Rencana atau Takdir, Manusia atau Tuhan?




Oleh: 
Afif Husen,
 Mahasiswa S2 Hassan II Casablanc

Materi khutbah, Rabat 19-12-14


Rencana bukan garis kepastian yang akan menawarkan kepastian dalam realitas. Rencana hanya ilustrasi visual dari ijtihad akal manusia yang hanya berlaku dalam dimensi akalnya, tidak dalam kenyataan diluar akalnya.

Secara rancangan rencana, seorang anak kecil akan masuk sekolah jam 8 pagi, dan pulang jam 3 sore. Dan setelahnya bermain bola dipekarangan belakang rumahnya dengan kawan kawan sebayanya. Rencana yang tersusun rapi dalam benak akal anak kecil itu, dalam realitas ternyata berantonim total. Pertama, ternyata si anak kecil bangun kesiangan jam 9, dan pulang sekolah jam 1, karena guru terakhir berhalangan masuk. Dan setelahya anak kecil tersebut tidak bermain bola karena mendadak hari hujan lebat.

Rencana bukanlah replika dari kepastian, karena kita bukan Allah SWT pemiliki kepastian. Kebanyakan dari kita, termasuk saya menyusun rencana layaknya menyusun garis takdir kepastian. Perencanaan dalam akal, kita posisikan layaknya takdir yang akan bergaris lurus dengan kenyataan. Kita menuhankan diri dengan fenomena rencana yang kita sejajarkan dengan takdir.

Kita boleh berencana, namun dengan tidak menjadikanya layaknya takdir. Kita hanya bisa berencana dalam ketidakpastian, yang mana soal kepastian dari rencana kita, biarlah Allah SWT yang mendesainya karena memang Dia pemiliknya.

Variabel peristiwa


Secara teori, jarak yang bisa ditempuh dari A ke B itu dua jam. Secara teori rencana, setelah 'begini' akan menjadi 'begitu' dsb dsb. Namun kita juga harus bisa menyadari sepenuhnya, bahwa dalam setiap peristiwa yang terjadi, adalah proses dari serangkaian variabel yang saling berkaitan.

Ini bukan soal kejadian antara A dan B saja, melainkan didalamnya turut andil dari serangkaian huruf alfabeta dari A sampai Z. Hanya saja, sudut nalar dan mata kita yang terbatas, sehingga yang terlihat hanya adegan A dan B saja dari sebuah peristiwa.

Rencana adalah upaya dari usaha manusia, sekaligus pembeda bahwa manusia bukan Tuhan. Dan rencana yang baik, adalah dari hal yang baik dan dengan tidak memposisikanya layaknya takdir, karena kita bukan Tuhan pemilik takdir. Dari sudut pandang kita, wajar saja jika kita beranggapan bahwa rencana kita adalah yang terbaik. Tapi kita tidak tahu bagaimana menurut ALLAH SWT sang pemilik dan pemberi kebaikan.

Insya allah


قال الله تعالى : ولا تقولن لشائ اني فاعل ذلك غدا، إلا ان يشاء الله.

Insya allah, bukan sebuah ungkapan atau alasan untuk mengingkari sebuah janji. Kita bersembuyi dalam lafadz insya allah untuk kebohongan janji kita. Padahal, Insya allah adalah upaya dari kerendah hatian manusia dan pembuktian, bahwa manusia hanya bisa sebatas berencana dan Tuhanlah penentu. Insya allah, adalah usaha untuk mereduksi kita sebagai manusia dari sifat sombong untuk tidak berkelekar layaknya tuhan dari setiap rencana. Karena sematang apapun rencana kita, meski itu bersebelahan tipis dengan realitas nantinya dalam benak. Toh pada akhirnya, Tuhanlah penentu dari rencana itu.

Memahami manusia dengan cara manusia


Sebagai manusia, kita harus bertingkah layaknya manusia, yang memiliki hati, memiliki nafsu, akal dan berjasad. Yang pasti dan harus pernah salah, yang pasti dan harus pernah berbuat baik. Orang baik itu bukan orang yang selalu berbuat baik. Tipe seperti ini hanya ada pada lembaran dongeng dan film fiksi saja. Karena realitasnya, tidak ada seorangpun yang senantiasa berbuat baik selagi ia masih dinyatakan manusia. Sekalipun itu seorang rasul, nabi, orang bertakwa, beriman ,kyai dsb yang takkan terlepas dari jeratan salah dan khilaf.

Kita harus bersalah dan sesekali berbuat tidak baik, karena kita manusia bukan Tuhan atau malaikat. Jika kita merasa senantiasa benar dan baik, saya hawatir bahwa kita sedang sakit. Atau minimal sedang menjadikan diri kita sakit.

الإنسان محل الخطأ و النسيان

Orang yang baik itu terkadang melakukan ketidakbaikan. Orang yang benar itu terkadang melakukan kesalahan. Namun ketidakbaikan dan kesalahanya ia ekspresikan dengan penyesalan dan berusaha untuk tidak mengulanginya kembali.

Orang baik tidak akan menganggap dirinya paling baik. Karena ketika dia menganggap dirinya paling baik, maka seketika itu juga dirinya bukan orang baik. Hanya orang yang tidak baik saja yang merasa dirinya baik. Begitu juga ketika orang merasa paling berilmu, maka seketika itu juga ia menjerumuskan dirinya dalam kebodohan karena ia, enggan untuk belajar lagi. Hakikat belajar tidak untuk menjadi seseorang pintar. Belajar, akan semangkin menyadarkan seseorang bahwa ia memang bodoh tidak tahu apa apa. Semakin dia belajar, maka dia akan semakin tahu bahwa dia memang banyak yang tidak tahu.

Terakhir, Tuhan, Engkau memang Maha tahu. Dan maafkan hambaMU yang terkadang bertingkah sepertiMU, yang menjadi sok tahu.


Penulis yang bernama lengkap afif husen asal cirebon ini, adalah santri s1 universitas imam nafie. dan sedang merampungkan jenjang s2nya di Univ Hassan Tsanie casablanca

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar