Wahabi dan Khawarij


Khawarij adalah satu sekte Islam yang awal kelahirannya merupakan kelompok yang protes atas ketidak setujuan mereka terhadap perundingan damai (tahkim) pada perang Sifin, antara kubu Khalifah Ali RA dan kubu Mu’awiyyah RA. Mereka menyatakan keluar dari keduanya dan kemudian berkembang menjadi kelompok ekstrim yang menyalahkan, mengkafirkan bahkan membunuh dan memerangi kelompok lain yang tak sependapat dengan mereka.



Sedang Wahabi adalah satu sekte Islam yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman Al Najdi. Ia lahir pada tahun 1115 H dan meninggal tahun 1206 H. Satu aliran yang kini telah menyebar ke berbagai Negara dan Arab Saudi sebagai pusatnya. 

Berikut adalah satu sisi pandangan tentang dua golongan di atas serta hubungan erat keduanya, yang berarti masih banyak lagi pandangan lain yang lebih atau semacamnya dan bahkan sama sekali berlainan.



Satu hal yang sangat mencengangkan adalah banyaknya persamaan antara kedua golongan ini terkait penyimpangan-penyimpangan mereka dari jamaah umat islam, sehingga seorang akademisi pun sering kali menilai bahwa keduanya adalah sama meski berjauhan masa.

Kesamaan – kesamaan tersebut antara lain:

1. Pernyataan Khawarij bahwa pelaku dosa besar adalah kafir, sedang Wahabi menvonis kafir orang muslim yang melakukan hal yang mereka anggap dosa [lihat Kasyfu Al-Syubuhat oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Tathhiru Al-I’tikad oleh Al San’ani]

2. Khawarij menvonis Daru Al-Harb (negeri yang halal diperangi) bagi daerah para pelaku dosa besar, mereka menghalalkan apa saja yang dihalalkan dari Daru Al-Harb pada masa Rasul saw, yakni halal darah dan harta mereka. Demikian pula dengan wahabi, mereka bahkan menvonis Daru Al-Harb terhadap negeri islam meskipun penduduknya orang-orang yang ahli ibadah dan amat salih sekalipun, manakala mereka memperbolehkan pergi ziarah ke kubur Nabi saw atau orang-orang salih dan mengharap syafaat.


Dari dua poin di atas terlihat bahwa Wahabi bahkan lebih parah dari pada khawarij. Kaum khawarij menilai dari sisi yang memang ijmak kaum muslimin menyatakannya tergolong dosa besar, sedang Wahabi dari sisi yang itu sama sekali bukan dosa, bahkan dinilai sebagai perkara yang disunahkan, sebagaimana dicontohkan oleh ulama – ulamaSalafussalih, baik dari golongan sahabat, tabi’in dan seterusnya tanpa adanya khilaf.


3. Ekstrimisme kedua belah pihak serta kejumudan dalam memahami agama. Melihat ayatinilhukmu illa liLlah, Khawarij menyatakan bahwa orang yang menyetujui Tahkim(perundingan damai antara kubu Ali ra dan Muawiyah ra) berarti telah melakukan syirik. Jargon mereka adalah laa hukma illa liLlah, sebuah kalimat hak yang diselewengkan. Ini adalah sebuah pendapat yang jumud dan amat tolol. Sebuah perundingan damai dalam sebuah perselisihan merupakan hal yang diakui dalam Alquran, akal sehat, dan juga dalam sunah Nabi, sirah beliau, para Sahabat dan Tabi’in. Demikian pula Wahabi, mana kala mereka membaca iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, man dzalladzi yasyfa’u ‘indahu illa bi idznih, atau laa yasyfa’una illa liman irtadha, mereka akan menyatakan; “Barang siapa memperbolehkan permohonan syafaat dari Nabi saw atau orang salih, maka ia telah menyekutukan Allah swt, barang siapa berziarah di makam Rasul saw dan meminta syafaat dari beliau berarti ia telah menyembah dan menjadikan beliau sebagai tuhan selain Allah”. Jargon mereka adalah laa ma’buda illaLlah (tiada sesembahan selain Allah ) , laa syafa’ata illa liLlah (tiada syafaat selain milik Allah). Kalimat haq yang diselewengkan. Ini adalah tindak kejumudan dan kejahilan kronis. Yang padahal hal-hal ini jelas jelas telah dicontohkan dalam Sirah para sahabat dan tabi’in, seperti yang telah dijelaskan terdahulu.


4. Ibnu Taimiah menyatakan, “Khawarij adalah bid’ah pertama dalam islam, mereka mengkafirkan umat islam dan menghalalkan darah mereka” [ kumpulan Fatwa Ibnu Taimiah, 13: 20] . Demikian pula Wahabi, adalah akhir bid’ah dalam islam.



5. Adanya hadits-hadits sahih tentang kaum Khawarij dan mencelatnya mereka dari agama, sebagian cocok dengan wahabi juga. Dalam hadits sahih diriwayatkan,: “akan keluar orang-orang dari arah timur yang mereka membaca Kur’an tak sampai melewati tenggorokan, mereka menncelat dari agama seperti mencelatnya anak panah dari busurnya, tanda mereka adalah menggundul kepala” [Sahih Al-Bukhari, Kitabu Al- Tauhid-bab 57 , hadits ke-7123 ]



Imam Qasthalani menjelaskan: dari arah timur, maksudnya adalah timur Madinah seperti Najd dan seterusnya. [Irsyadu Al-Sari, 15: 726, cetakan Dar Al-Fikr tahun 1410 H]

Najd adalah daerah awal munculnya Wahabi yang kemudian menyebar. Dan juga bahwa menggundul rambut merupakan syi’ar Wahabi, mereka menyuruh gundul para pengikutnya, tak terkecuali wanita. Syi’ar ini tak pernah tampak dari satupun ahli bid’ah sebelum mereka. Dari itu, sebagian ulama menyatakan: “Tak perlu menyusun kitab untuk menangkis Wahabi, cukuplah sabda Rasul saw, “siimahumu al-tahliq”, sesungguhnya hal itu tak pernah dilakukan oleh ahli bid’ah manapun selain mereka. [Fitnatu Al-Wahabiah oleh Muhammad bin Zaini Dahlan: 19]



6. Dalam sebuah hadits dijelaskan tentang khawarij : “Mereka membunuh orang-orang islam dan menvonisnya sebagai para penyembah berhala” [ majmu’ah al-Fatawa Ibnu Taimiah 13:32]. Persis kelakuan Wahabi, mereka tidak memerangi kecuali ahli kiblat; umat islam sendiri, tak pernah ada dalam sejarah mereka menyerang para penyembah berhala, atau paling tidak, berniat untuk itu. Bahkan, hal itu tak masuk dalam undang-undang dasar dan buku-buku mereka, sebaliknya, ia penuh dengan kewajiban memerangi ahli kiblat.



7. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar, tentang Khawarij beliau berkata: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang turun mengenai orang-orang kafir dan menimpakannya atas orang-orang mukmin” [sahih Al-Bukhari, kitab Istitabatu Al-Murtadin, bab 5]. Dari Ibnu Abas, Beliau berkata: “janganlah seperti orang-orang khawarij! mereka mengalihkan ayat-ayat atas ahli kiblat, yang padahal diturunkan mengenai ahli kitab dan orang orang kafir. Mereka tak tahu ilmunya, maka kemudian menumpahkan darah dan merampas harta”



Ini adalah kelakuan orang-orang Wahabi, mereka menimpakan ayat-ayat yang turun untuk para penyembah berhala kemudian menvoniskannya atas orang-orang mukmin. Hal inilah yang memenuhi buku-buku dan menjadi dasar madzhab mereka.



8. Diskusi antara Sunni dan Wahabi

Wahabi: Sesungguhnya kitab-kitab ulama Hambali adalah kitab-kitab Wahabi, Anda tidak mengingkari itu ? Anda tidak berhak memvonis kaum Wahabi kecuali dengan apa yang jelas-jelas Anda jumpai dalam kitab mereka. Apa yang dikutipkan lawan tidak bisa diterima.

Sunni: apa pendapat Anda tentang kelompok Qaramithah?

Wahabi: mereka adalah orang-orang Kafir Atheis

Sunni: sesungguhnya mereka mengklaim bahwa madzhab mereka adalah madzhab Ahli Al-Bait, kitab-kitab Ahli Al-Bait adalah kitab mereka juga, bukankan Anda tak menjumpai dari kitab-kitab mereka kecuali kebenaran dan cahaya(petunjuk) ?

Wahabi: sesungguhnya orang-orang Qaramithah telah berbohong, para ahli sejarah telah menetapkan kafirnya kaum Qaramithah dan dosa-dosa(penyimpangan) mereka.

Sunni: apakah Anda menemukan hujjah dengan mengutip dari para sejarawan?

Wahabi: ya, sesungguhnya Imam Syafi’I menjelaskan bahwa penukilan mereka, dari sekelompok orang kepada kelompok lain, lebih Ia sukai dari pada periwayatan seorang ahli hadits kepada seorang lainnya.

Sunni: jika demikian, berarti Anda harus menerima riwayat dari para sejarawan yang menyaksikan dengan jelas kekufuran-kekufuran dari Wahabi!

Kaum Sunni mendasarkan bahwa perbuatan seseorang adalah hujjah dan dalil atasnya meski lisan mengingkari, mana kala Qaramitah menghalalkan darah dan harta kaum muslimin, maka jelas sudah kekufuran mereka, demikian juga para pemuka Anda.

Si Wahabi sewot dan tak bisa berkata apa-apa…

Sunni : apa pendapat Anda berkait riwayat yang menjelaskan tentang Khawarij dan mudahnya mencelat iman mereka, sesungguhnya mereka adalah anjing-anjing neraka serta sejelek-jelek bangkai di bawah langit ini ?

Wahabi: sesungguhnya kesemuanya itu sudah menunjukan secara pasti tentang mencelat nya iman Khawarij dan mereka berhak mendapat murka Allah, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang telah dihabisi oleh Ali ra di Nahrawan, Wahabi tidak termasuk dari mereka.

Sunni: mengapa mereka berhak mendapat murka Allah? Apakah karena mereka telah menghina para sahabat, sedang salatnya saja bersama mereka, puasapun bersama dengan puasa mereka ?

Wahabi: tidak.

Sunni: apa karena kezuhudan mereka, kesederhanaan mereka, bacaan kur’an yang mereka nilai laksana gelas, dan ucapan mereka dari sabda sebaik makhluk? [dalam hadits, diterangkan : “mereka berkata dari sabda sebaik makhluk” yakni bahwa sesungguhnya mereka mengatakan kebenaran]

Wahabi: bukan

Sunni: lah, terus karena apa?

Si Wahabi pun mendadak gagap ….

Sunni : itu semua tak lain karena penghalalan mereka atas darah dan harta kaum Musli min, mengkafirkan mereka, serta pengklaiman bahwa merekalah satu-satunya umat islam. Tidak diragukan lagi, siapa saja yang memiliki sikap demikian itu, maka ia berhak mendapatkan apa yang didapat oleh kaum Khawarij itu.



Wallahu A’lam…

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar