Mari Ambil Bagian Masing-Masing


Herdiansyah Amran*

Bapak Maqashid Syariah, Abu Ishaq Asy-Syatibi dalam karya masterpiecenya al - Muwafakat, pada pembahasan tentang maqashid As-syari' (tujuan Allah swt) dalam meletakkan syariah, berujar:

"Sesungguhnya syariat yang diberkahi ini terpelihara (Ma'shum) sepertimana pembawanya (Muhammad) saw dan umatnya yang bersepakat (berijma') terhadap sesuatu perkara juga terpelihara"

Sebagai penguat akan statemen diatas, sang pakarpun mengemukakan dua bukti penting sebagai berikut:

Pertama: Bukti yang sudah jelas termaktub dalam Al-Qur'an. Sepertimana beberapa firman-Nya berikut:

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" (QS. Al Hijr: 9)

"(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi" (QS. Hud: 1)

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya." (QS. Al-Hajj: 52)


Melalui serangkaian ayat-ayat diatas, Allah swt menginformasikan bahwa Ia akan memelihara dan mengokohkan ayat-ayat-Nya (Al-Qur'an), sehingga tidak akan termodefekasi oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab.

Begitu juga dengan hadist-hadist Nabi saw, walaupun tidak disebutkan pada teks ayat-ayat diatas, tetapi ianya sudah termasuk bagian dari Al - Qur'an. Karena kedua-duanya saling menguatkan satu dengan yang lain. Seperti firman-Nya:

"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Maidah: 3).



Abu Amru Ad-Dany dalam kitab "Tabaqat Al-Qurra" menceritakan dari Abi Al-Hasan Bin Muntab, ia berkata:

Suatu hari ketika saya berada bersama Al-Qady Abi Al-Ishaq Ismail Bin Ishaq, lalu seseorang bertanya kepadanya: Kenapa diperbolehkan terjadinya perubahan dalam Taurat sedangkan terhadap Al-Qur'an hal itu tidak terjadi? Lalu Al-Qady menjawab: Allah swt berfirman tentang ahli Taurat:

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya…." (QS. Al-Maidah:44).

Oleh karena Allah swt telah mewakilkan pemeliharaan kitab Taurat kepada mereka, maka terjadinya perubahan tersebut sangat memungkinkan.



Sedangkan terhadap Al-Qur'an Allah swt berfirman:

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" (QS. Al Hijr: 9).

Karena Allah swt sendirilah yang memelihara Al - Qur'an, maka terjadinya perubahan tersebut sangat tidak mungkin terjadi.

Begitu juga tentang kejadian-kejadian aneh ketika Nabi Muhammad saw diutus, dilarangnya para syaithan mencuri dengar pembicaraan para Malaikat tentang apa yang akan terjadi di bumi, tidak berdayanya para pakar bahasa Arab membuat satu ayat saja seperti layaknya Al-Qur'an. Semua ini merupakan bentuk pemeliharaan Allah swt terhadap keafsahan teks-teks Al-Qur'an. Pemeliharaan ini bersifat abadi sampai datangnya hari kiamat. Maka semua hal ini, merupakan bukti akan terpeliharanya syariah dari perubahan dan penggantian.



Kedua: Berupa realita yang kita temukan sejak zaman Nabi Muhammad saw hingga saat ini. Yaitu Allah telah menyediakan para penyeru ummat untuk memelihara dan membela syari'ah, baik secara universal maupun parsial.

Terhadap Al-Qur'an, Allah swt telah menentukan bagaimana Ia memeliharanya. Andaikan saja terjadi perubahan satu hurup saja dalam Al-Qur'an, maka Allah swt akan mengutus ribuan hafidz-hafidz cilik sebelum para hafidz-hafidz dewasa turun tangan.

Seperti inilah apa yang berlaku terhadap syariat secara universal. Allah swt telah menentukan para intelektual spesialis yang mumpuni dari setiap diskursus ilmu pengetahuan.



Sebagian dari mereka (kaum inteletual) tersebut ada yang pergi berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk mempelajari bahasa Arab. Sehingga mereka menguasai bahasa syariah (Al Qur'an dan Hadist) itu dengan baik. Karena bahasa Arab merupkan pintu pertama dari beberapa pintu yang harus dilewati dalam memahami syariah, dan karena syariah diturunkan dalam keadaan berbahasa Arab.



Allah swt juga menyediakan para intelektual (ahli bahasa Arab) yang meneliti tentang perubahan kata dalam bahasa ini, seperti cara bertutur dan tata bahasanya. Sehingga dapat memudahkan bagaimana memahami teks-teks Al Qur'an dan Hadist.

Allah swt juga telah menyediakan para cendekiawan (muhadditsin) yang meneliti tentang keotentikkan Nash-nash hadist Nabi saw melalui para periwayat yang kuat hafalannya, adil dalam menyampaikan hadist-hadist tersebut. Sehingga mereka dapat membedakan mana yang valid (shahih) dan mana yang tidak Valid (Maudu').



Begitu juga dalam hal menerangkan antara mana yang Sunnah dan mana yang Bid'ah,Allah swt menjadikan beberapa dari hambanya para peneliti tentang tujuan-tujuan syariah yang tertuang dalam Al-Qur'an dan hadist, tentang apa yang telah dilakukan oleh paraSalafusshalih, serta apa yang telah menjadi kebiasaan para Sahabat dan Tabi'in. Mereka menolak para ahli Bid'ah dan para pemuja hawa nafsu. Sehingga nampak mana diantara mereka aktivis kebenaran dan mana dari mereka aktivis hawa nafsu. 



Allah swt juga telah mengutus dari hambanya para ahli qira'at yang mempelajari bacaan Al-Qur'an dengan cara bertatap muka langsung dengan para sahabat. Lalu kemudian mereka mengajarkan apa yang telah mereka dapat kepada para generasi selanjutnya. Demi menjaga persatuan ummat terhadap apa yang ditulis dalam mushaf-mushaf Al-Qur'an.



Allah swt juga telah menyediakan sekelompok manusia sebagai pembela agamanya, melawan kerancuan dengan nalar intelektualitasnya, memikirkan tentang kerajaan langit dan bumi; menggunakan kemampuan nalar, mengandalkan diri mereka sendiri dalam meneliti sebuah objek penelitian siang dan malam dengan penuh rasa senang dan bahagia. Sampai kemudian, mereka menemukan keunikan ciptaan Allah swt yang ada di langit dan di bumi. Merekalah kaum yang mengetahi tentang penciptaan lalu menunaikan hak-haknya dengan baik. Jika ada yang membantah tentang agama Islam, atau ada seorang musuh yang mengkritisi apa yang ada didalamnya (agama islam), mereka akan melumarkannya dengan bukti yang tak terbantahkan. Maka merekalah para tentara Islam dan para pemilahara Agama.



Allah swt juga telah mengutus dari mereka para cerdik pandai yang mampu memahami apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Lalu kemudian mereka mengeluarkan hukum-hukum dari apa yang telah mereka pahami dari tujuan-tujuan syariah dalam Al-Qur'an dan hadist-hadist tersebut, baik berdasarkan teks (syariah) yang tersurat maupun yang tersirat. Sehingga dengan hal itu, mereka mampu menganalisa hukum-hukum kontemporer yang belum ada dalil jelasnya dalam nash-nash syariah. Lalu dengan metode yang mereka gunakan ini, para generasi selanjutkan tidak akan menemukan kesulitan dalam berinteraksi dengan permasalahan-permasalahan kontemporer (yang memerlukan keterangan hukum) selanjutnya.

Beginilah fakta dan realita yang terjadi di lapangan, apapun spesialisasi ilmu pengetahuannya, selama ia masih berkaitan dengan cara memahami syariah. Allah swt akan selalu mengutus dan menyediakan para pakar disetiap spesialisasi tersebut. Agar syari'ah ini tetap terjaga dan terpelihara sampai datangnya hari kiamat kelak. 


Pelajaran yang dapat dipetik:

Dari apa yang telah dipaparkan oleh Imam Syatibi diatas, kita dapat mengambil sebuah nasehat (ibrah) yang sangat berharga sebagai suplemen penggerak langkah kita meneruskan perjuangan suci Baginda Nabi saw.

Nabi yang tidak mewariskan kepada kita (umatnya) Dinar atau Dirham, tapi Beliau mewariskan kepada kita dua pusaka suci berupa Al-Qur'an dan Hadist yang harus kita pegang selamanya agar selamat dalam mengarungi kehidupan dunia dan akhirat. 



Agar kedua pusaka suci itu terikat kuat dalam pegangan, tentunya kita harus mempelajari dan memahami isi kandungannya dengan baik dan benar, sesuai dengan maqashid pemiliknya. Tidak ada cara untuk memahami kandungan kedua kitab suci itu dengan baik kecuali dengan menguasai bahasa tutur yang digunakan dalam kedua pusaka suci itu. Yakni bahasa Arab. Dikarenakan bahasa Arab hanyalah pintu pertama dari beberapa pintu untuk membuka kandungan-kandung dua pusaka suci diatas, maka diperlukan pulalah disiplin-disiplin ilmu yang berkaitan erat dengannya (dua pusaka suci), seperti ilmu tafsir, ilmu hadist, fiqh; dan lain sebagainya. 



Jadi, bagi kita yang saat ini sedang mengembara jauh meninggalkan Tanah Air untuk menggali dan memahami bahasa Arab dan beragam disiplin ilmu syari'ah lainnya, sudah saatnya menyadari bahwa Allah swt telah mengamanahkan pemeliharaan syariah-Nya dipundak-pundak kita.

Kita yang saat ini datang dari penjuru Tanah Air menuju Negeri penutur bahasa Arab sudah saatnya bangun dari tidur panjang, dan tegak berdiri meluruskan niat. Mengambil bagian kita masing-masing. Agar kita termasuk jundi-jundi Islam yang memelihara agamanya dari rongrongan musuh yang selalu mengintai di seluruh sudut ruangan. Lengah sedikit saja kita akan mati menggelepar. Mengenaskan. Tertelan racun serangga dunia yang menggiurkan.



Ambil segera pena-pena yang berserakan tertimbun kasur empuk dan selimut tebal itu. Rapikan segera kertas-kertas yang berhamburan tergadaikan oleh media-media sosial yang takkan ada hujung penghabisannya itu.

Gunakan kecerdasan otak yang dianugerahkan Tuhan itu dengan sebaik-baiknya. Agar ia tak beku oleh salju. Usang ditelan kemarau. Jangan sampai ia terkubur dalam keadaan original tak pernah terpakai.



Kawan, bukankah diatas telah diujarkan bahwa Allah swt memelihara syariat ini dengan pena-pena dan kertas-kertas, dengan kekuatan-kekuatan daya ingat otak cerdas yang Ia anugerahkan kepada hamba-hambanya yang terpilih. Ia tidak memelihara syariat ini dengan pedang, bukan juga dengan timah-timah panas yang dimuntahkan dari selongsong-selongsong peluru, apalagi dengan bom peledak massal.



Jadi, terakhir, dan sekali lagi. Mari ambil bagian kita masing-masing. Jadilah ahli-ahli bahasa Arab, Jadilah pakar-pakar Tafsir Hadist, jadilah montir-montir Fiqh Ushul dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Ambillah spesialisasi-spesialisasi itu dengan maksimal, jangan setengah-setengah. Agar kita termasuk dalam golongan ahli waris para nabi-nabi yang tak mewariskan dirham, dinar atau emas kepada setiap umatnya, tetapi yang mereka wariskan adalah sesuatu yang jauh lebih berharga dari semua itu, yaitu ilmu pengetahuan. Wallahu A'lam Bisshawab.



*Artikel ini merupakan terjemahan bebas dengan beberapa ringkasan, perubahan dan menyesuian teks dari kitab Al-Muwafaqat (berusaha) tanpa merubah intisari kandungan yang ada dalam kitab tersebut.



Jum'at, 29 Januari 2015. Pukul. 01:10 - dalam kebekuan malam Kota Merah.


*
Herdiansyah Amran, pria kelahiran asal Riau ini, sedang merampungkan jenjang Maternya di Univ. Qodi'ie Iyyad maraech.

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar