>S Merawat Indonesia dengan Semangat Tenggang Rasa | PPI Maroko
Qries

Merawat Indonesia dengan Semangat Tenggang Rasa


        Rasa-rasanya kita telah kenyang dengan pembahasan semacam ini. Namun, isu tentang intoleransi di Indonesia makin hari makin nyaring kita dengar hingga hari ini. Tentu dikarenakan pemahaman tentang hal tersebut hanya sebatas angin belaka tanpa adanya implementasi dalam kehidupan nyata. Jika hal ini terus dibiarkan lambat laun pasti akan menyebabkan perpecahan bangsa dan menghambat kemajuan bangsa itu sendiri.

Di antara penyebab suburnya pertumbuhan intoleransi adalah aktivitas sosial kita yang terkesan seragam, hanya sebatas pada circle yang sama, lingkungan yang sama, komunitas yang sama, pergaulan yang itu-itu saja sehingga membatasi kita dari lingkungan luar atau secara tidak langsung kita membangun an exclusive room untuk diri kita, interaksi kita dan pola pikir kita. Akibatnya, rasa fanatisme muncul, merasa "paling bener", "paling tepat", "paling sesuai", yang lain salah, dan seterusnya.

Terlebih, kita sebagai pelajar baik di dalam maupun luar negeri, kita mencoba keluar dari comfort zone kita sebelum kuliah, yang awalnya berada di dalam lingkungan yang homogen, lingkaran yang sama, perbedaan juga tidak terlalu banyak dirasakan dan ketika kita sudah keluar, mata kita seolah terbelalakkan dengan heterogenitas yang tak sesempit yang kita bayangkan. Kita menemukan banyak realitas dan hal-hal lain yang sebelumnya belum kita temukan yang tentunya membutuhkan penyesuaian di lingkungan baru kita saat ini.

Selain itu, di antara sebab-sebab intoleransi adalah kurangnya pondasi, asas. Minimnya informasi dan pengetahuan. Contoh kecil saja dalam bidang fikih misalnya, kita sebagai pelajar Indonesia yang sangat akrab dan telah terbiasa dengan Syafi’iyyah-nya harus mampu menyesuaikan diri dengan Malikiyyah di tanah Maghribi. Jika awalnya kita telah memiliki pondasi bahwa ada banyak ikhtilaf fuqaha’, tentu dengan melihat realitas perbedaan yang kita temukan akan mampu merubah pemahaman yang kurang tepat dengan memandang sesuatu selain yang kita pahami, yang kita ikuti adalah salah. Pentingnya membaca, membudayakan diskusi, melebarkan sayap relasi, membuat kita lebih terbuka dan lebih menghargai, lebih memahami bahwa dunia tidak sesempit itu, sehingga nilai toleransi sedikit demi sedikit akan terpupuk kembali.

Poin penting yang harus kita pahami bersama juga bahwa belajar tidak hanya diartikan sebagai  proses pendidikan formal di bangku sekolah dan perkuliahan saja. Lingkungan baru pasti mempertemukan kita dengan banyak perbedaan seperti perbedaan bahasa, makanan, tatanan sosial, adat istiadat dan budaya masyarakat setempat bahkan keagamaan. Upaya memahami hal-hal tersebut  juga merupakan proses pembelajaran, menambah insight kita tentang keberagaman.  Dengan melihat dunia luar kita juga akan betul-betul bisa merasakan bagaimana berinteraksi dengan berbagai macam perbedaan. Terlebih kita sebagai seorang muslim, bagaimana non muslim memandang kita sebagai orang yang menganut nilai-nilai islam, mereka melihat perlakuan kita terhadap sesama yang secara tidak langsung mereka memahami agama kita melalui akhlak dan sikap yang kita tunjukkan. 

Lalu apakah ada kaitannya antara Islam dengan toleransi? Jelas ada. Islam datang membawa risalah untuk memperbaiki tatanan masyarakat. Nabi Muhammad SAW membangun kehidupan berpolitik dan bermasyarakat di Madinah kala itu di atas banyak sekali keberagaman. Namun mereka bisa tetap hidup bersama berdampingan. Adapun intoleransi yang muncul, maka kembali lagi apakah mereka sudah terbiasa hidup dalam circle-circle yang berbeda? Apakah mereka sudah memiliki pondasi dalam menghadapi perbedaan yang ada? Apakah mereka sudah mengambil figure yang tepat dalam kehidupan mereka? Maka hal itu kembali kepada pribadi masing-masing. Sangat tidak tepat jika intoleransi dikaitkan dengan agama karena agama diturunkan dengan mengajarkan nilai-nilai toleransi.

Sikap seseorang merupakan output, wujud dari apa yang ia dengar, apa yang ia baca, apa yang ia lihat, ia pahami dan ia rasakan, serta nilai apa yang membentuk pemahamannya terhadap kehidupan. Di samping kita berusaha untuk bercengkrama dengan dunia yang lebih kompleks, kita juga harus mampu memfilter pergaulan kita dan media pembelajaran kita. Hal ini penting sekali dilakukan karena lingkungan juga memiliki pengaruh yang besar dan jangan sampai kita sembarangan dalam mengambil ilmu dan pengetahuan. Kita harus memiliki standar, role model yang tepat, pembimbing atau guru yang bisa benar-benar mengarahkan pemahaman kita karena secara tidak langsung, kita akan terbentuk dari hal-hal tersebut. Khususnya sebagai santri, pasti sangat tidak asing dengan istilah “sanad ilmu”, dari mana ilmu itu didapatkan dan bagaimana pertanggungjawaban atas ilmu tersebut tidak lagi diragukan. 

Kembali pada topik utama. Di antara usaha kita sebagai generasi muda yang hidup di zaman serba ada dan kemudahan dapat diakses dari mana-mana, khususnya teknologi yang begitu cepat perkembangannya, tentu untuk menjaga agar semangat nyala api tenggang rasa itu tetap meyala, kita bisa berkontribusi dengan menjadi pengguna media sosial yang bijak. Dalam kasus meluasnya berita hoax saja, misalnya, data dari Kominfo, ada sekitar  800.000 situs yang terindikasi penyebar berita hoax.  Hal ini tentu sangat berdampak  terhadap para generasi milenial yang menurut survei data ada 94,4% yang terkoneksi internet. Pada tahun lalu, tercatat sekitar 175,5 juta pengguna internet dari jumlah populasi 286,5 juta penduduk. Maka perlu bagi kita untuk menumbuhkan kembali semangat berliterasi dengan tidak dengan mudah menyebarkan berita tanpa sumber dan kebenaran yang pasti. Dengan menggunakan sosmed sebaik-baiknya pasti akan dapat berdampak pada kebaikan tatanan kehidupan sosial yang ada di Indonesia. Karena kita memiliki potensi dan peran yang sangat signifikan dalam hal ini. Bonus demografi di masa mendatang memiliki dua mata pisau bagi negeri kita. Bisa jadi memajukannya, bisa pula menghancurkannya. Tentu ada di tangan kita, para generasi mudanya.

Kita semua adalah pemuda, yang masih memiliki tenaga fisik yang masih prima, semangat yang membara demi menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik. Teringat nasihat beliau, Yai Ilyas ketua HIMAMI beberapa waktu lalu bahwa kita adalah sufara’, interperetasi dari negara besar bernama Indonesia dimanapun kita berada. Kita menjadi agent dalam banyak hal. Agent bagi negara kita, agent bagi agama kita, almamater kita dan agent bagi segala hal yang merepresentasikan diri kita. 

Pesan guru saya yang memotivasi saya untuk berani menapakkan kaki di luar negeri adalah ayat Allah, “Siiruu fil-ardhi fandzuruu kaifa kaan, kaifa kaan..” 

“Nduk, ngluyuro, ben ora dadi wong gumunan. Wong gumunan nandakno dolan e kurang adoh.” 

(Nak, mengembaralah, agar tidak menjadi orang yang gampang heran karena orang yang gampang kaget dan heran menandakan mainnya kurang jauh.)

Semoga bisa diambil manfaat dari tulisan singkat ini. Juga menjadi pengingat diri sendiri agar terus belajar memupuk semangat menghargai perbedaan dan saling menghormati.

PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar