Pinta Terakhir dari Cinta Pertama

 

  Setelah mengikuti test seleksi Kemenag dan dinyatakan lulus akhirnya aku bisa melanjutkan studiku berkuliah di Universitas Al-Azhar Kairo. Ini memang bukan cuma impianku tapi juga harapan kedua orangtua serta guruku. Akhirnya alhamdulillah Allah mengabulkan doaku. Tak terasa sudah H-4 keberangkatanku ke Negeri Kinanah. Seperti camaba yang lainnya aku mulai mempersiapkan apa saja yang akan ku bawa nanti. Tapi ada hal yang sedikit menyayat hatiku. Hari ini tiba-tiba ayah masuk rumah sakit karena jantungnya melemah. Perasaan sedih, galau, bercampur aduk dalam diriku, Bagaimana tidak ? Dalam kepergianku merantau aku harus dihadapi oleh situasi seperti ini. Seusai sholat selalu ku panjatkan doa untuk ayah. Tak terbendung, air mataku pun terus mengalir memohon pertolongan dan keajaiban pada Allah agar memberi kesembuhan pada ayah dan mempermudah segala urusanku. 

  Hari terus berganti. Tinggal H-1 keberangkatanku ke Mesir. Kondisi ayah memang sudah membaik namun dokter belum membolehkannya pulang. Tapi ayah meminta pada dokter untuk dibolehkan pulang, alasannya karena ingin mengantarku ke Bandara, aku begitu terharu. Sebenarnya aku tak masalah jika tidak diantar yg penting ayah sehat. Aku dan mamah melarang ayah untuk memaksakan diri. Tapi begitulah ayah tetap bersikukuh pada keinginannya. Mungkin ia ingin mengantar putrinya ini pergi tolabul ilmi. Akhirnya dokter mengizinkan, dan ayah bisa mengantarku ke Bandara. 
Detik-detik terakhir sebelum check in. Aku berpamitan dengan keluarga, mamah, ayah, dan aa. Ayah pun mencium kening ku dan berpesan agar menjaga diri baik-baik selama di perantauan dan selalu menjaga hafalan Al-Qur'an. Waktu nya tiba, aku mulai melangkahkan kaki menuju pesawat dan tak lama pesawat pun take off. 

*** 

  Setelah 15 jam perjalanan akhirnya untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Negeri Para Anbiya. Aku langsung mencari wifi untuk mengabari mamah bahwa aku sudah sampai, alhamdulillah senang sekali rasanya. Selama di Mesir minimal 1 minggu sekali aku menelpon atau video call keluarga ku, berbincang tentang apapun dengan ayah dam mamah entah itu sebentar atau lama yang penting rindu ini bisa sedikit terobati. Jika di hari biasa tidak sempat menelpon maka kami sering berbalas chat atau voice note lewat watsApp. 

  Waktu semakin terasa cepat berlalu, 5 bulan sudah ku lewati proses hidup di Negeri Perantauan, suka duka pastinya selalu mewarnai kehidupanku. Bulan suci pun tiba, Ini adalah Ramadhan pertamaku di Negeri Piramida, dan mungkin juga akan menjadi Idul Fitri pertama aku tidak berkumpul bersama keluarga. 
Meski begitu aku selalu bersyukur, ada teman-teman tercinta sebagai pengganti keluarga dirumah. Pada 3 malam terakhir Ramadhan aku dan teman-teman satu ma'had berziarah ke Alexandria, kota yang Indah nan kaya akan nilai sejarah. Kami juga berziaroh ke Makam imam Al Bushiri pengarang Sholawat Burdah lalu melantunkan beberapa bait burdah disana. Indah sekali rasanya. 
Tiba-tiba suara ponsel ku berbunyi, telpon dari mamah cepat-cepat aku angkat. Ternyata mamah memberi kabar kalau bapak masuk rumah sakit lagi namun dalam keadaan kritis, mamah minta aku banyak-banyak berdo'a untuk kesembuhan ayah. 
Deg... Tubuh ku tiba-tiba lemas memang semenjak aku SMA bapak sering keluar masuk rumah sakit tapi tetap saja hatiku teriris mendengar kabar ini, ingin rasanya ku menangis, tapi aku tahan karena aku tak ingin teman-temanku tahu. Aku tahan air mataku di depan makam imam Al Bushiri lalu aku berdoa kepada Allah untuk kesembuhan ayah. Tapi Allah ternyata punya rencana lain, Ia lebih sayang pada ayahku, nafasnya tak lagi berhembus, jantungnya tak lagi berdetak dan nyawa pun telah terpisah dari raganya. Ia telah dipanggil oleh yang maha kuasa. 
Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un. 
Setelah tahu kabar itu aku tak mampu lagi kuasa membendung air mata, teman-temanku langsung memelukku dan ikut berempati. Terlintas seketika dalam benak pesan terakhir ayah yang sempat dikirim lewat voice note, bergegas aku putar kembali vn itu. Beliau berpesan agar aku menjaga diri baik-baik, juga menjaga dan memutqinkan hafalan al-qur'anku, juga memperdalam ilmu tafsir, semangat mencari ilmu dan memanfaatkan ilmu karena Allah. Ya Allah... Tertampar sekali diri ini. Pesan itu benar-benar wasiat untukku dari ayah, cinta pertama ku. Seorang ayah pasti akan menjadi cinta pertama bagi putri nya karena ia adalah lelaki pertama yang merawat anaknya dengan penuh rasa cinta. Semenjak kejadian itu. Aku benar-benar menata niat kembali dan bertekad menjaga pinta terakhir ayahku tersebut, aku berjanji akan membahagiakan ayah meskipun ia telah berada di alam yang berbeda.

 4 tahun sudah berlalu. Ku hadapi lika-liku perjuangan menuntut ilmu di Mesir ini. Satu tahun yang lalu alhamdulillah dengan izin Allah aku dapat menyelesaikan hafalanku dan mendapat sanad dari dukturoh Nabawiyah yg menyambung sampai pada Rasulullah SAW. Tahun ini alhamdulillah aku bisa menyelesaikan studi S1 ku dan lulus dengan predikat Mumtaz. Syukurku tiada tara atas karunia Allah SWT. Dari sini aku belajar bahwa berlelah-lelah belajar, keyakinan do'a, dan kekuatan tekad itu akan berbuah keberhasilan "Proses tak akan pernah menghianti hasil" Itu yang sering orang-orang katakan dan memang benar kenyataannya. Saat berfoto disamping mamah, kakak dan adik-adik tercinta dalam hati aku pun bergumam. "terimakasih ayah, selalu menjadi motivator dalam setiap langkah hidupku. Semoga di surga sana engkau sedang tersenyum melihat keberhasilanku dan ini semua ku persembahkan untukmu ayah, lelaki yang menjadi cinta pertamaku".

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar