>S Menjadi “manusia” sebelum beragama | PPI Maroko
Qries

Menjadi “manusia” sebelum beragama

          

  Pelbagai macam masalah sosial yang di atasnamakan agama agaknya marak sekali diperdengarkan akhir-akhir ini. Dari yang skala kecil, seperti saling menghina antar manusia hanya karena berbeda pandangan agama, sampai ke “penghalalan darah” bagi mereka yang tidak sependapat dengannya. Dari yang melabeli diri mereka sebagai pemuka agama, sampai mereka yang notabenenya baru atau awam dalam masalah agama. Entah siapa yang benar dan siapa yang salah, entah dari sudut pandang yang mana mereka mengambil keputusan yang mereka buat.

            Lagipula dengan segala keruwetan masalah yang mereka perdebatkan, bukankah pada akhirnya mereka semua manusia? Maksudnya bukankah cukup menjadi “manusia” untuk bisa memahami bahwa menghina antar sesama adalah perbuatan yang pasti hati kemanusiaan kita menolaknya ? Apalagi perkara mudahnya menghalalkan darah seorang manusia. Belum lagi mereka yang duduk mengatasnamakan agama yang mengambil hak orang lain secara tidak sah, korupsi, dll. Pertanyaannya, mengapa kemanusiaan mereka tidak menolak perbuatan mereka tersebut? Apakah karena memang agama memperbolehkannya? Atau karena memang hati kecil mereka sudah tidak bisa membedakan mana baik dan buruknya suatu perkara?

            Sebelumnya, penulis ingin menjelaskan adanya perbedaan antara beragama dan agama. Agar tidak muncul pertanyaan seperti, bagaimana bisa agama sebelum rasa kemanusiaan?

            Agama (Islam) adalah sebuah kepercayaan (keimanan), ajaran, baik yang berupa keyakinan maupun amalan, yang datangnya langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala, melalui risalah Rasul-Nya shallallahualaihi wasallam, sebagai pedoman hidup bagi manusia. Sedangkan beragama adalah penerapan manusia atas kepercayaan serta ajaran tersebut. Maka ketika agama datangnya dari Dzat yang Maha Benar, beragama, datang dari manusia sebagai makhluk yang pelupa dan riskan akan datangnya kesalahan. Agama adalah tetap menjadi hal terpenting dalam hidup manusia karna ia adalah pedoman, sedangkan beragama adalah hal yang lain.

            Lantas bagaimana pandangan agama (Islam) terhadap rasa kemanusiaan? Dimana agama menaruh rasa kemanusiaan? Apakah memang serendah itu sampai mereka yang mengaku paham agama dengan lantang menghina mereka yang hanya sebatas berbeda pandangan dengannya? Atau itu hanya kesalahan beragamanya seseorang saja?

            Menimbang dan mencari tahu hal tersebut, Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam waktu itu pernah didatangi oleh seorang laki-laki non-muslim, seraya lelaki itu bertanya,

“siapa kamu?”,

“saya nabi”

“siapa yang mengutusmu?”,

“Allah subhanahu wa ta’ala”,

“dengan apa Dia mengutusmu?

“Ia mengutusku agar manusia menyambung tali silaturrahim, menghancurkan berhala, dan meng-esakan-Nya”

Jawaban Rasulullah shallallahualaihi wasallam kepada pertanyaan seorang lelaki ini memberikan gambaran kepada kita, bagaimana islam memandang tinggi rasa kemanusiaan. Padahal inti dari risalah adalah meng-esakan Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana firman-Nya.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ.( الكهف : 110)

“Katakanlah (Muhammad): Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa””

Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab pertanyaan “dengan apa Ia mengutusmu?” dengan mendahulukan silaturrahmi lalu menghancurkan berhala dan mengesakan-Nya. Menandakan adanya pengaruh penting rasa kemanusiaan seseorang kepada keimanannya.

 

            Hal ini sejalan dengan pendapat Habib Ali al-Jifri dalam bukunya, al-Insaniyyah Qobla at-Tadayyun, bahwa mendahulukannya penyebutan silaturrahim pada percakapan diatas adalah karena tanpa adanya rasa kesadaran manusia akan pentingnya menyambung silaturrahim, rasa kemanusiaan ini, akan membuat hati orang tersebut sebagai seorang manusia tidak utuh. Sedangkan hati adalah tempat bersemayamnya keimanan seseorang. Maka bagaiamana orang tersebut ingin memaknai ajaran-ajaran islam secara seutuhnya, sedangkan hati mereka sebagai seorang manusia tidak utuh? Padahal hati adalah tempat bersandarnya keimanan orang tersebut. Sebagaimana firman-Nya

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ (العنكبوت:49)

“Sebenarnya Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada manusia yang berilmu”

Maka agar tidak salahnya pemahaman seseorang akan ajaran-ajaran Islam (al-Qur’an), harus ada di dada (hati) seorang manusia seutuhnya.

 

Terakhir,dapat disimpulkan bahwa mereka, orang-orang yang mencaci maki, menghalalkan darah serta segala macam masalah kemanusiaan lainnya, yang mengatasnamakan agama, adalah mereka yang kurang tepat dalam beragama. Bukan agama yang salah. Namun cara mereka beragama. Kemanusiaan dalam diri mereka belum terpenuhi seutuhnya. Sehingga terjadi pemahaman yang kurang tepat terhadap ajaran-ajaran agama Islam. Maka dari itu mari kita kembali menjadi manusia yang “manusia” agar kita bisa beragama dengan seutuhnya. Wallahu a’lam.

 

 


PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar