Wanita dalam Garis Agama ( Refleksi dari resensi buku saatnya wanita memilih )




Judul : Saatnya Wanita Memilih (Upaya Syariat Melindungi Martabat)

Penulis : Nur Ihsan Shaleh, Zaenab Mahmudah El-Wahid

Penerbit : Khozinatul Ulum Press

Cetakan : II, Januari 2013

Tebal : 204 halaman

ISBN : 978-602-95177-9-1

Peresensi : Muhim Nailul Ulya*



Wanita, adalah manusia yang sepanjang historinya memiliki perjalanan yang panjang untuk memperjuangkan nasibnya. Betapa malang nasib mereka di zaman dahulu yang sama sekali tidak dianggap sebagai manusia. Bahkan lebih hina dari hewan. Wanita dianggap sebagai komunitas yang kotor dan menjijikkan. Keberadaannya yang tidak pernah dianggap itu mendorong mereka untuk menggemborkan emansipasinya. Beribu-ribu langkah telah mereka perjuangkan untuk menyetarakan garis perbedaan mereka dengan laki-laki. Baik dalam pengakuan entitasnya, pemberlakuannya, dan hukum-hukum yang diberikan kepadanya.

Dari beberapa problematika yang kita jumpai di atas, muncul sebuah karya yang menjungjung tinggi martabat wanita dan mencoba menganalisa beberapa adat dan tradisi yang selama ini disalah-pahami oleh masyarakat pada umunya. Buku “Saatnya Wanita Memilih” ini hadir untuk membangkitkan entitas kaum hawa yang sejauh ini sering dipandang sebelah mata oleh kaum adam. Pembahasan dari sisi yang terkecil yang tidak dinyana pun, dibahas secara rincidalam buku ini.

Dimulai dari sejarah wanita pra dan pasca datangnya Islam dikuak secara menyeluruh. Yang mana pada masa itu, wanita diperjual-belikan layaknya barang dagangan. Mereka tidak memiliki hak waris jika keluarga tersebut mempunyai anak laki-laki. Mereka hanya akan menerima harta warisan ketika ayah tidak mempunyai anak laki-laki. Yang paling tragis adalah berlakunya poliandri pada masa Yunani. Dan ketika masa Arab Jahiliyyah, wanita justru dijadikan barang warisan. Jika suami meninggal, maka anak tiri laki-laki tertua berhak mendapat ibu tirinya. (halaman 35-42).

Namun pasca datangnya Islam, hukum dan adat yang selama ini berlaku berubah total. Islam datang untuk melindungi, menjunjung tinggi derajat wanita, dan meluruskan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Ayat-ayat yang diturunkan menjelaskan secara terperinci hukum-hukum yang berlaku bagi perempuan. Jadi, segala tradisi yang sekian lama menindas kaum hawa yang tanpa dosa, diberantas dengan datangnya agama Islam yang rahmatan lil alamin.

Seiring perkembangan zaman, para kaum feminisme bangkit untuk lebih menyuarakan suara wanita. Akar kebangkitan wanita memiliki dua gelombang. Hal-hal yang diperjuangkan pada gelombang pertama antara lain; gender inequality, hak-hak perempuan, hak reproduksi, hak berpolitik, peran gender, identitas gender dan seksualitas. Setelah berakhirnya perang dunia kedua, lahir feminisme gelombang kedua pada tahun 1960 yang mana pada tahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya ikut mendiami ranah politik kenegaraan. (halaman 51)

Selain itu, hak dan emansipasi wanita dalam publik pun tidak ketinggalan disebut dan dijelaskan secara gamblang dalam buku ini dengan tidak melupakan landasan pijakan argumentasinya. Di antaranya hak kebebasan berpikir dan berpendapat, bekerja, kebebasan berpolitik dan belajar.

Menariknya, inti dari buku ini adalah seperti yang tertera pada judul; Saatnya Wanita Memilih. Selain memiliki hak yang telah disebutkan di atas, wanita juga memiliki hak untuk mencari pasangan. Wanita tidak hanya memiliki hak untuk mengungkapkan perasaannya pada seorang lelaki, tapi juga berhak menawarkan dirinya kepada laki-laki yang ia sukai. Hal ini didasarkan pada wanita di zaman Nabi yang mendatangi rumah nabi dan menawarkan dirinya untuk dinikahi. (halaman 112)

Kini, wanita tidak lagi termarginalkan oleh laki-laki. Hak-hak wanita telah terpenuhi. Entitas dari kaum hawa sendiri telah dihargai. Tidak bisa dipungkiri, di balik laki-laki yang sukses, ada seorang wanita di belakangnya. Dengan demikian, agama Islam telah membawa manusia menuju kesejahteraan yang hakiki.


*Penulis yang bernama lengkap Muhim Nailul Ulya, adalah Mahasiswi putri tingkat II , yang sedang merampungkan jenjang s1 nya di Universitas Imam Nafie Tangier, ya

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar