"INTERNET, CYBERCRIME DAN PENGARUHNYA BAGI MASYARAKAT ZAMAN-NOW"


INTERNET, CYBERCRIME DAN PENGARUHNYA BAGI MASYARAKAT ZAMAN-NOW

Mendengar kata internet, apa yang pertama terlintas di pikiran anda? Penipuan? Judi on-line? Pornografi? Media sosial? Atau ladang dakwah yang membuat kualitas spiritual kita berkembang? Saat ini, kebanyakan orang akan lebih condong menganggap bahwa internet merupakan gambaran umum dari hal-hal yang berbau negatif. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menganggap bahwa internet merupakan sarana untuk penjahat era milenium untuk melancarkan aksi berupa kejahatan dunia maya, atau biasanya dikenal dengan istilah cybercrime. Sebenarnya apa alasan masyarakat memandang internet sebagai hal yang negatif dan menghubungkannya dengan tindak kejahatan dunia maya? Padahal nilai positif yang terdapat pada internet juga tidak kalah banyak. Lebih lengkapnya, mari simak ulasan dibawah ini.

Internet diketahui pertama kali difungsikan pada awal abad ke-20. Hadirnya internet bersama dengan peradaban manusia saat itu menimbulkan spekulasi bahwa perang dunia akan sepenuhnya musnah dari peradaban dunia. Memang, Departemen Pertahanan AS sebagai pengguna internet (saat itu ARPANET) pertama kali memfungsikan jaringan internet untuk keperluan militer. Pada saat itu mereka membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan.

Hingga pada tahun 1980-an internet mulai diperkenalkan secara publik. Mewabahnya penggunaan Personal Computer (PC) saat itu membuat berbagai pihak mengusahakan agar internet dapat digunakan secara global dan untuk berbagai keperluan. Dan setelah internet hadir untuk masyarakat, semakin banyak anggapan positif masyarakat terhadap fungsi internet bagi peningkatan kualitas moral manusia.

Pada akhir tahun 1990-an, penggunaan telepon genggam (HP) sudah merajalela. Berbagai perusahaan yang memproduksi telepon genggam pun mulai berfikir bahwa hadirnya internet di telepon genggam akan berdampak baik dari berbagai aspek, mulai dari aspek sosial hingga aspek ekonomi. Hingga NOKIA, salah satu perusahaan pembuat telepon genggam memproduksi NOKIA 7110, telepon genggam pertama yang dilengkapi fitur WAP untuk mengakses internet via telepon genggam. Setelah itu, berbagai perusahaan lain berlomba memproduksi barang serupa.

Saat itulah penggunaan internet di telepon genggam mulai mewabah. Berbagai spekulasi yang dimunculkan pendahulu tentang dampak positif internet mulai tampak secara nyata. Tidak sedikit kasus pencurian bank atau semacamnya yang pelakunya diringkus  dengan bantuan internet. Namun tentu saja, masih banyak aktivitas kejahatan yang terjadi di jalanan seperti pencopetan, penodongan senjata, dan sebagainya yang masih belum bisa diselesaikan internet. Hal itu karena keterbatasan jaringan dan fungsi internet itu sendiri.

Memasuki tahun 2007 keatas,  perusahaan-perusahaan besar semacam Apple, Samsung, Blackberry, Motorola dan sebagainya mengembangkan produksi smartphone, telepon pintar yang fungsional. Smartphone juga mendukung pengguna untuk mendapatkan akses internet yang maksimal dan fungsi yang beragam. Saat itulah penggunaan internet mulai ramai di salah-gunakan.

Mulai banyak situs di internet yang menyediakan akses bagi pengguna untuk berjudi secara on-line. Tidak sedikit pula pengguna internet yang mengakses situs-situs berbau asusila, seperti situs porno dan sejenisnya. Spekulasi pendahulu tentang pengaruh positif  internet bagi manusia mulai ternodai. Saat ini, internet mulai digunakan secara bebas dan tak terbatas. Sangat banyak ilustrator yang menggambarkan ironisnya kehidupan sekarang ini yang seolah manusia diperbudak oleh teknologi. 

Karena banyaknya rekam kejadian yang dilakukan secara maya dan tidak bersifat fisikal, muncullah istilah cybercrime atau kejahatan dunia maya. Jenis-jenis kejahatan yang tergolong cybercrime antara lain penipuan lelang secara online, pemalsuan cek, penipuan kartu kredit/carding, confidence fraud, penipuan identitas, pornografi, penyebaran berita hoax, dll.

Pemerintah Indonesia sendiri sejak dahulu hingga sekarang yang sedang berada dibawah pimpinan Presiden Joko Widodo menyatakan secara tegas dan nyata memerangi tindak cybercrime, baik yang terjadi dari dalam negeri atau di luar negeri. Salah satu bentuk perlindungan pemerintah terhadap warganya adalah dengan diberlakukannya UU ITE mulai tahun 2008 silam. Namun mendapat perlindungan dari pemerintah pusat bukan berarti kita sebagai Warga Negara Indonesia aman dari ancaman cybercrime. Masih banyak kejahatan dunia maya yang terjadi diluar pantauan pemerintah.

Seperti kasus yang sempat heboh beberapa tahun belakangan, beredar banyak sekali broadcast mail berupa tuntutan untuk mengirimkan sejumlah uang, baik dalam bentuk tunai, transferan, maupun pulsa elektrik, kasus ini di kalangan masyarakat lebih lazim disebut sebagai kasus “Mama minta pulsa”. Tidak sedikit pengguna internet yang tertipu dengan pesan ini dan mengirimkan sejumlah yang diminta. Hal ini tentu menyebabkan kerugian bagi korban, bahkan ia bisa saja tidak mengetahui sedikitpun identitas pelaku tersebut.

Tak hanya itu, ada juga kasus penipuan yang terjadi dengan kedok pelaku sebagai seorang pedagang. Kasus ini biasa terjadi pada transaksi jual-beli on-line. Salah satu yang paling ramai diperbincangkan adalah saat seorang pembeli memesan satu unit smartphone di salah satu situs jual-beli terkenal di Indonesia. Namun setelah sampai di tangan konsumen, bukan smartphone yang didapat, melainkan sebuah sabun mandi batangan. Beruntung ia masih dapat mengajukan banding dan mendapat uang ganti rugi atas kejadian tersebut. Kejadian penipuan seperti di atas secara langsung maupun tidak langsung akan menyebabkan rasa trauma dan enggan bagi pengguna untuk terus bersentuhan dengan internet. Bahkan bisa sampai menyebabkan stres dan depresi mendalam.

Kemudian yang marak terjadi beberapa tahun belakangan ini, dunia maya sangat diresahkan dengan kejahatan cyber lainnya berupa tersebarnya berita hoax atau berita tidak benar. Mungkin dari banyak kejadian kejahatan dunia maya yang terjadi, khususnya di Indonesia, kasus yang satu ini merupakan yang paling mendapat perhatian pemerintah hingga masyarakat. Presiden hingga Menkumham dan Menkominfo Indonesia berulang kali mengingatkan pengguna internet untuk berhati-hati dalam memilih berita yang didapat. Namun entah tak diindahkan, berita hoax selalu saja tersebar tanpa ada habisnya. Adapun dampak yang didapat dari munculnya berita hoax ini adalah menimbulkan fitnah, menebar kebencian antar-sesama, memvonis orang lain tanpa ada kejelasan, dan yang paling ditakuti adalah membunuh orang lain karena termakan berita hoax ini.

Pada akhirnya, berbagai spekulasi pendahulu tentang peran internet dalam memajukan nilai kemanusiaan terbukti tidak sesuai dengan realita yang terjadi. Internet yang diharapkan mampu membuat perang antar-kubu hilang dari dunia ini, menjadi jalan untuk memulai peperangan. Internet yang mulanya dinilai mampu meningkatkan moral dan nilai-nilai kemanusiaan ternyata menjadi alat penurunan nilai kemanusiaan itu sendiri.

Kita sebagai pengguna internet harusnya pandai memilah dan memilih hal-hal yang baik untuk dikonsumsi. Toh, internet tidak hanya kejahatan, internet bukan cuma berisi hal negatif. Masih banyak hal positif yang bisa kita ambil dari posisi kita sebagai pengguna internet. Bisa dilihat, berapa banyak muallaf yang mendapat hidayah melalui perantara internet, berapa banyak orang yang hijrah dari masa lalu yang kelam karena internet.

Oleh karena itu, ayo bijak dalam menggunakan fasilitas ini, ayo tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita dengan bantuan internet. Jangan biarkan internet mengatur kita. Internet hanya alat, internet hanya fasilitas. Jika kita semua bijak dalam menggunakannya, insyaallah internet bisa menjadi alat untuk menaikkan kembali nilai Islam di dunia ini, dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Amin.

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar