JUGUN IANFU

Dia lagi-lagi diam termangu di depan bangunan yang sudah lama tidak dijamah manusia itu. Sesekali merapalkan sesuatu di bibirnya. kepada korban Jugun Ianfu, Mbah Sukinah berdoa. Matanya meremang. Walaupun kejadian itu sudah lebih dari setengah abad yang lalu, ingatan itu selalu muncul ketika Aku dan Mbah Sukinah melewati bangunan tersebut. Beliau kali ini lebih tabah. Tidak lagi terisak-isak seperti dulu. Tapi di balik sorot matanya masih memancarkan kepedihan mendalam.
Pertama kali aku menemukan Mbah Sukinah ketika pulang kuliah menuju rumah sewaanku di lampu merah perempatan jalan. Saat menjelang petang. Ia sedang mengemis menengadahkan tangan kepada para penunggang mesin berjalan saat sedang berhenti. perawakannya berbadan bungkuk, rambutnya terikat seperti ekor kuda dan di dominasi dengan warna putih kelabu. Penampakannya terlihat payah dan kumuh seperti tidak terurus sama sekali.
Ketika lampu sudah hijau aku memutuskan menepi dan memberi Mbah Sukinah dua nasi kucing(baca: nasi bugkus) beserta gorengannya yang kubeli di kantin kampusku tadi.
“matur nuwun cung”  ucapnya.
Aku membalas senyumnya sebagai isyarat agar segera memakan nasi itu, melihat beliau lahap ketika makan membuatku berpikir, tua bangka seperti beliau seharusnya sedang menikmati masa senjanya, dan anak cucunya lah yang memenuhi segala kebutuhan beliau. Hingga saat beliau hanya menyisakan bungkus nasi itu. Aku bertanya tentang nama, alamat rumah, dan dengan siapa Mbah Sukinah tinggal.
“namaku Sukinah, aku sebatang kara cung.”
Hanya itu saja, beliau tak mengatakan apapun lagi, tapi sesaat kemudian beliau melanjutkan.
“aku mantan Jugun Ianfu”.
“gimana Mbah? Jubunnyapu?” tanyaku meyakinkan.
“Jugun Ianfu”.
Wajah Mbah Sukinah tampak murung setelah mengatakan itu. Aku tidak tahu mengapa dan apa yang terjadi. Bagiku kalimatnya barusan sangat asing di telingaku. Yang jelas aku harus membawanya segera ke kosanku. Tak tega aku pamit minta diri, meninggalkan si Mbah yang sedang bersusah fisik dan hati.
Aku beruntung sekali karena Rendi teman seperkosanku -yang terdiri dari tiga orang- membeli lumayan banyak lauk untuk santapan makan malam. Aku hanya akan menambah hutang lagi di warung jika Rendi tidak pulang membawa bungkusan lauk. Makan malamku cuma dua nasi kucing dan gorengan setiap malamnya, ini sudah menjadi pola hitungan pas untukku menghabiskan uang jajan.
Rendi membawa tiga ayam semur, dan sayur kangkung. Dan tak lupa dengan minuman susu coklat hangat yang biasa ia beli di warung Pak Sabar. Pernah suatu akhir pekan kami bertiga ingin menghabiskan malam minggu di warung Pak Sabar. Seperti namanya, warung itu membuat aku dan lainnya teruji akan kesabaran karena menunggu sangat lama. Tapi semua itu terbayar jika pesanan sudah disajikan.
“enak sekali cung ayamnya”. Tersungging senyum di bibir Mbah Sukinah, aku tak tahu pasti kapan terakhir kali ia tersenyum seperti ini, yang pasti ia tampak bahagia.
Kami bertiga sudah duduk di ruang tamu malam itu, ketika makan malam sudah disantap semua, dan bersiap mendengarkan kisah si Mbah Sukinah yang terlantar di pinggir jalan.
Mbah sukinah memejamkan matannya yang sudah tampak sayu karena tuanya ia. Seakan ia sedang menerawang jauh kembali ke masa lalu. Kami berdua hanya diam, tapi dengan mata mencermatinya, tanda bahwa kami siap mendengar dengan hikmat.
“gi..ni cung...”. beliau mulai berbicara dengan suara sedikit terputus-putus dan aksen yang kurang jelas. Lagi-lagi mungkin karena Mbah Sukinah sudah tua.
***
Mbah Sukinah lahir di Jetis pada tahun 1929. Ia adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Ayah dan ibu Mbah Sukinah bekerja sebagai petani di desa itu. Maka ketika ayah dan ibunya pergi keladang, Mbah Sukinah kecil yang mendapatkan amanah untuk mengasuh adik-adiknya di rumah. Suatu siang bolong tahun 1942, ketika orang tuanya pergi untuk menggarap sawah, serdadu Jepang datang menghampiri rumah Mbah Sukinah -ketika ia genap berumur 13 tahun- dengan niat menjadikannya Jugun Ianfu secara paksa karena ia selalu menolak ketika para serdadu Jepang menawarkan untuk bekerja dengan uang gaji yang banyak. Jugun Ianfu adalah wanita penghibur di masa perang dunia ke II untuk memuaskan nafsu seks para tentara Jepang di wilayah koloninya.
Pada masa pedudukan Jepang, masyarakat Jetis mengalami masa-masa sulit. Malnutrisi terjadi dimana-mana karena hasil bertani mereka diambil semua oleh serdadu jepang, ditambah musim kemarau yang tak ada habisnya menambah penderitaan mereka. Tak terkecuali dengan keluarga Mbah Sukinah, sungguh nikmat yang luar biasa jika dalam sehari mereka bisa makan, walaupun hanya sekadar ubi rebus pemberian tetangga. Pernah sekali mereka tidak makan sampai berhari-hari.
Maka ketika tentara Jepang itu datang, ia dengan tegas menolak tawaran Jepang, walau sedari lahir ia belum pernah menaiki kereta kuda yang diiming-imingi oleh Jepang itu, ia tetap pada amanahnya untuk momong adik-adiknya yang masih kecil.
Tentara Jepang mulai geram dan mulai memakai cara kasar. Mbah Sukinah ditampar,  dipukul berkali-kali dan diseret secara paksa untuk dibawa ke Ian-jo agar segera diperiksa tentang kesehatannya.
“gakmau! Aku gak mau!”
Jeritan Mbah Sukinah tak satupun direspon orang-orang desa. Tidak ada yang berani dengan zionis Jepang kala itu. Hanya ada suara jeritan dan tangisan kedua adiknya yang berada di pojok ruangan.
Ia dibawa ke tempat yang dinamai Ian-jo yaitu rumah-rumah bordir tempat pemuasan nafsu seks Jepang sekaligus tempat bagi para Jugun Ianfu tinggal, Mbah Sukinah merasa takut sekali, terpikir olehnya bagaimana kelanjutan nasibnya di hadapan, bagaimana kedua adiknya, dan bagaimana ekspresi kedua orang tuanya saat mengetahui dia diculik Jepang.
Mbah Sukinah disuruh masuk ke sebuah ruangan, semacam ruangan medical check-up, tapi tak bermartabat. Ia tak bisa berbuat apa-apa ketika para petugas medis menyuruhnya untuk bertelanjang bulat dan menggerayangi tubuhnya. Mbah Sukinah hanya bisa meringis dengan mengeluarkan air mata, pasrah dengan keadaan yang menimpanya. Ia semakin bergidik cemas ketika seorang petugas masuk dengan membawa suatu alat ke ruangan itu.
“tok,tok,tok” suara ketokan pintu dari arah luar sontak menyeret semua pandangan kami ke sumber suara.
“assalamualaikum”. Ternyata Herman-teman satu kosku yang ketiga- beringsut masuk memecah keheningan di dalam ruang tamu. ia baru pulang dari kuliahnya.
“waalaikumussalam” serentak kami bertiga, kami terbahak kali ini, karena kedatangan Herman yang tiba-tiba di tengah malam itu. Wajar saja dia pulang selarut ini, dia adalah asdos. Hampir setiap malam dia ngelembur di lab untuk bimbing praktikum. Selain itu Herman berasal dari gayo yang terkenal dengan kopinya. Dia bahkan jualan biji kopi gayo di kampus sebagai penghasilan sampingannya selain orang tua.
Ketika Herman selesai beberes diri, ia langsung kembali ke ruang tamu dengan teko berukuran sedang berisi kopi di tangannya karena sadar ada tamu di kosnya.
“monggo Mbah, kopinya diseruput”.
“saya air putih aja ya cung”. Pinta Mbah Sukinah, ia hanya haus bercerita cukup lama barusan. Dan aku sama sekali tidak sadar untuk menjamunya dengan minuman saat itu. Parahnya aku!.
“oh ya” jawab Herman sementara Mbah Sukinah melanjutkan ceritanya.
Petugas itu masuk dengan membawa alat terbuat dari besi yang panjang. Kemudian dengan alat itu, ia memasukkannya ke dalam alat vital Mbah Sukinah.  Dan jika alat ini ditekan, maka ujung dari besi tersebut mengembang dan membuka vagina menjadi lebih lebar. Dengan cocor bebek inilah bisa diketahui apakah calon Jugun Ianfu seperti Mbah Sukinah punya gangguan kesehatan atau tidak.
Mbah Sukinah yang saat itu terhitung usia belia. Pertama kalinya harus merelakan keperawanannya dikoyak-koyak secara paksa. Sukinah hanya bisa merintih kesakitan, tak sanggup menolak apalagi melawan 5 orang petugas medis yang semakin bringas menikmati setiap jengkal tubuhnya.
Setelah pemeriksaan, ia langsung diantar tentara menuju kamarnya yang tertulis dengan huruf hiragana. Di dalam kamar Mbah Sukinah menemukan banyak perempuan yang senasib dengannya. Mereka tampak sangat lemas dan kurus, ada yang terbaring di sudut ruangan tak berkutik sedikitpun saat Mbah Sukinah datang. Tidak ada tanda kehidupan padannya.
 “mungkin hidupku akan berakhir seperti itu” batinnya berucap.
Dan benar saja. Semua kekhawatiran Sukinah mulai terjadi.
Suatu hari para Jugun ianfu yang sekamar dengannya seperti biasa mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh dari tentara jepang. Mereka diperkosa secara paksa, dipukuli dengan tongkat kayu, ditendang, diperlakukan layaknya budak yang tidak punyak hak untuk membela diri, dan parahnya mereka dipaksa aborsi  jika ada yang hamil. Hal itu juga yang terjadi pada Mbah Sukinah, alih-alih diberi makan, ia justru dipaksa melayani tentara yang masuk ke kamarnya, mereka hanya membawa karcis untuk diberikan pada Jugun ianfu untuk dikumpulkan, kelak jika karcis itu terkumpul, ia bisa menukarnya dengan uang, tapi itu semua hanya omong kosong. Mbah Sukinah justru diperkosa paling sedikit 10 kali setiap harinya. Menghadapi setiap kisah suramnya setiap hari. Melihat temannya yang banyak meninggal karena kelaparan, dan sakit-sakitan, ada juga yang sengaja bunuh diri karena tidak kuat berada di kamar perusak fisik dan mental itu.
Malamnya, Mbah Sukinah akan melarikan diri, dengan ruangan sepengap itu, terdapat ventilasi udara dengan jeruji di sela-selanya. Jeruji itu sudah lapuk, Sukinah bisa mematahkannya dengan sisa kekuatannya dengan memanfaatkan kain yang dipakainya. Tubuhnya cukup muat disana. Ia bisa berangkat sekarang melalui ventilasi itu dan kabur. Sekitar satu jam perjalanan dari rumah bordil terdapat perumahan warga sekitar, Mbah Sukinah bisa meminta tolong pada penghuni rumah, dan bekerja disana sebagai imbalan. “Esok atau lusa aku meminta izin pada penghuni rumah dan langsung pergi dengan menyusuri jalan yang mengarah ke jalan protokol, pagi hari terdapat truk-truk yang biasa mengangkut kelapa sawit menuju pusat kota, aku bisa memintainya tolong  dan sampai di rumah dengan fisik utuh”.
“pelarian ini pasti berhasil” yakinnya dengan penuh optimisme.
Tetapi sejarah menuntut lain. Mbah Sukinah tak pernah bisa melaksanakan rencana pelariannya. Malam itu juga sekelompok tentara yang tampak mabuk datang ke kamar Mbah Sukinah dan datang kepadannya untuk meminta jatah. Mungkin terhitung 20 orang yang memakainya pada malam itu.
Dada Mbah Sukinah berderak kencang. Napasnya tersengal. Pipinya yang tinggal tulang basah benar. Aku mengelus pundaknya pelan. .
“sabar Mbah, sabar...” setelah sedikit tenang, Mbah kemudian melanjutkan cerita.
Mbah Sukinah  tergolek lemah tak sadarkan diri. Para pria buas itu mengiranya sudah mati dan enggan memakainya lagi. Mereka lalu membuang Mbah Sukinah ke semak-semak tempat biasa para korban Jugun Ianfu yang mati dibuang.
Nasib baik berpihak pada Mbah Sukinah ia masih bisa membuka pelupuk matanya saat lindap cahaya matahari pagi menjilat mukanya. Ia bahkan berhasil tiba di rumahnya setelah perjalanan panjang setengah hari bermodalkan tekad dan arahan dari penduduk setempat. Tapi Mbah Sukinah tak mendapati orang tua beserta adiknya di rumah.
Jetis, tahun 1945. Setelah berselang beberapa tahun sejak hilangnya keluarga Mbah Sukinah, kabar duka menghinggapinya karena mendapat kabar lelayu keluarganya dari tetangga. Bapak ibu Mbah Sukinah ditembak mati di rumahnya karena menolak memberikan bahan pangan di rumah. Kedua adiknya mati karena kelaparan karena tak ada yang mau dan bisa mengurus. Kabar ini didapatnya setelah jepang menyerah dan mundur dari wilayah koloninya karena kalah dalam perang dunia ke II.
Mbah Sukinah hidup sebatang kara sejak itu, bahkan bertahun-tahun setelahnya, tak sedikitpun uang kompensasi yang diberikan Jepang senilai 24 miliar sampai di tangannya. Ia menghidupi diri dengan mengemis dan memakan makanan sisa di pembuangan sampah. Panti jompo tak satupun mau menerimannya akibat dari eksploitasi dana oleh departemen sosial saat itu. Para eks Jugun Ianfu pun tidak bisa menempati panti jompo yang sudah seharusnya menjadi hak mereka.
***
Sore itu seperti biasa, di awal bulan aku selalu menjenguk Mbah Sukinah di panti jompo yang tidak jauh dari kosku. Dari panti jompo menuju tempat tinggalku pasti melewati Ian-jo; tempat dimana dulu Mbah Sukinah disiksa.
“nanti berhenti lagi di depan cung” pinta si Mbah saat kubonceng di belakang. Aku mengangguk sebagai tanda mengiyakan.
Dia lagi-lagi diam termangu di depan bangunan yang sudah lama tidak dijamah manusia itu. Sesekali merapalkan sesuatu di bibirnya. kepada korban Jugun ianfu, Mbah Sukinah berdoa. matanya meremang. Walaupun kejadian itu sudah lebih dari setengah abad yang lalu, ingatan itu selalu muncul ketika Aku dan Mbah Sukinah melewati bangunan tersebut. Beliau kali ini lebih tabah. Tidak lagi terisak-isak seperti dulu. Tapi di balik sorot matanya masih memancarkan kepedihan mendalam.

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar