Qries

1741 Detik

 


“Atas nama Tia Nutella?”

Tia hanya mengangguk dan tersenyum tipis sambil membuka pintu kursi belakang mobil xenia hitam yang terparkir dihadapannya, ia memasukkan tote bag birunya terlebih dahulu, lalu tubuhnya. Hampir 10 menit Tia menunggu gocar nya tiba, beberapa mobil yg lalu lalang pun sudah ia amati nomor platnya dari kejauhan, mencari susunan angka dan huruf yang cocok dengan nomor plat yang tertera di aplikasi. Tia memang bukan tipe penyabar, ia tak suka menunggu, dan ia ingin cepat sampai rumah, membuka segel plastik dari buku-buku yang baru saja ia beli.

“Alamatnya sesuai titik ya mbak?”

“Iya. Pak Loki ya?”

Pak Loki hanya menjawab dengan anggukan. Hening dalam mobil. Memandangi jalanan dari sisi jendela kiri tempatnya duduk membuat Tia teringat sesuatu,

“Pak, nanti setelah lampu merah kedua ada klinik dokter Dilan dikiri jalan, mampir sebentar boleh? Saya cuma mau ambil resep.”

“Oh iya mbak boleh, ke klinik dokter Dilan ya?”

“Iya.” 

“Denger-denger dokter Dilan kurang bagus ya mbak?”

“Saya juga baru pertama di dokter Dilan, biasanya di dokter Milea.”

“Kemarin saya jemput penumpang dari sana, dokternya ga bagus katanya.”

“Hmm gitu… Tapi kadang saya bertanya-tanya loh pak, kenapa ada dokter yang ‘bagus’ dan ‘ngga bagus’, kalau masih ‘kurang bagus’ kenapa dibiarin jadi dokter?” Pak Loki tersenyum lebar sebelum menjawab,

“Yah kurang lebih seperti donat lah mbak, buat donat kan juga kadang ada yang bagus ada yang engga.”

“Tapi kan kalo donatnya ngga bagus ya ngga dijual dong.”

“Bukan ngga dijual, tapi ngga ada yang beli.”

Tia terdiam, metafora pak Loki benar-benar mudah dipahami bagi Tia. Pak Loki lalu melanjutkan,

“Lagian, kalau donatnya ngga bagus juga masih bisa dikasih topping yang cantik kan?”

Tia tertawa, “Kalau kata orang sih ‘jangan menilai buku dari sampulnya’, tapi orang-orang mah tetap aja begitu. Toh yang kelihatan kan emang sampulnya, kalau mau lihat dalamnya ya mana bisa cuma dengan penglihatan, kan harus kenal, harus dicobain donatnya.”

“Hahaha iya mbak orang-orang emang suka begitu, cuma liat ‘sampul’ dan bermodal ‘kata orang’.”

Setelah Tia dan pak Loki mengakhiri pembicaraan dengan tertawa bersama, mobil kembali hening. Tia pun mengambil salah satu buku yang masih bersegel dari tote bag belanjanya, memandangi sampul buku berwarna biru dengan gambar mahkota berlian selama beberapa detik, baginya membaca seperti travelling tanpa bergerak sedikitpun. Tia kemudian melanjutkan obrolan.

“Sebenarnya saya ke dokter Dilan juga bermodal kata orang sih pak, karena nenek saya cocok disana.”

“Mungkin penumpang saya kemarin emang suka donat rasa vanilla, sedangkan neneknya mbak suka donat rasa coklat. Semuanya tergantung selera kan mbak, cocok-cocokan.” 

“Menurut saya dokter Dilan bagus kok. Beliau ramah, cakap, sabar juga. Mungkin karena beliau dokter baru jadi masih sambil belajar dan menyesuaikan diri sama pasien.”

“Iya mbak. Donat kalau udah jadi juga ngga bisa diubah, sedangkan manusia masih bisa terus belajar.” Tia tersenyum tipis, sepertinya pak Loki penggemar berat donat deh. 

Tak lama kemudian mereka tiba di klinik dokter Dilan, Tia hanya turun sebentar, terhitung kurang dari 2 menit mungkin. Beruntung ia tiba saat tidak ada antrian. Selesai mengambil resep, Tia langsung bergegas memasuki mobil agar pak Loki tak menunggu lama.  

Hari mulai semakin sore, jam digital mobil menunjukkan pkl. 17.19, sudah sekitar 9 menit sejak Tia menaiki gocar pak Loki, senja diluar tampak indah dari kaca depan mobil, tanpa sadar membuat Tia tersenyum menikmati keindahannya.

“Cantik ya mbak langitnya, biasanya anak muda suka yang senja-senja begini.”

“Iya cantik, tapi saya lebih suka malamnya.” Pak Loki tertawa kecil mendengar jawaban Tia.

“Mbaknya kuliah dimana?”

“Saya kuliah diluar negeri pak, di Australia”

“Wah keren mbak, jurusan apa?”

“Hahaha iya saya juga merasa keren, saya ambil desain interior pak. Tapi biasalah orang-orang… ada aja mulutnya. Katanya cewek ngapain kuliah jauh-jauh, cewek mah didapur, inilah-itulah” Pak Loki terkekeh mendengar keluhan Tia. Tia pun masih lanjut mengoceh,

“Orang-orang terbiasa menstandarisasi orang lain sesuai standarnya sendiri, membutakan diri dari perspektif orang yang berbeda-beda. Apalagi perempuan, lebih rentan diskriminasi.” 

Pak Loki terkekeh lagi, “Ya begitulah mbak, dunia itu luas, pikiran orang-orang aja yang sempit.” Jeda sebentar sebelum pak Loki melanjutkan,

“Saya juga kuliah lo mbak, tapi didekat sini aja.”

Tia terkejut mendengar pernyataan pak Loki, atau lebih tepatnya terkagum, diusia beliau yang tampak sudah lebih dari 60 tahun dan beliau masih berjuang melanjutkan pendidikan.

“Kuliah disini juga sama aja mbak, saya malah dikatain umur segini kuliah ijazahnya mau dibuat apa nanti? Buang-buang umur katanya.”

“Ya ampun parah… Menurut saya bapak malah jauh lebih keren banget loh, Padahal kuliah ngga kuliah juga umur bakal bertambah, malah sayang kalau umur bertambah tapi kualitas diri engga.”

“Iya mbak, anak-anak jaman sekarang kuliah ngga jelas, Cuma buat gengsi, ijazah, kerja, cari jodoh. Makin jarang anak-anak muda yang mengerti dan mau nyari value-nya.”

“Saya engga begitu loh pak, saya malah jadi makin semangat kuliahnya. Bapak ambil jurusan apa?”

“Hahaha iya saya yakin mbak Tia ngga begitu. Saya ambil S-3 bisnis manajemen mbak, mumpung saya udah pensiun jadi bisa lanjutin yang dulu belum selesai.” Lagi-lagi Tia terkejut, S-3???

“Memang dulu bapak kerja dimana?”

“Saya dulu di kementrian luar negeri, bagian direktorat. Udah hampir 30 tahun mbak, saya bener-bener mulai dari bawah. Pasti mbak bertanya-tanya juga ya, kenapa sekarang saya jadi driver gocar?”

“Hmm… antara iya dan engga sih pak, teman-teman saya juga banyak yang liburan semester ini ngisi waktu luang dengan kerja part-time. Tapi saya penasaran cerita bapak.”

“Saya belajar mbak.” Hah? Tia tak mengerti dengan apa yang diucapkan pak Loki, apa hubungannya?

“Menurut saya, bertemu orang baru dan pergi ke tempat-tempat baru itu ‘double kill’, dapat pelajaran sekaligus pengalaman. Setiap orang itu unik dan berbeda-beda, saya banyak belajar dari setiap penumpang dan setiap tujuan. Pelajaran seperti ini kan ngga bakal ada di materi sekolah.”

Tia tak berhenti dibuat terkagum-kagum oleh cerita pak Loki selama 19 menit terakhir perjalanan mereka, mulai dari nasihat perkuliahan, saran kerja, pengalaman kerja, pengalaman hidup, hingga masalah percintaan dan lain-lain. Tia yang tadinya sudah mulai lelah dan muak dengan segala urusan perkuliahnya pun menjadi tercerahkan kembali. Ia semakin bisa jatuh cinta dengan apa yang diperjuangkannya sekarang, menemukan kembali hasrat dan bahagianya seperti bagaimana dulu ia memulai semuanya. Benar kata pak Loki ‘setiap momen akan menjadi kenangan, dan setiap orang akan menjadi pelajaran’. 

Mobil pun berhenti tepat didepan rumah Tia. Seperti biasa, Tia selalu memberikan upah lebih dari yang seharusnya, tak lupa dengan ucapan terima kasih yang tulus. Tia tak menunggu pak Loki selesai menghitung uangnya untuk keluar dari mobil, ia tak ingin uangnya dikembalikan. Tapi, baru saja Tia melangkahkan satu kakinya keluar mobil,

“Mbak, terima kasih ya” pak Loki tersenyum memandangi Tia. Baru kali ini wajah mereka berhadapan, keriput beliau tampak jelas tapi sama sekali tak menutupi sisa ketampanan beliau. Meneduhkan.

“Saya juga terima kasih banyak pak” untuk perjalanan, pelajaran, nasihat, dan bayak hal lainnya, terima kasih untuk ribuan hal yang tak terucapkan. Tia hanya mengulas senyum setulus mungkin, berharap apa yang ia dapatkan selama 29 menit ini terbalaskan dengan lebih banyak dan lebih baik.

“Oh iya mbak, Dilan itu anak saya, nanti saya sampaikan salam mbak untuk Dilan.”


 


***

Tia menutup buku birunya, sejenak ia memandangi sampul dengan mahkota berlian yang masih tampak cantik setelah 11 tahun berlalu.

“Nah, sudah ceritanya, jadi begitulah bagaimana ibu bertemu dengan kakek kalian, kakek Loki.”

04.09.21

-N


PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

6 komentar: