>S Keunikan Turost | PPI Maroko
Qries

Keunikan Turost

Mulai dari abad ke 8 sampai abad 13 masehi, islam sebagai peradaban yang maju telah memberikan banyak warisan. Mulai yang berupa materi, kebudayaan, keilmuan dan pemikaran. Misal univ qarawiyyin (858 M) universitas tertua dan pertama, sebagai salah satu warisan peradaban islam atau yang di istilahkan oleh para ulama’ dengan kata turost islami. Ngomongin masalah warisan dan budaya, ternyata kerajaan maroko termasuk negara yang paling menjaga eksistensi kebudayaannya. Mulai dari makanan, pakaian dan tak lupa pastinya, Al-Qur’an dan hadis atau sunnah sebagai turost muqoddas (turost yang sakral) seperti pendapat dari Taha Abdarrahman, seorang ulama’ juga filsuf dari Al jadida dan dari kedunya lah timbul warna warni keilmuan dan pemikiran islam (turost).

Al qur’an dan hadist sebagai turost muqoddas telah di perbincangkan oleh para ulama’ mulai dari dulu hingga sekarang. hal ini dapat di ketahui dari banyak nya cabang ilmu yang merujuk atau di ambil dari keduanya. Seperti usul fiqh, ilmu hadist, ulumul qur’an, nahwu sorof tentunya dan masih banyak lagi. Namun yang menjadi persoalan sebagai salah satu cara mencari kebenaran adalah, apakah kemurnian itu semua sebagai turost bisa di percaya, diyakini kebenarannya? Ya, pernah kepikiran kan. Bukan tidak mempercayai Al-Quran yang ada di depan kita, tapi supaya menambah keyakinan diri kita. Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus menelik dua puluh cabang keilmuan lebih yang berhubungan dan menjawab pertanyan ini. Misal ilmur rijal, ilmu jarh wa ta’dil, ilmu Riwayat, ilmu tahammul wal ada’ dan masih banyak lagi ilmu-ilmu yang lain yang bisa menjawab isykal yang tidak berdasar di atas.

Syaikh Ali Jumah mengatakan, tidak ada di muka bumi ini suatu kitab yang mempunyai sanad muttasil seperti Al-Qur’an dan setiap qori’nya menyebutkan (baca:menceritakan) “saya mendengar bacaan ini begini setiap hurufnya satu-persatu tulisannya begini dari guru saya yang lahir pada hari ini dan wafat pada hari ini, kebiasan beliau seperti ini, akhlaq beliau seperti ini, beliau pernah mengatakan seperti ini, menyebutkan sejarah hidupnya secara sempurna (untuk lebih meyakinkan) dan beliau mengatakan : saya mendengar dari guru saya, dari gurunya dari gurunya…. secara bersambung. Tidak ada seorang pun yang tidak di ketahui ” dan kita pada detik ini pun mengetahui setiap orang-orangnya, bahwa penukilannya bisa di pastikan kebenarannya, dan bahwa juga tidak berpatokan pada satu orang sehingga bisa berdusta, di dustakan atau di anggap lemah, sehingga tidak begitu meyakinkan, tapi pada seribu bahkan beribu-ribu orang dari masa ke masa setelanya. Ibn Al Jazari dalam kitabnya an nasyr fi qiroat al asyr menyebutkan, hampir seribu sanad Al-Qur’an ini Riwayat satu orang Al Jazari begaimana dengan ulama yang lain? Pembahasannya lebih besar dari apa yang di pikirkan.

Itu semua bukan suatu yang kebetulan pastinya. Tidak lepas dari janji allah swt untuk menjaga kemurniannya surah Al Hijr ayat 9. Imam Al Maroghi dalam tafsirnya mengatakan dalam menjelaskan ayat tersebut “Allah sudah berjanji akan menjaga agama ini, pasti di setiap masa ada orang-orang menghafalnya, yang mengkaji kebenarannya juga menyelami lautannya sehingga bisa mengeluarkan Mutiara yang terkandung di dalamnya” mari kita bandingkan dengan kitab-kitab yang lain, taurot? Ibn Hazm Al Andalusi mengatakan taurot itu Cuma mempunyai satu jalur periwayatan, punya satu sanad, Cuma satu orang, yang kalo di hitung zaman antara dia sama musa sekitar seribu tahun. Seperti halnya Injil yang nuskhoh aslinya sudah hilang di telan zaman, dan yang ada sakarang itu terjemahannya dengan Bahasa Yunani, lantas siapa yang menerjemahkan? Seperti apa orangnya? Sanad ke orang tersebut?.

Berbiacara masalah sanad teringat cerita imam Bukhori, gak asing lagi kan dengan ulama yang satu ini, seorang pakar hadist yang tidak ada duanya, di ceritkan bahwa imam Bukhori rela bepergian jauh ber bulan-bulan (karena minimnya transportasi pada zaman tersebut) demi mendapatkan satu hadist. Satu hadist lohh bukan satu ilmu. Pada suatu hari beliau mendatangi seorang rawi hadist untuk mengambil sanad hadist yang di dengarnya dari rawi tersebut. Pada saat itu imam Bukhori melihat rawi tersebut sedang memegang rumput seraya ber isyarat memberi makan hewannya. Namun ketika hampir dimakan rumputnya di buang, gara-gara kejadian tersebut imam Bukhori tidak meyakini hadistnya, dan mengatakan “sungguh kau sudah bohong pada hewan itu” dari itu imam Bukhori tidak mempercayai rawi tersebut karena teringat hadist Nabi SAW. Bahwa Nabi Ketika melihat seorang perempuan memegang kurma seraya memberi makan pada anaknya. Namun Ketika anak tersebut menghampirinya perempuan tersebut tidak memperbolehkannya. Nabi SAW mengatakan “kalau kau tidak membolehkannya maka kamu berbohong” mungkin imam Bukhori ini adalah gambaran dari ayat yang di atas.

Dari sisi lain, manhaj ini dalam menjaga kemurnian nash sangat berdampak sekali bagi peradaban islam, seperti yang kita lihat. Bukan hanya Al-Qur’an dan hadist saja yang ada sanadnya, pun juga buku-buku yang di karang oleh ulama’ terdahulu, ada istilahnya ilmul astbat wal asanid. Sehingga sebelum membaca suatu buku biasanya kita melihat siapa yang mengarangnya? Sanad keilmuannya kemana?. Atau kalau zaman sekarang, Lembaga mana yang mencetak? siapa muhaqqiqnya ? dll. Sampai kita yakin bener dan bisa mempercayainya, dan dari situlah jelas agama atas segala sesuatu yang di cakupinya bukan hal yang sepele atau bisa dimain-kan.

Akhiran, ironisnya adalah tidak sedikit dari pemikiran di atas (juga termasuk turost) yang kita tidak sadar atas kehilangannya. Sehingga terkadang kita punya banyak pengetahuan tapi kita tidak punya ilmu. Pengetahuan itu satu perkara, kalau ilmu itu suatu pola yang mencakupi banyak perkara. Jadi beda antara orang alim dan orang berpengetahuan. Terkadang orang punya pengetahuan dalam suatu bidang tapi dia tidak dikatakan alim dalam bidang tersebut. Tapi bagaimanapun juga, peradaban islam (Hadloroh islamiyah) itu tidak mati tapi bisa dikatakan “tidur” , wallahu a’lam.


PPI Maroko

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko adalah organisasi kemahasiswaan bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kerajaan Maroko. Perhimpunan ini diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Dr. Boer Mauna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar