>S Sang musafir yang melegenda | PPI Maroko
Qries

Sang musafir yang melegenda











Berawal dari rasa rindu ingin melangkahkan kaki ke tanah suci agar terpenuhi kewajibannya sebagai seorang muslim, telah menjadikan seorang Ibnu Battutah rela meninggalkan kampung halaman dan keluarganya di Maroko demi memenuhi hasratnya agar bisa beribadah ke Baitullah. Seorang pemuda tangguh 21 tahun pada abad ke 14 masehi, mulai menapaki jalanan yang panjang pada 14 juni 1325 dengan keledainya meninggalkan kota kelahirannya, Tanger.

Pergi seorang diri ke arah timur di sepanjang wilayah Afrika Utara, setelah beberapa pekan yang akhirnya Ibnu Battutah bertemu sekelompok kawan seperjalanan dan bersama para pedagang Ifriqiya (Afrika), ia akhirnya tiba di pelabuhan Aljir. Dalam perjalanannya menuju Makkah, ia sempat mengunjungi negeri Mesir, Palestina dan Suriah hingga hampir satu setengah tahun lamanya barulah ia bisa tiba ke tanah suci untuk melasanakan ibadah haji.



Tak ada yang tahu, seorang anak yang lahir dari keluarga suku berber pada tanggal 25 Februari 1304 dengan nama Abu 'Abdallah Muhammad ibn 'Adbadallah ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Lawati ibn Battutah atau Ibnu Battutah ini akan menjadi seorang musafir yang dikenal dunia. Setelah perjalanannya ke Baitullah, mulailah Ibnu Battutah berpetualang menuju Irak dan persia hingga pada 1328, ia menuju ke selatan mengunjungi Oman dan Teluk Parsi sebelum kembali ke Makkah melalui jalan darat melintasi Arab Tengah.







                                         

Perjalanan terus berlanjut menuju Asia kecil (Turki sekarang), Semenanjung Krimea (Ukraina sekarang), dan Sungai Volga selatan (bagian selatan Rusia sekarang), lalu menuju timur, seperti: Khawarizm, Bukhara, Kurdistan, Afganistan, dan India. Di India ia tinggal selama dekade dan kemudian ia menuju ke Kepulauan Maladewa hingga sampai ke pulau Sumatera dan singgah di kerajaan Samudera Pasai (kini Aceh) pada masa kesultanan malik Az-zahir. 2 pekan lamanya ia menjadi tamu sultan masa itu, hingga akhirnya ia melanjutkan kembali perjalanan ke negeri Tiongkok dengan perbekalan yang cukup dari sang sultan. Sama halnya dengan negeri negeri lain yang ia kunjungi, tak hanya sekedar singgah untuk bersenang senang menikmati keindahan negeri, banyak hal baru yang ia pelajari dari perjalanannya. Mulai dari sistem politik yang berbeda beda, banyaknya suku dan budaya yang ia jumpai, serta beberapa kemajuan hidup di beberapa negeri yang ia singgahi.

Hampir setengah dari hidupnya ia habiskan untuk berpergian mengelilingi dunia, perjalanan panjang yang dimulai pada tahun 1325 M dan akhirnya kembali ke Tangier tahun 1347 M yang sebelumnya ia sempatkan untuk melaksanakan ibadah haji keduanya ke kota Makkah. Tak hanya sampai disitu, pada tahun berikutnya Ibnu Battuta kembali melanjutkan perjalanannya melintasi Selat Gibraltar untuk tiba di kerajaan Islam di Granada. Pada 1353, beliau melakukan perjalanan terakhir dengan rombongan unta melintasi Gurun Sahara menuju ke Kerajaan Mali di kawasan Sudan, Afrika Barat. Hingga pada 1355, Ibnu Battuta kembali menetap di Maroko.

Rihlah Ibnu Batutah adalah rihlah yang paling luar biasa daripada semua pendahulunya.Jika dikalkulasi, total jarak perjalanan yang ditempuh Ibnu Batutah selama safarnya kurang lebih 120.000 Km dengan 44 negara yang kurang lebih ia singgahi. Perjalanan yang pada akhirnya dicatat oleh juru tulis kerajaan Maroko masa itu atas anjuran sultan Abu Inan Faris dari Bani Marin. Ibn Juzay akhirnya menyelesaikan tulisannya dengan judul "Tuḥfatun Nuẓẓār fī Gharāʾibil Amṣār wa ʿAjāʾibil Asfār", yang lebih dikenal dengan "Rihlah Ibn Battutah", banyak menjadi rujukan hingga ke negeri barat sana.

Lama perjalanan yang ia tempuh, dengan berbagai pengalaman serta cobaan ia lewati, hingga akhirnya nafas pun berhembus pada tahun 1368/1369 M di tanah kelahiran, Tanger. Berakhir sudah kisah hidup sang musafir, yang kisah perjalanannya menjadi keterangan penting kehidupan orang orang abad ke 14 kala itu. Tak sedikit pula yang mencari, jilid jilid buku banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa, hingga akhirnya dunia menyadari bahwa sosok Ibnu Battutah telah memberikan secercah bukti kehidupan manusia di bumi masa itu.

Allahua'lam bisshowab...

 

 

Referensi:

wikipedia.org. Ibnu Batutah. Diakses 22 juni 2020, dari: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Batutah.

Dunn, E. Rose. 2011. Petualangan Ibnu Batutah: seorang musafir abad ke 14. Yayasan perpustakaan obor Indonesia.

Republika.co.id. (06 Dec 2016). Jejak perjalanan Ibnu Batutah. Diakses 22 juni 2020, dari: https://m-republika-co-id.cdn.ampproject.org/v/s/m.republika.co.id/amp/ohq693313?amp_js_v=a3&amp_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA%3D#aoh=15927691481271&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Frepublika.co.id%2Fberita%2Fohq693313%2Fjejak-perjalanan-ibnu-battuta

Kisah muslim. Rihlah Ibnu Batutah. Diakses 22 juni 2020, dari: https://kisahmuslim.com/6435-rihlah-ibnu-batutah.html

 


PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar