>S Dari Flu Spanyol, sampai hindia belanda | PPI Maroko
Qries

Dari Flu Spanyol, sampai hindia belanda



Oleh: Ahmad Hibban





Semenjak kemunculan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) pertama kali di Wuhan, China pada Desember 2019. Covid-19 telah menyebar ke berbagai negara di dunia. Sehingga pada tanggal 11 Maret 2020, World health Organization (WHO) menetapkan keadaan pandemi untuk Covid-19.

Pandemi berasal dari bahasa yunani : ‘’pan’’ yang artinya semua dan ‘’demos’’ yang artinya orang. Adapun penyakit pandemi adalah penyakit yang menyebar ke seluruh dunia.

Dalam catatan sejarah, salah satu penyakit yang menyandang keadaan pandemi adalah Pandemi Influenza 1918 atau yang dikenal sebagai Flu Spanyol. Penyakit ini terjadi dari Maret 1918 sampai Juni 2020. Penyakit Flu Spanyol ini disebabkan oleh Virus Influenza A dengan subtipe H1N1. Varian virus ini sangat mudah menular, sehingga bisa merebak ke berbagai benua dengan waktu singkat.

Menurut Frank Macfarlane, pandemi 1918 ini berasal dari Camp Funston, kansas, Amerika Serikat. Dan virus ini pun diperkirakan menyebar ke benua Eropa bersamaan dengan pengiriman pasukan Amerika Serikat ke Eropa. Ada yang berpendatan juga virus ini berasal dari Eropa, tepatnya Prancis kemudian menyebar  ke Spanyol.

Namun, tidak ada satu pendapat yang menyebutkan virus ini berasal dari Spanyol. Lalu kenapa virus ini dikenal dengan Flu Spanyol? Hal ini dikarenakan netralitas Spanyol pada perang dunia yang menyebabkan negara tersebut tidak melakukan sensor terhadap pers, sehingga publikasi mengenai virus ini pertama kali dilakukan oleh pers Spanyol.

Flu Spanyol termasuk wabah penyakit yang paling mematikan dalam sejarah umat manusia. Peneliti menyebutkan jumlah korban yang tewas akibat virus ini sekitar 20-50 juta orang, bahkan ada yang menyebutkan sampai 100 juta. hal ini juga patut dipertanyakan, karena pada saat itu terjadi perang dunia I yang menewaskan banyak korban, ditambah pelayanan kesehatan pada saat itu belum sebaik saat ini, sehingga pendataan korban belum tentu akurat.

Salah satu tokoh ternama yang menjadi korban flu spanyol ini adalah Max Weber, yang meninggal pada 1920 karena menderita pneumonia setelah terlebih dulu tertular Flu Spanyol.

Flu Spanyol sampai ke Hindia Belanda

Pandemi Influenza 1918 ini sampai ke Hindia Belanda (Indonesia) kemungkinan besar melalui jalur laut. Pada saat itu hubungan perdagangan antara nusantara dan China cukup kuat. Jalur perdagangan tidak hanya menjadi transaksi ekonomi dan budaya, namun juga menjadi pusat penyebaran penyakit. Dan pada saat itu, penyakit Flu Spanyol  sudah tersebar ke daratan China.

Pada bulan April 1918, konsul Belanda di Singapura telah memperingati pemerintah Hindia di Batavia  agar mencegah kapal-kapal dari China berlabuh dan menurunkan penumpang di sana. Akan tetapi, pemerintah konolial tidak menganggap serius peringatan ini dan tidak memperdulikan informasi perkembangannya.

Pada bulan Juli 1918, dilaporkan beberapa pasien Flu Spanyol sudah dirawat di rumah sakit Hindia Belanda. Jumlah pasien pun meningkat pada bulan Agustus dan September bahkan sudah merenggut korban jiwa. Dengan cepat, virus ini sudah tersebar ke berbagai daerah, seperti Surabaya dan Semarang.

Pemerintah kolonial pun mengambil kebijakan dengan membentuk tim dibawah kendali dinas kesehatan. Hal ini bertujuan untuk mencegah penyebaran Flu Spanyol dan upaya penyembuhannya. Tidak hanya itu, pemerintah kolonial pun menggunakan jalur birokrasi dan kesenian untuk memberikan pemahaman tentang virus ini sehingga dapat menyentuh penduduk desa.

Tidak diketahui berapa jumlah korban Flu Spanyol di Hindia Belanda, mengingat pemerintah kolonial baru melakukan sensus penduduk pada tahun 1920. Namun, menurut Collin Brown dalam ‘’The Influenza Pandemic of 1918 in Indonesia’’ menyebutkan korban Flu Spanyol di Hindia Belanda berjumlah 1,5 juta jiwa.

Kejadian ini pun menjadikan Flu Spanyol sebagai penyakit pandemi paling mematikan dalam catatan sejarah. Setidaknya hampir sepertiga penduduk bumi terjangkit penyakit ini dan memakan korban sekitar 20-50 juta. Dengan mempelajari sejarah, sepatutnya kita berjuang bersama-sama dalam menghadapi pandemi Covid-19 agar tidak mengulangi kejadian mematikan ini. Bukan hanya pemerintah, tim kesehatan dan aparat keamaan yang berjuang menghadapinya, tetapi kita juga harus berjuang, dengan patuh kepada kebijakan yang dibuat pemerintah untuk kebaikan bersama
#StayAtHome      #Dirumahaja        #Khelikfdar

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar