>S Menulis Kata Pertama | PPI Maroko
Qries

Menulis Kata Pertama

 


Sebelum mulai, saya mau menyampaikan dulu:

Catatan pendek ini sekadar opini saya. Pendapat pribadi berdasarkan pengalaman. Isi kepala, atau yang biasa Mbak Nada sebut sebagai “overthinking” sebab melihat dan memperhatikan teman-teman saya yang makin hari makin ‘mengkeren’ (read: semakin keren), dan saya di sini gini-gini aja. Ini bukan catatan serius, apalagi keren sebagaimana yang teman-teman saya hasilkan. Juga nggak semenyenangkan fiksi karya teman-teman saya yang lain.

“Overthinkingini sebetulnya sudah lama mengendap, agak-agak tenggelam di kepala saya. Sewajarnya barang yang agak tenggelam, kadang-kadang dia naik kepermukaan, menampakkan diri sebentar, untuk kemudian hilang lagi.

Saya awali dengan dua paragraf cerita, ya.

Saya pernah dengar, orang-orang yang belajar, biasanya sekaligus diberkati dengan salah satu kemampuan menyampaikan. Antara akan hebat dalam menyampaikan secara lisan, atau hebat menyampaikan secara tulisan.

Beberapa tahun lalu, saya sering terpaksa berbicara di depan umum. Menyampaikan apa yang sudah saya pelajari, menjawab pertanyaan-pertanyaan. Nggak lancar. Tergagap-gagap, mengulang-ulang, mbulet, dan banyak “hmm.. hmm..”-nya. Dari situ, saya kira jatah saya ada di bagian menulis.

Tapi, ternyata ya nggak.

Menulis, buat saya, ternyata adalah pekerjaan yang susah sekali. Merangkai kata, menyusun kalimat, menyampaikan maksud. Belum lagi memastikan apa yang saya tulis memang punya nilai.

Sahabat karib saya, seorang yang hobinya hidupnya menulis, pernah bilang: orang yang rajin membaca, tak berarti pasti bisa menulis.

Saya ingat, semasa saya kelas empat di sekolah dasar, selama setahun saya punya tugas membaca dan merangkum bacaan yang dikumpulkan setiap satu pekan sekali, sampai selesai satu buku. Waktu itu, saya pilih novel Laskar Pelangi buah karya Andrea Hirata. Novel yang luar biasa menarik, meski saya sesali karena membuat saya menyelesaikan tugas tadi lebih akhir dibanding teman-teman saya.

Selanjutnya, di kelas lima, tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia selama satu semester adalah menulis novel. Saya ‘dipaksa’ berkarya. Tugas yang menyenangkan, menurut saya waktu itu. Tapi ya itu, sama sekali tidak mudah.

Dari ingatan ini, saya menyatakan sepakat dengan pendapat sahabat karib saya. Meski pada prakteknya, dia lebih sering bersikap seakan menulis itu mudah, dan kemudian kami bertengkar ketika saya gagal menulis. Barangkali dia lupa bahwa tidak semua orang bisa semudah melihat postingan kawan di Instagram, auto-jadi inspirasi dan bilang “bisa ditulis nih”. Antara dia lupa, atau memang keren e ra umum, deng.S

elanjutnya, semasa saya SD juga, saya pernah mengikuti pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh sekolah. Narasumbernya Pak Pidi Baiq. Pesan dan kesimpulannya waktu itu: untuk menulis, kami hanya perlu segera menulis apa yang ada di pikiran. Urusan tata bahasa, belakangan.

 

Semacam itu pula yang saya dapatkan ketika mengikuti pelatihan menulis yang diadakan oleh Penerbit Mizan di Bandung. Cara latihannya sederhana, setiap peserta hanya perlu menyebutkan satu kalimat cerita untuk dilanjutkan oleh peserta sebelahnya, satu kalimat. Begitu seterusnya, sampai kalimat kami menjadi paragraf-paragraf, kemudian halaman- halaman.

Cara tersebut terbukti efektif untuk menulis cerita yang menyenangkan, asyik dan lucu. Setidaknya ketika latihan bersama.

Karena sampai sekitar 10 tahun kemudian (sama dengan saat ini), saya masih gagal untuk bisa menulis dengan mudah. Meski di kepala saya banyak hal yang mungkin bisa jadi modal. Sedih.

 

Sejauh ini, tulisan-tulisan yang saya lahirkan kebanyakan berbidan keterpaksaan. Seperti tulisanku ini yang adanya sebab paksaan Mbak Nada yang takut dimarahi Hanif, koordinatornya, sebab “Mingguan Menulis” lagi kosong.

Ah, gitulah.

Setidaknya, sedikit kesimpulan dari ocehan saya kali ini, kesimpulan dari belajar menulis saya selama ini, yang bikin saya tetap mencoba menulis:

Nggak ada tulisan menarik tanpa menulis kata pertama,

Sebagaimana nggak ada pembicara hebat tanpa kata pertama semasa kecilnya. Sebagaimana nggak ada kami di sini tanpa langkah pertama keluar dari rumah.


PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar