropus. Dari Homo Habilis menjadi Homo Eractus menjadi Homo Sapiens sampai terbentuklah manuisa ganteng dan cantik tidak lain tidak bukan ialah mausia zaman kekinian, masyhur di sebut pula dalam teori evolusi (teori atheistic) Charles Robert Darwin (1809-1882) "Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan" dan teori penciptaan khusus agama sendiri.

Pertanyaaan yang terbesit ialah, Bagaimana pembentukan yang sebenarnya? Manakah yang dapat kita kiblati kebenarannya? IPA kah? Sejarahkah? teori darwinkah? Segi archeology kah? Tanahkah? Agamakah?. Berikut kita akan kupas bersama manusia dan kera merujuk pada nash yang terkandung dalam al-Quran.

Dinyatakan dalam firmanNya {QS As-Sajdah : 7} ”Yang memeperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. {8} Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (mani) {9} Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)Nya danDiamenjadikan pendengaran dan pengelitahan dan hati bagimu. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”Dalam pengertian yang sama sebuutkan dalam ayat lain {QS As-Shafat :11}, {QS Saad : 71}, {QS Ar-Rahman 13}, {QS Ghafir : 67} .

Begitu rinci Al-Furqon mengungkap tentang asal mula manusia dengan redaksi yang beragam (Thin, Sulalah, Sholshol, Turob, dkk). Seperti yang terdapat dalam beberapa ayat :{QS Fatir : 11} “Dan Dialah yang meciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian menjadikan kamu berpasang-pasangan , tidak ada seorang wanita pun mengandung dan melahirkan, melainkan dengan sepengetahuanNya. ....”
{QS. Al Hijr: 28-29} ".. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud" .Rasulullah saw bersabda : “Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”. (HR. Bukhari)

Seluruh rentetan uraian di atas sepakat bahwa Allah menciptakan manusia pertama (Adam) berawal dari tanah . Selaras dengan sifat dasar tanah, dapat menerima apapun. Itulah manusia yang dengan di karuniai pendengan dan pengelihatan dapat membedakan antara yang benar dan salah, seyogyanya dipergunakan dengan sebaik mungkin, dengan itu Allah mengujinya. Masih adakah celah kita untuk megingkariNya?.

Dari segi Archeology:
Berdasarkan fosil-fosil yang ditemukan, memang ada makhluk lain sebelum manusia. Mereka seperti manusia, tetapi mempunyai karakteristik yang lebih primitif. Otak mereka lebih kecil. Oleh karena itu, kemampuan mereka berbicara sangat terbatas karena tidak banyak suara vowel yang mampu mereka bunyikan. Kelompok ini dinamakan Neanderthal.

Data Wikipedia menyebutkan, Homosapiens mulai ada sekitar 200 ribu tahun lalu. Sedang Neonderthal ada sehingga 130 ribu tahun dulu, kemudian ia lenyap. Ada juga teori yang mengatakan Neonderthal lenyap sebelum Homosapiens muncul. Tapi yang pasti, Homosapiens bukanlah evolusi dari Neanderthal. Bentuknya hanyalah makhluk yang seakan manusia yang telah ada sebelum kita.

Jika ditelaah dari silsilah yang terekam oleh bangsa Arab di atas, dapat disimpulkan bahwa Adam dan keturunannya yang ada sekarang telah ada di muka bumi sejak ribuan tahun lalu. Tetapi usia ini tergolong sangat muda dibanding dengan fosil manusia purba yang diperkirakan telah berusia JUTAAN tahun. Sekalipun muncul fakta manusia purba telah mendahului Adam yang baru ribuan tahun, konsep Islam bahwa “Adam adalah manusia pertama” sudah paten.

Dalam {QS. Al-Baqarah 30} disebutkan: “ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Manusia-manusia inilah yang fosilnya kita temukan sekarang disebut sebagai MANUSIA PURBA. Manusia-manusia jenis ini hampir punah seluruhnya dan tidak tersambung dengan Adam dan keturunannya. Seandainya masih ada keturunan manusia purba, mereka jumlahnya amat sedikit dan hidupnya di pedalaman, dan yang terpenting tingkat kemampuan berfikir dan teknologi mereka tentu sangat rendah, dan hampir tidak terlihat sisi “kemanusiaan”nya. Dan faktor itulah yang mendorong mereka tuk melakukan kerusakan juga pertumpahan darah di muka bumi hingga Allah membinasakan mereka.

Salah satu diantara penjelasan ulama adalah Ibnu Jazir dalam kitab tafsir Ibnu Katsir mengatakan :
"Yang dimaksud dengan makhluk sebelum Adam a.s diciptakan adalah Al Jan yang kerjanya suka berbuat kerusuhan”
Diperkuat dalam ayat lain ; “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam diatas Arsy (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah itu kepada Yang Maha Mengetahui." {QS.AlFurqaan:59} . Keenam masa itu adalah Azoikum, Ercheozoikum, Protovozoikum, Palaeozoikum, Mesozoikum, dan Cenozoikum. Dari penelitian para ahli, setiap periode menunjukkan perubahan dan perkembangan yang bertahap menurut susunan organisme yang sesuai dengan ukuran dan kadarnya masing-masing. (tidak berevolusi).

Apabila kita menilik kepada literatur-literatur yang berkaitan dengan masalah antropologi, maka akan tampak sekali keragu-raguan dari para ahli antropologi sendiri, apakah Homo Sapiens itu benar-benar berasal dari Pithecanthropus atau Sinanthropus? , Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya para ahli mengambil kesimpulan bahwa Pithecanthropus dan Sinanthropus bukanlah asal dari Homo Sapiens, tetapi keduanya adalah makhluk yang berkembang dengan bentuk mirip manusia kemudian musnah atau punah.

Walhasil , manusia yang hidup di bumi saat ini merupakan keturunan Adam seluruhnya. Tidak ada satupun yang merupakan keturunan manusia purba. Manusia purba benar-benar sudah punah. Fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di Jawa-Indonesia kalaulah benar usianya sudah jutaan tahun, maka bukanlah nenek moyang asli dari penduduk Jawa sekarang ini, begitu pula hukumnya pada seluruh fosil di berbagai penjuru dunia.

Sanggahan lain pada toeri darwin : Mata, secara logis mata berfungsi ketika seluruh bagiannya sejalan, maka dapatkan lensa mata berubah dari asal yang setengah jadi menjadi sesuatu yang sempurna?. Beralih pada Temuan Fosil, Dalam bukunya, The Origin of Species, Darwin menulis, "Jika setiap spesies berasal dari spesies lain secara bertahap, mengapa dimana-mana kita tidak melihat bentuk transisi yang amat banyak? Akan tetapi, dikawasan antara, yang mempunyai kondisi antara kehidupan, mengapa kita sekarang tidak menemukan jenis yang kemungkinan besar merupakan perantara? Kesulitan ini cukup membingungkan saya dalam waktu lama." Terlihat bahwa dirinya sendiri kebingungan dalam mengungkapkan teorinya. Kritikan lain pada Sel, Menuru Darwin manusia dan semua makhluk hidup berasal dari nenek moyang yang sama yang berupa makhluk bersel satu. Makhluk bersel satu tersebut terus berevolusi hingga menjadi kera, dari kera menjadi manusia dalam waktu yang lama. Namun nyatanya dulu, Darwin bisa melihat sel hanya permukaannya saja yang berupa kotak sederhana. Darwin juga tidak mampu menjelaskan asal usul sel tersebut. Oleh karena itu, lagi-lagi Teori Darwin dinyatakn runtuh.

Jadi tidak lain pedapat Darwin hanyalah mitos belaka yang menyebar luas menjadi dogma dalam gencarnya propaganda pada akhir zaman ini. Dan tidak ada teori ilmiyah yang dapat membenarkan teori darwin terlebih untuk menggeser kebenaran ilmiah yang terdapat Al-Quran.

Setelah itu perlu di catat bahwa hakikat-hakikat ilmiah yang di singgung al-quran , dikemukakan dalam redaksi yang singkat dan sarat makna, sekaligus tidak terlepas dari ciri umum redaksinya, yakni memuaskan orang kebanyakan dan para pemikir. Berikut di kemukakan sekelumit tentang tahapan yang dilalui persoalan reproduksi hingga tercipta sebagai manusia ciptaan tuhan.

“...Maka sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah , kemudian dari setetes mani kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar kami jelaskan kepada kamu. ; Dan kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang telah di tentukan kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada usia dewasa . ...”{ QS Al-Hajj : 5}. Penjabaran lebih detail terdapat pada {QS Al-mukminun : 12 } “ Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari saripati yang berasal dari tanah {13} Dan kami menjadikannya air mani yang di siram dalam tempat yang kokoh (rahim) {14} Keemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatuyang melekat itu kami jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudia kami menjadikannya makhluk yang( berbentuk) lain....” Yang tertera ini sama sekali tidak menyeleweng dari yang ada pada ilmu bilogi atau sains, bahkan persoalan yang diangkat ini saling menyingkronkan satu dengan lainnya.

Informasi al-quran tersebut sejalan dengan penemuan ilmiah pada abad kedua puluh ini bahwa pancaran mani yang menyembur mengandung 200 juta benih manusia, sedangkan yang berhasil bertemu ovum hanya satu. Itulah yang di maksud dengan (nuthfah dari mani yang yang memancar)

Penentuan kelamin pada dunia sains pun selaras dengan penjelasan al-quran, ketika kromosom yang membuahi ovum like emotikon maka janin yang di kandung lelaki, jika kromosom yang bertemu (X) dengan (x) maka mengandung perempuan. Jadi yang menentukan jenis kelamin adalah tetasan mani (nutfah) yang dituangkan sang ayah. “Dan bahwa Dialah yang menciptakan berpasang pasangan, lelaki dan perempuan,dari nutfah yang terpancar” {QS An-Najm 45-46}

Berkesinambungan pakar-pakar embriologi menegaskan bahwa setelah terjadi pembuahan (amsyaj), maka nutfah tersebut berdempet di dinding rahim, dan inilah yang dimaksud oleh Al-Quran `alaqoh yakni segumpal darah yang melengket di dinding rahim.

3 lapisan yang melindungi janin pun sudah termaktub didalamnya, dari mana informasi akurat ini, padahal hakikat ilmiyah baru didaptkan seribu tahun setelah kepergain Nabi Muhammad? {QS Az-Zumar :6 } “.... Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan..” Yakni, kegelapan (lapisan) dalamperut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim”

Frekuensi yang ditempuh dalam mengandung juga jarak perawatan pun jelas “..Dan mengandugnya serta merawatnya selama tiga puluh bulan..”
{QS Ar-Rum :20}“Dan diantara tanda-tanda kebesaranNya ialah Dia mencipatakan kamu dari tanah,kemudian tiba-tiba kamu menjadi manusia yang berkembang biak.” Setelah proses [erkembang biakan kuatkan dalam {QS Al-Furqon :54} “ Dan Dia pula yang menciptakan manusia dari air , lalu Dia jadikan manusia itu keturunan dan hubungan kekeluagaan (dari pernikahan)..” ayat ini menutup penjelasan proses reproduksi yang mendukung perkembang biakan manusia.

Lalu adakah “Manusia Kera” yang di maksud dalam al-quran? “ADA”, tetapi bukan kera yang di gosipkan sebagai nenek moyang manusia, melainkan manusia yang melanggar ajaran agama Allah lalu di laknat menjadi kera . Pada {QS Al-A`raf :163} Allah mengisahkan “Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” Alkisah, mereka ialah kaum yahudi yang tinggal di kota aylah ,kota yang terletak di pesisir laut antara negri mesir dan mekkah atau antara kota thur dan madyan mnurut riwayat ibnu kastir yang tinggal berteptan dpada zaman nabi Musa as. Konon, mereka masih berpegang teguh pada kitab Taurat.

Allah memerintahkan untuk mencurahkan waktu juga tenaga mereka untuk beribadah pada hari hari Sabtu. Mereka dilarang melakukan usaha apapun, dan Allah menguji mereka dengan mendatangnya ikan-ikan nan segar pun gemuk pada hari sebtu bergelimpah di pinggir laut, sedangkan selain hari itu mereka harus bersikeras menyelam dan berstrategi terlebih dahulu demi mendapatkannya.

Maka mereka tergoda dan melakukan tipu muslihat dengan memasang jaring agar ikan itu tersangkut dan tidak kembali ke laut. Setelah sebagian mereka menangkap ikan terrsebut ,mereka terbagi menjadi 3 golongan. Sebagian melakukannya, sebagian mengingkari perintahNya, sebagian lain tidak megerjakan.

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?”, apakah dengan membinasakan mereka atau dengan siksaan yang berat.”Orang-orang yang mencegah perbuatan tersebut berkata: “Kami menasihati dan melarang mereka itu: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabb kamu.” {QS Al-A’raf: 164} . Yaitu terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada kami dalam ber-amar ma’ruf dan nahi munkar , karena takut akan azab-Nya. “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka.” Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat.” Dan kami timpahkan kepada orang-orang yang dzalim siksaan yang keras, di sebabkan mereka berbuat fasik.” {QS Al-A`raf 165}. Sebagian yang teguh dalam ajaranNya terselematkan dalam adzabNya, sedangkan sebagian yang melanggar ketentuanNya terkena siksa yang pedih. Di kisahkan bahwa pada pagi hari keesokan harinya, salah seorang lelaki berusaha memasuki kampung dengan mengetuk pintu mereka, tetapi tidak membuahkan hasil, menaiklah ia ke atas tangga maka terkejutlah ia dengan apa yang terlihat. Sungguh mereka berlompat-lompat dan bersuara seperti sebuah kera.

Sebagian mufassir mengatakan bahwa bentuk keseluruhan mereka seperti kera hanya mata yang terpasanglah yang dapat membedakan bahwa mereka berasal dari manusia yang diadzab Tuhannya. Tertera pada {QS Al-A`raf :166} “Maka stelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka “ Jadilah kera yang hina”” Begitupula yang disingkronkan dalam {QS Al-Baqoroh : 65} “Dan sungguh kamu telah mengetahui orang-orang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu kami katakan kpada mereka “jadilah kamu kera yang hina””

Jadi bisa dikategorikan bahwa yang menjadi manusia kera ialah kaum yahudi yang melanggar. Dan salah satu jika mengatakan bahwa simpanse nenek moyang homo sapiens.

والله أعلم بالصواب
monggo di ktirik

*Penulis yang bernama lengkap Sarah lathoiful Isyaroh, adalah mahasiswi yang sedang merampungkan jenjang s1 nya di Unv muhammed V, rabat.

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar