Kau,, Apa Kabar?

Kau,, Apa Kabar?

Oleh: Mocha. Fitrohuddin A.*

Tawamu hadir sedetik setelah pembahasan tentangmu muncul. Beberapa kenangan terbawa imajinasi kembali memenuhi ruangan gelap ini. Mata yang sedari tadi sayu-lelah, kini terang menatap-merabai setiap sudut layar handphone HTC yang saat ini tergenggam. Kedua ibu jari yang sedang mengetik setiap tombol huruf kecil, kotak-kotak mencari namamu di kolom 'Search Facebook' terus mencari nama Account Facebook yang saat ini kau pakai. Kubuka nama itu, lalu ku'scroll' ke bawah mencari 'see friendship' antara kita berdua. Potongan-potongan status, dan foto-foto lama itu kunikmati sambil menyeruput kopi dan sedikit demi sedikit menghisap rokok NEXT yang murah itu. Kau tahu, berapa lama kita tak saling bertatap muka atau tak saling menyapa satu sama lain? Bagiku itu tak mengapa, karena aku tahu, kau sibuk dengan urusanmu dan aku juga sibuk dengan urusanku. Kau tahu kawan, musim dingin menghampiriku lagi. Di negeri yang kata orang memesonakan setiap mata pengunjungnya. Kebanyakan orang mengenalnya dengan sebutan "Negeri Seribu Benteng" atau "Negeri Senja". Memang, aku sendiri mengakui negeri ini memiliki senja yang begitu menajubkan dengan keindahan warna-warni langitnya yang cerah dan mempesona. Kau pun tahu itu, karena kaulah yang merayuku untuk melanjutkan kuliah disini. Malam ini pun dingin seperti waktu kita merasakan tahun pertama bersama, merasakan semua tubuh menggigil di dalam selimut tebal yang pengap. Hawa dingin yang menusuk membuat tulang kaku, kulit mengering, serta bibir yang pecah dibuatnya. Suasana ini mengingatkanku pada malam itu, malam pertama kali kau mengajakku mengunjungi rumah pertama sekaligus kota ketiga yang aku ketahui setelah Casablanca dan Rabat. Kota itu bernama Meknes. Kota tua yang termasuk empat kesultanan kerajaan Maroko setelah Fes, Marrakech, dan Rabat. Yang baru aku ketahui nama kota itu berasal dari nama suku Berber, Meknassa (kalau tak salah artinya sapu). Kota pertama yang aku rasai memiliki ketenangan dan keramahan setiap penduduknya. Kau tahu, kota tua itu berdiri resmi sejak pembangunan benteng oleh Dinasti Almoravid tahun 1063 M. Sempat mengalami masa keemasan di akhir abad 13, kota tua itu mundur di abad 15. Akibat pertarungan dinasti Almohad dan Merinid, serta berkembangnya kembali kota Fes. Hingga abad 17, kota tua itu mundur, sampai Moulay Ismail membangunnya kembali di abad 17. Moulay Ismail membangun istana megah yang sebagian materialnya diambil dari kota Romawi kuno, Volubilis. Kuharap kau mengingatnya seperti dulu kau menerangkannya kepadaku. Ah... masa itu. Masa dimana angan membumbung hingga tak terlihat rasa, cita yang selangit lebih tinggi dari asa. Kau tahu saat ini aku merindumu, aku yakin kau juga merinduku. Walaupun kita tak pernah saling mengucapkan rasa. Aku merasa malu jika aku harus menyapamu lebih dulu apalagi secara terang-terangan berkata “aku rindu padamu”. Kurasa kau pun juga begitu. Tapi inilah jalan yang aku ambil, jalan satu-satunya yang bisa aku tempuh untuk mengungkapkan kerinduanku. Kau tahu? Tulisan. Ya, hanya tulisan yang aku bisa. Karena sebagian besar orang berekspresi lewat jalan ini. Terlepas dari itu semua, kau pernah disini, menemani malam dinginku dengan canda tawamu. Bukannya aku sedih karena kau pergi, bukan juga aku marah kau tak menyapa. tapi rasa ini ada yang mengganjal, entah apa itu. Aah, yang jelas saat ini aku merindukan kalian bertiga (Punokawan yang dulu sempat membuat senyum Beliau). Aku tahu kau berhasil disana, menggapai cita-cita serta angan yang sempat kau damba. Kalau dipikir, ketimbang kau merana bersamaku di sini. Semoga umurmu yang bertambah pada saat tahun baru tepatnya satu januari nanti selalu diberkahi Tuhan kita, selalu mendapat manfaatNya, selalu dalam lindunganNya. Dan keluargamu, semoga senantiasa sehat–sejahtera seperti dahulu kala. Semoga...
Selamat tahun baru kawan, Selamat ulang tahun, Semoga…Semoga…Semogaku akan selalu ada. Sampai waktu mempertemukan kita kelak. Kau... Apa kabar?

*Penulis adalah mahasiswa program S1 jurusan Dirosat Islamiyyah di Universitas Ibn Tofail - Kenitra. Penulis dapat dihubungi via FB: Fitroh Mochammad

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar