Masalah Intern dan Ekstern Kuliah Di Luar Negeri


                         “Masalah Intern dan Ekstern Kuliah di Luar Negeri.”

    Sebelum memulai tulisan ini, perkenalkan nama saya Habibullah Alfikri, asal Kota Pekanbaru, Mahasiswa Semester 3 di Universitas Sidi Mohammed ben Abdellah Fes.
    Tulisan yang akan saya tuang disini merupakan secuil dari pemikiran saya mengenai masalah intern dan ekstern kuliah diluar negeri, walaupun sudah banyak tulisan yan mengulas hal seperti ini, akan tetapi marilah kita nikmati dengan santai beberapa pendapat saya.

     Sebagian orang di Indonesia menganggap  kuliah ke luar negeri adalah sebuah tujuan, tujuan mereka sejak dini. Termasuk saya sendiri, yang sedari kecil sudah diiming-imingi oleh orang tua dan didaftarkan ke sekolah yang memang prioritas alumninya melanjutkan ke luar negeri. Kuliah di luar negeri buat saya adalah suatu hal yang sangat berharga karena tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti ini.

    Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kuliah di luar negeri sekarang bukanlah hal yang sulit. Banyak beasiswa yang sekarang disediakan oleh Pemerintah Indonesia sendiri atau negara tujuan setiap tahunnya, baik melalui tes secara langsung maupun dengan seleksi  berkas. Dengan bekal tekad dan usaha yang kuat, kita bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri.  Tetapi apakah kalian sudah memikirkan apa yang akan kalian lewati dan hadapi kedepannya? Jangan hanya membayangkan indahnya sekolah di luar negeri, seperti jalan-jalan beserta hangout kesana kemari secara gratis dengan menggunakan beasiswa.  Sebaliknya,  kita harus juga memikirkan tidak enaknya kuliah di negara asing sana. Karena yang bakal kalian perlihatkan hanya kesenangan selama di luar negeri tanpa memperlihatkan kesulitan ketika kalian hidup di negara orang. Bukannya tidak mensyukuri nikmat Allah yan saya dapatkan ini, akan tetapi real fact harus kita dihadapi, kurang lebih seperti itu.

Berikut beberapa faktor atau masalah intern dan ekstern saat berkuliah di luar negeri

#1. Waktu
    Masalah pertama ialah waktu, karna waktu adalah hal yang paling utama dan terpenting. Sebelum saya berangkat untuk kuliah di luar negeri, saya sendiri memikirkan betapa berat dan padatnya jadwal yang akan saya tempuh pada saat saya kuliah disini. Namun nyatanya, jadwal kuliah yang saya dapatkan sejauh ini hanya di dalam beberapa hari saja, dari 7 mata kuliah dijadwalkan hanya 3 hari saja. Nah, bagaimana dengan waktu yang tersisa?, itu semua kembali kepada diri masing-masing, apakah ingin mengerjakan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri atau malah sebaliknya? Karena ada banyak faktor yang bisa melalaikan dan membuat waktu terbuang sia-sia begitu saja. Dari sana kita dapat menentukan pilihan kita masing-masing, ingin menjadi si rajin yang memanfaatkan waktunya atau menjadi si pemalas yang terlena oleh kosongnya.

#2 Bahasa
    Bahasa juga termasuk faktor yang sangat perlu diperhatikan jika kalian ingin meneruskan kuliah di luar negeri, karena bahasa adalah alat yang kita pergunakan dalam berkomunikasi maupun pembelajaran. Oleh karena itu, jauh- jauh hari sebelum kalian ingin melanjutkan study di negara yang kalian tuju, sebaiknya kalian telah menguasai bahasa  yang digunakan di Negara tersebut, karena tidak semu negara di luar bisa menggunakan bahasa Inggris atau yang biasa disebut dengan bahasa international itu. Well, marilah belajar banyak bahasa sedari dini.

#3 Budaya dan Watak
     Ketika kalian memutuskan untuk mengambil kuliah di luar negeri sebaiknya kalian telah mempelajari sedikit tentang culture dari negara yang kalian tuju. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu saya semakin terbiasa dengan bumi Maghrib ini, karena mayoritas penduduknya muslim, sekitar 99 dari populasi. Namun tak dapat dipungkiri bahwa watak masyarakat disini maupun perseorangannya adalah salah satu faktor yang membuat kita sulit untuk menyesuaikan dir.  Orang Maroko  berwatak keras dan jarang mau kalah, berbeda dengan warga tanah air yang mengedepankan diskusi dan toleransi.
Namun ini bukanlah masalah yang besar, karena kita mempunyai teman-teman seperjuangan yang berasal dari Indonesia juga.

#4 Makanan
    Karena makanan hal yang paling penting bagi tubuh, tanpa asupan makanan kita bisa mati kelaperan.Makanan di bumi Maghrib ini  jelas jauh berbeda dengan apa yang kita dapati di bumi pertiwi, tidak ada warteg yang biasa berjualan nasi telor campur orek di luar sana, dan tidak ada juga ibu-ibu yang berkeliling di pagi hari berjualan bubur ayam atau lontong seperti di Indonesia, yang ada hanyalah roti, roti dan roti. Namun karena tinggal dengan beberapa mahasiswa Indonesia, kita bisa bersama-sama menanak nasi dan makanan Indonesia lainnya di rumah atau kosan. Memasak menjadi keniscayaan bagi pelajar di luar negeri, karena tiap minggunya setiap orang mendapatkan jatah satu hari untuk memasak. Maka jangan kaget apabila merekayang tadinya tidak bisa masak,  dala  waktu relatif singkat menjadi ahli dalam hal permasakan.

#5 Pertanyaan : Setelah lulus kuliah ingin jadi apa? atau apa yang akan dilakukan ?
    Sebelum berangkat untuk berkuliah di luar sana, sebaiknya kita sudah menentukan target dan tujuan setelah menyelesaikan studi . Jangan sampai ketika semester terakhir baru berpikir, hendak kemana dan ingin menjadi apa? Karena dalam hidup kita harus memiliki tujuan dan target.  Maka sebisa mungkin sejak awal kita  menyusun rencana untuk  menggapai cita dan tujuan kita masing-masing. Karena bagaimanapun, selain berdoa dan bertawakkal, kita juga membutuhkan usaha untuk merealisasikan itu semua.

     Dari tulisan diatas dapat kita simpulkan, jika kalian ingin melanjutkan studi ke luar negeri sangat dibutuhkan persiapan yang matang, terutama dlam menghadapi kemungkinan- kemungkinan  diatas. Memang sekilas terlihat sebagai hal yang sepele, tapi pasti akan  terasa apabila kalian sudah memulai kehidupan diluar sana.

     Di penutup tulisan ini,  saya berpesan kepada  diriku sendiri dan kepada kalian, berusahalah sebisa mungkin, karena hasil tidak mengkhianati usaha yang kita lakukan. Sandingkan kemauan dengan usaha dari diri, karena penyesalan datangnya di akhir waktu,  dan jangan lupa untuk kembali, kembali ke Indonesia yang kalian cintai.

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar