Kota Ceuta dan Peradaban Islam

ceuta

Kota Ceuta dan Peradaban Islam

Oleh: Arif Fadhilah*

Di tepi laut Mediterania tersimpan mutiara yang diperebutkan oleh banyak bangsa. Letaknya yang strategis di bagian Afrika ini menjadikan kota yang bernama Ceuta, kota pelabuhan dan pangkalan milliter. Begitulah sekilas Ceuta, kota Spanyol di bagian Afrika Utara ini dan berbatasan langsung dengan daratan Negara kerajaan Maroko ini, ternyata pernah merasakan adanya peradaban islam. Banyak ulama Islam yang lahir di kota Ceuta ini.

1. Asal mula nama

Asal mula nama Ceuta, yaitu pada masa kepimpinan dinasti Romawi kuno dan mengambil nama tersebut dari salah satu nama gunung di kota itu yang bernama Septem Fratres yang artinya tujuh bersaudara. Seiring berkembang zaman dan berbagai dinasti yang pernah berdiri di kota ini, nama kota ini berubah dari Septem-Sebtah-Seuta dan menjadi Ceuta dalam bahasa Spanyol.

2. Peradaban Islam

Islam pertama kali masuk di kota ini tahun 709 M atas penaklukkan Tariq bin Ziyad untuk membuka gerbang Andalusia dan kemudian berdiri berbagai dinasti seperti Dinasti Umawiyyah di Andalusia kemudian Dinasti Humudi, Dinasti Murabithin, Muwahiddin, dan Dinasti Mariniyin sampai wilayah ini direbut oleh penjajah Portugis dan kemudian diserahkan kota ini untuk dipegang oleh kerajan Spanyol sampai sekarang.

3. Ulama dari kota Ceuta

a. Syarif Idrisi

Lahir tahun 1099 M dan wafat tahun 1160 M di Sicillia, Italia. Nama beliau Abu abdillah Muhammad bin Muhammad al Idrisi al Hasyimi al Quraisyi. Beliau adalah penemu peta, pengagas ilmu geografi, dan ilmu teknik klasik serta pakar dalam sastra, syair, biologi, astronomi, matematika, filsafat, dan kedokteran.

b. Qadi Iyyad

Nama lengkap beliau adalah Abu Fadhl Iyyad bin Musa bin Iyyad bin Amrun bin Musa bin Iyad as-Sibti al-Yahsibi lahir di kota Ceuta 476 H dan wafat di kota Marrakech tahun 544 H .Salah seorang dari tujuh wali di Marakech, dan juga Qadhi bermazhab Maliki, pakar dalam fiqh, sejarah dan hadis. Karya beliau yang paling terkenal adalah kitab Sirah Nabawiyah yang berjudul as-Syifa bit-Ta’rif Huquqil Mustafa.

c. Ibnu Syaht as-Sibbti

Nama beliau Qasim bin Abdullah bin Syaht, Abu al-Qasim al-Anshari as-Sibti al-Maghribi al-Maliki, lahir 643H dan wafat tahun 723 H. Ahli fikih dan ushul.

d. Ibnu Rasyid as-Sibti

Nama beliau Abu abdillah Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Idriss bin Said bin Mas‘ud bin Hassan bin Muhammad bin Umar bin Rasyid al-Fihri as-Sibti. Beliau dikenal seorang pengembara, faqih, muhaddist adib, mufassir, dan sejarawan. Gelar beliau di timur arab dikenal dengan pencinta ilmu (muhibbuddin).

Lahir di kota Ceuta tahun 657 H dan wafat di kota Fes 721 H. Beliau berguru kepada Syeikh Abu Husain bin Abi Rabi’, ilmu nahwu dan qiraat saba‘ah, kemudian hijrah ke berbegai tempat seperti afrika, Andalusia dan ke timur Arab.

Disebutkan oleh Ibnu Khaldun di dalam buku sejarahnya, bahwa Ibnu Rasyid salah seorang ulama besar Maroko pakar dalam bahasa Arab dan ilmu riwayah dan sanad hadis.

Karangan beliau kebanyakan dalam disiplin ilmu riwayat dan sanad hadis, dan buku yang terkenalnya tentang perjalanan beliau selama mengembara ke berbagai Negara islam yaitu kitab: Mal Ula’ibah fiima Jama’a Thuuli lghibaah, fi Wijhataini al-Karimataini ila Makkah wa Thaiyyibah (6 jilid).

e. Abul Abbas as-Sibti

Abul Abbas Ahmad bin Ja’far al-Khazraji as-Sibti. Lahir di Ceuta 1129 M, wafat di Marrakech tahun 1204 M. Beliau termasuk salah seorang 7 wali kota Marrakech, juga ahli tasawuf

f. Malik bin Marhal Assibti

Lahir 604 H- dan wafat di kota Fes 699 H , seorang penyair dan sastrawan kerajaan pada masa dinasti Mariniyin

4. Kesimpulan

Begitu banyak ulama Islam dari Ceuta memberikan banyak kontribusi dalam keilmuan Islam maupun dunia, semoga kita bisa juga mengikuti seperti jejak mereka amin.

Sumber Rujukan:
1. Wikipedia
2. Asoasi Kebudayaan Islam kota Tetouan, Maroko, Ceuta dan perannya dalam Peradaban Islam (Cetakan bahasa Arab, Percetakan as-Syawikh Disbris, Tetouan: 1984).
3. Muhammad bin Tawit, Sejarah Sebta, (Cetakan Bahasa Arab, Dar Tsaqafah: Casablanca 1982).

*Penulis adalah Alumnus program S1 jurusan Dirosat Islamiyyah di Universitas Mohammed V - Agdal, Rabat. Penulis dapat dihubungi melalui FB: Arif Fadhilah

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar